
Hari ini ketiganya menghabiskan waktu di pantai Maldives yang menjadi tempat destinasi honeymoon yang mengarah ke liburan mereka. Terlihat Adnan dan Shana bersenang-senang dengan air, bermain pasir, kejar-kejaran, dan sekarang mereka sedang tertawa bercanda dari dalam air laut dengan saling berpelukan. Bukan mereka bertiga, tapi hanya sepasang selingkuhan yang saling mencintai. Dan Airin hanya duduk berdiam diri di tepi pantai dengan memperhatikan suaminya bermesraan dengan wanita lain.
Bukan keinginan gadis itu untuk tidak ingin beranjak dari sana, melainkan keinginan suaminya yang memaksanya dengan keras untuk tidak merusak moment romantis dirinya dan sang kekasih.
Alhasil Adnan meminta dengan paksa Airin untuk berdiam diri duduk di teduhan bawah pohon kelapa, tidak boleh kemana-mana, karena jika mereka terpisah, Adnan juga yang akan dipersulit untuk menemukan Airin di luasnya pulau ini, dan dia tidak ingin dibuat repot serta membuang waktunya yang berharga dengan kekasihnya.
Airin beranjak pergi ketika pandangannya menatap suaminya dan wanita itu saling memeluk dan bercumbu. Airin kembali memegang dadanya yang terasa sesak dengan mata berkaca-kaca. Dia memutuskan kembali ke kamarnya, tidak peduli harus menuruti perintah suaminya. Biarkanlah suaminya menghabiskan waktu berdua dengan selingkuhannya itu.
Malam tiba.
Seseorang membuka pintu kamarnya. Airin menghampiri suaminya yang baru saja menutup pintu.
"Tuan! Kau sudah selesai jalan-jalannya?" Tetap memberikan senyum manis pada suaminya.
"Kenapa kau kembali lebih dulu?!" Tanya Adnan berbalik bertanya.
"Emm,,, Aku..."
"Kau Cemburu?!" Tanya Adnan.
"T-tidak..." Jawabnya dengan menunduk, tidak berani menatap suaminya yang juga menatapnya tajam.
Adnan mencengkeram kedua bahu Airin, membuat Airin ingin tidak ingin harus menengadahkan wajah menatap Adnan.
"Aku sudah memperingatkan mu untuk tidak memakai perasaan di sini. Dulu kau menyatakan cintamu padaku, dan dengan itu kau tidak berhak cemburu atas apa yang ku lakukan dengan kekasih ku. Hilangkan pikiranmu tentang aku dan kau, karena aku dan kau tidak akan pernah menjadi kita. Jadi, tahu dirilah sampai mana batasan mu berada. Jika kau mencintaiku, buang jauh-jauh perasaan itu, karena aku tidak akan pernah mencintaimu. Sejak awal aku memang mencintai sekretaris ku." Melepas kasar cengkeramannya, membuat Airin terhenyak mundur beberapa langkah.
"Bereskan pakaianmu. Malam ini kita berangkat ke Perancis." Pinta Adnan.
"Perancis? Untuk apa kita ke sana? Kita baru saja dua hari di sini."
"Tidak perlu banyak tanya. Lakukan saja! Kita berangkat pukul 10 malam."
"Bukankah voucher kita di sini selama seminggu? Lalu bagaiman..." Belum saja menyelesaikan pembicaraannya, Adnan sudah memotong Airin berbicara.
"Kau ingin tetap di sini, silakan. Itu lebih baik untukku." Potong bicara Airin
Airin menatap kepergian suaminya. Memperhatikan suaminya meraih koper di atas lemari, lalu mengambil pakaian dan memasukkannya dalam koper. Sesaat kemudian, Airin mengikuti apa yang Adnan lakukan dengan membereskan barang-barangnya dalam koper.
Tok! tok! tok!
Pergerakan keduanya terhenti oleh ketukan pintu. Adnan yang tersadar lebih dulu, beranjak membuka pintu.
"Sayang! Ada apa kau kemari?" Tanya Adnan pada Shana yang datang.
"Apa kau sibuk?"
"Tidak. Kenapa, hum?"
"Bantu aku membereskan barang-barang ku. Aku kelelahan karena tadi kita terlalu bersenang-senang." Rengek Shana.
"Baiklah. Ayo! Kita ke kamarmu." Jawab Adnan.
Dari dalam, Airin menatap suaminya memeluk bahu Shana dan keluar dari kamar tanpa berpamitan padanya.
Perancis Berada.
Negara Perancis monumen Menara Eiffel itu adalah tempat ke dua peralihan tempat liburan mereka.
"Apa kau yakin tidak ingin sekamar denganku? Kau akan sekamar dengan dia?" Tanya Shana tiba-tiba.
Adnan mengikuti arah pandang Shana yang melirik singkat pada Airin yang berdiri di dekat resepsionis.
"Sayang. Kamarnya hanya tersisa dua, aku tidak ingin ambil risiko jika kita sekamar. Ada mata-mata yang mengintai pergerakan ku saat di Maldives. Aku takut jika mereka mengikuti ku sampai sini, mereka sepertinya bersekongkol dengan Kakak ku. Untuk itu aku memutuskan untuk pergi ke Perancis saja." Jelas Adnan.
Shana mengangguk lesu, dan kembali menatap Adnan.
"Iya sayang... Aku hanya mencintaimu. Ayo! Kita harus ke kamar."
Dan ketiganya segera pergi menuju kamar masing-masing. Airin memandang kamar yang mereka masuki tanpa ekspresi. Seakan tahu isi pikiran istrinya, Adnan segera menyahut.
"Hanya tersisa satu kamar untuk 2 orang, dan satu kamar untuk 1 orang. Ingin tak ingin, kita harus sekamar, kecuali jika kau ingin tidur di jalanan." Ucap Adnan.
"Kenapa kau tidak menempati kamar ini dengan kekasih mu. Bukankah itu lebih bagus untuk kalian."
"Aku tidak ingin mengambil risiko sekamar dengannya, mengingat jika aku sedang diintai. Dan bisa saja kakak ku juga mengirim mata-mata di sini, mereka hanya tahu jika aku pergi hanya denganmu. Akan lebih aman bagiku jika mereka tahu aku hanya berdua denganmu. Jika kau tidak suka sekamar denganku, kau bisa pergi mencari hotel lain."
Airin menyeret kopernya untuk masuk lebih dalam dengan senyum manis yang terpatri di bibirnya.
"Tidak. Aku akan mengikuti ke mana suamiku pergi. Bukankah kau sendiri yang memesan kamar ini untuk kita." Kata Airin mengejek Shana.
"Terserah!!" Malas Adnan menanggapi Airin yang sudah mulai berani.
Adnan melangkah mendahului Airin, dengan koper yang diseretnya kasar.
Airin menatap suaminya yang mendahuluinya tanpa mengatakan apapun. Dia tersenyum tipis ketika melihat suaminya merebahkan tubuhnya disofa. Segera diletakkannya koper disamping lemari, mengambil beberapa pakaian dan memasuki kamar mandi.
20 menit kemudian.
Setelah menyelesaikan ritual mandi, Airin dengan segelas teh hangat di tangannya menghampiri suaminya yang terlelap di kursi sofa. Membangunkannya perlahan, hingga suaminya membuka mata.
"Tuan!! Aku membuatkan mu teh hangat. Minumlah selagi masih hangat. Lalu, pergilah mandi! Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Ujar Airin
"Hemm..." Mengambil teh dari tangan Airin, dan meminumnya sampai tandas. meletakkan kembali gelas pada meja, lalu pergi memasuki kamar mandi.
"Aku harus membereskan barang-barang itu sebelum Tuan selesai mandi."
Airin mulai bergerak membereskan dan menata isi koper pada tempatnya.
Di Indonesia~
Perusahaan Daniel.
"Ada apa kau kemari? Kau tidak ada pekerjaan juga?" Tanya Dirga sedang di ruang biliard di sela waktu luang pekerjaannya.
"Aku bosan di ruangan ku." Jawab Daniel.
"Dirga, Kau tidak ingin mengajakku jalan-jalan?" Lanjut Daniel.
"Aku sibuk. Pergilah sendiri." Balas Dirga.
"Mentang-mentang kau sudah aku anggap sahabat. Kau menjadi lupa diri pada atasanmu sendiri." Kesal Daniel.
"Ck. Untuk apa aku memiliki sekretaris dan assisten jika di sela pekerjaan begini saja aku mengerjakan sendiri." Lanjut Daniel.
"Jika kau bisa mengerjakannya sendiri, kenapa harus merepotkan orang lain. Lagipula mereka sudah ada tugas masing-masing." Jawab Dirga.
"Kau memiliki tugas, karena aku yang menugaskannya padamu." Debat Daniel.
"Terserah kau saja, Tuan."
"Aku pergi." Kata Daniel.
Tanpa mendengar jawaban, Daniel keluar dari ruang biliard.
"YAK!! Atasanku itu benar-benar tidak tahu waktu. Aku jadi kalah." Pekik Dirga kesal
Geleng-geleng kepala melihat Daniel pergi. Lalu, melanjutkan kembali permainannya.