
Adnan masih di posisi berlutut dan menggenggam kedua tangan Airin erat.
"Aku tahu kesalahan ku tidak bisa di maafkan. Aku sudah terlalu sering menyakitimu dan sudah banyak luka yang ku tinggalkan untukmu. Tapi untuk kali ini, maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Kau bisa menghukum ku sesukamu, asal kau memberikan ku kesempatan sekali lagi. Kita bangun kembali rumah tangga kita seperti kedua orang tua kita yang mengharapkan pernikahan ini. Kita mulai dari awal. Aku berjanji akan berubah demi dirimu. Aku mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu."
Lalu, Kembali berkata...
"Tolong jangan pergi dan jangan tinggalkan aku. Aku sangat membutuhkanmu di sisiku, sama seperti saat waktu kecil kau selalu ada di sampingku dengan keadaan ku begitu lemah tidak bisa melawan pada orang yang menjahili ku. Aku akan menebus semua kesalahan ku agar kau bisa memaafkan dan kembali padaku. Aku mohon padamu. Hiks..." Tangis Adnan pecah. Ini lah untuk kedua kalinya Airin harus melihat pria kuat itu menangis hanya karena dirinya.
"Aku sudah mengatakannya padamu. Sakit ini, sampai mati akan terasa dan tidak akan ku lupakan. Dengan mudah kau datang meminta maaf. Apa aku harus percaya padamu?"
Adnan hanya diam. Tangannya semakin erat menggenggam tangan Airin.
"Bangun! Dan kembalilah!" Kata Airin. Saat itu, ia mati-matian menahan mual pada perutnya dan kepala yang sedikit pening.
"Tidak!! Aku tidak akan pergi sampai kau ingin memaafkan ku dan kembali padaku. Kumohon beri aku kesempatan sekali lagi Airin. Aku berjanji. Aku berjanji akan menjadi suami yang baik untukmu. Tolong jangan begini, hiks..."
Matanya berkaca, Airin memalingkan wajahnya ke arah lain. Dia tidak ingin terlihat lemah dihadapan Adnan.
"Airin.. Tolong jangan diam, katakan sesuatu! Kau memaafkan ku?! Aku akan melakukan apapun untukmu. Aku sangat mencintaimu. Hiks... Aku ingin kita memulainya dari awal. Ku mohon padamu. Hiks..."
Air mata Airin semakin menetes deras ketika mendengar suara isakan menyakitkan dari Adnan. Pria itu sangat keras kepala. Airin cukup terkejut melihat sisi rapuh suaminya.
"Kau ingin aku memaafkanmu, bukan?" Tanya Airin serius.
Adnan mengangguk cepat.
"Tidak hanya itu. Aku juga ingin kau kembali padaku. Dan kita membangun hubungan ini dari awal."
"Baiklah. Aku akan memaafkanmu. Tapi dengan syarat."
"Apapun syarat yang kau berikan. Akan ku lakukan asal kau memaafkan ku dan menerima ku kembali." Jawab Adnan dengan tergesa-gesa karena ia cukup merasa lega.
"Apa kau yakin akan menurutinya?!"
"Te-tentu. Asal kau kembali padaku."
"Jangan temui dan hubungi aku sementara waktu!!"
Adnan terdiam sesaat menatap Airin yang berdiri di hadapannya.
"Be-berapa lama?" Lirih Adnan tercekat.
"SATU TAHUN!!" Jawab dingin Airin penuh penekanan tidak tanggung-tanggung.
Cetarr!!
Bak hati yang tersambar petir di siang bolong. Adnan terperanjat. Manik Adnan melebar. Tidak hanya Adnan, Tiga orang yang berada tidak jauh dari keduanya juga ikut terkejut. Ya, mereka bertiga masih di area terdekat Airin dan Adnan, sehingga mereka masih bisa mendengar apa yang dikatakan keduanya.
"Ti-tidak Airin. Itu terlalu lama. Aku tidak bisa sedikitpun jauh darimu, apalagi tanpa kabarmu. Tidak, Aku tidak ingin! Tolong syarat yang lainnya."
"Itu sudah keputusan ku. Cukup Iya, Atau tidak sama sekali!" Kecam Airin.
"Ku mohon Airin!!" Adnan tidak dapat menerima syarat itu dan ia terus menggenggam erat tangan istrinya.
"Pergi dari sini!! Aku akan segera mengurus perceraian kita karena kau tidak menerima syarat ini."
Adnan panik, Lalu dengan cepat berdiri dari berlututnya dengan sedikit oleng karena terlalu banyak menangis dan terlalu lama berlutut. Untung masih bisa menjaga keseimbangannya.
"Baiklah, Aku akan menuruti mu. Hanya satu tahun. Setelah itu, kita mulai dari awal. Aku akan pergi. Jaga dirimu."
Adnan mendekat. Memeluk istrinya sesaat, lalu mengecup keningnya lembut.
Chup!
"Aku mencintai mu!" Lirih Adnan dengan tangis sesaknya. Sebuah kata terakhir perpisahan sebelum mereka tidak bertemu selama satu tahun lamanya.
Adnan kemudian pergi dengan tangisnya yang tidak bisa terhenti. Jalannya menunduk dengan langkah terhuyung-huyung.
Sesaat setelah kepergian Adnan. Tubuh Airin terjatuh ke lantai.
Airin!!
Airin!!
Kakak!!
Teriak ketiganya dari kejauhan. Sama-sama berlari panik menghampiri Airin yang terkapar di lantai.
Sudah 6 jam Airin terbaring di ranjang dengan mata tertutup. Daniel sudah memanggil dokter pribadinya untuk memeriksa Airin. Dokter berkata jika Airin terlalu lelah dan banyak pikiran, serta kandungan Airin yang lemah. Jika terus seperti ini, Dokter takut akan berpengaruh pada janinnya.
Jasmine sejak tadi menemani Airin di kamarnya, ia takut jika Airin seketika sadar dan tidak ada seseorang di sampingnya.
Ceklek!
Pintu terbuka dan menampilkan Daniel yang datang.
Jasmine menggeleng.
Daniel memperhatikan Airin dengan tatapan sendu.
"Makanlah dulu! Kau belum makan karena terus menjaga Airin." Titah Daniel pada adiknya.
"Nanti saja. Aku belum lapar." Jawab Jasmine perasaannya sedang buruk sampai tidak berselera makan.
"Zemin menunggu mu. Temani lah dia!"
"Kakak sendiri tidak makan?"
"Aku sudah. Pergilah!!"
"Baiklah. Aku segera kembali."
Jasmine keluar kamar. Tersisa Daniel yang menemani dan Airin yang masih terlelap.
Tidak lama setelah Jasmine pergi dan bergiliran Daniel yang menemani.
Hachiww...
Suara bersin yang seketika mengejutkan Daniel.
"Airin, Sudah bangun?" Daniel menyimpan ponselnya berjalan dari sofa mendekati ranjang Airin. Mengambil beberapa obat dari nakas dan menyodorkannya pada Airin beserta segelas air putih.
"Minum dulu vitaminnya!! Masih terasa pusing?"
Airin menggeleng. Mengambil posisi duduk dan bersandar pada kepala ranjang mengambil obat dan gelas dari tangan Daniel dan meminumnya.
"Sejak kapan bangun, hum? Kenapa aku tidak mendengar suara apapun. Saat terbangun kau malah bersin."
"Sejak Tuan Daniel datang dan meminta Jasmine makan."
Daniel melebarkan matanya terkejut. Dia sudah 15 menit di sini, tapi kenapa sampai tidak tahu Airin sudah bangun dan berpura-pura masih terlelap.
"Kenapa kau diam saja jika sudah terbangun dari tadi? Kau membutuhkan sesuatu?"
"Aku lapar..."
"Baiklah. Kau tunggu di sini. Akan ku ambilkan."
"Tidak. Aku akan ikut turun."
"Jika begitu biar ku gendong sampai bawah."
"Tidak. Jangan... Aku bisa berjalan sendiri." Tolak Airin.
Daniel tidak peduli. Ia langsung menggendong Airin begitu saja ala bridal style karena keadaan Airin saat ini sedang lemah dan ia juga harus berhati-hati untuk menjaga kandungannya.
...***...
Di Mansion Adnan...
Kejadian tadi siang setelah menemui Airin. Kini Adnan seperti patung hidup yang tidak bergairah untuk menjalani kehidupannya. Perasaannya kali ini sedang buruk dan lebih banyak berdiam diri dengan termenung.
"Tuan, Makan malamnya sudah siap." Kata Rissa yang memasuki kamar Adnan dengan kondisi kamarnya yang gelap karena lampu tidak dinyalakan dan Rissa pun mulai menyalakannya.
Terlihat kamarnya saat ini begitu berantakan dengan barang kaca yang pecah, bantal, selimut dan sprei yang berhamburan di lantai. Dan juga Adnan dengan rambut acaknya, tidak terlihat segar dan rapi lagi.
"Simpan saja. Aku belum lapar." Jawab Adnan tidak bersemangat.
"Tapi, Tuan belum makan sama sekali sejak semalam. Tuan bisa sakit. Lihat! Wajah Tuan sedikit pucat." Kata Rissa mengkhawatirkan kondisi Adnan yang memperihatinkan.
Adnan tetap diam. Menatap kosong ke depan.
"Jika Tuan sakit, Kasihan Nyonya Airin. Apalagi jika Nyonya sedang hamil. Calon bayi Tuan pasti merasakan apa yang ayahnya rasakan. Terkadang bayi yang masih berada dalam kandungan sangat sensitif pada orang tuanya, dan itu bisa berpengaruh juga pada ibunya."
Adnan mendongakkan kepalanya menatap Rissa terkejut!
Seketika Rissa juga terkejut. Ia lupa dan keceplosan. Dia pikir Adnan sudah tahu jika istrinya sedang mengandung. Rissa gelagapan mencari alasan lain, matanya bergerak cemas memikirkan sesuatu.
"M-ma-maksud Saya, Tadi seandainya, Tuan. Saya tidak tahu jika Nyonya hamil atau tidak. Tadi saya hanya mengatakan jika saja Nyonya hamil. Sa-saya hanya menebak-nebak saja." Berdalih Rissa mengalihkan pembicaraannya menjadi sebuah alasan untuk meyakinkan Adnan.
Adnan kembali menundukkan kepalanya. Dia berpikir jika Rissa serius mengatakan hal itu. Dalam hatinya juga sangat berharap, jika istrinya sedang hamil anaknya.
"Siapkan saja! Akan ku makan nanti." Ujar Adnan demikian.
"Ba-baik Tuan. Saya permisi..."
Rissa pergi dengan bibir bergerak tidak beraturan. Dirinya terus menggerutu tidak jelas karena keceplosan berbicara mengenai kehamilan Airin.