My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 19 : Tanah Air



Di sebuah Restoran...


"Airin, setelah ini siapkan telingamu." Ujar Daniel tiba-tiba di sela makannya.


"Memangnya kenapa, Tuan?" Tanya Airin heran sembari menyuapkan makanan ke mulutnya.


"Daniel!! KENAPA KAU TIDAK MEMBERITAHU JIKA INGIN MENJAM-..."


Daniel sudah mewanti-wanti Airin untuk menutup telinga karena sepupunya Kenzo itu melihat Daniel di restoran tempat mereka sarapan. Dan seperti biasa jika keadilan tidak ditegakkan padanya ia akan berteriak. Tapi Airin cukup tidak mengerti apa yang di maksud perintah Daniel itu.


Uhuk.. uhuukk...


"Oh, Airin, Maaf, Maaf, Maafkan aku, Kau pasti terkejut." Panik Kenzo.


"Tidak, Uuhuk... tidak apa kak. Uhukk,, uhukk..." Ucap Airin dengan batuk tersedaknya.


"Ini minumlah!" Kenzo menyodorkan minum dan menepuk-nepuk pelan punggung Airin.


Daniel di seberang meja tertawa melihat keduanya.


"Airin, sudah ku katakan untuk kau menyiapkan telingamu." Ujar Daniel tertawa kecil.


"Tidak apa, Tuan. Aku hanya sedikit terkejut."


"Ish, kalian ini." Kesal Kenzo.


Lalu, mengambil duduk di samping Daniel.


"Kau curang. Kenapa tidak mengajakku jika Airin sudah pulang dan kalian makan bersama di restoran." Protes Kenzo tidak terima.


"Siapa yang bersama-sama, Apa kau melihat kami beramai-ramai? Kami hanya berdua. Hhe... Pesanlah sesuatu. Kami sudah lama berada di sini dan hampir selesai makan. Jika tidak kami akan tinggalkan kau sendirian." Balas Daniel.


"Tck, Kau memang menyebalkan dan ingin menang sendiri. Awas saja nanti, aku akan membuat jadwal makan malam dengan adik ipar ku tanpa dirimu." Umpat Kenzo. Lalu, ia memanggil pelayan untuk bergabung makan bersama Daniel dan Airin.


Hubungan sepupu dengan istri dari seseorang ini memang terlihat seperti pria lajang yang memperebutkan satu wanita...


...***...


Di Mansion Adnan...


Ceklek!!


"Nyonya Airin sudah pulang?! Sini saya bawakan barangnya." Sambut Rissa mengambil alih koper di tangan Airin.


"Rissa!! Tuan belum pulang?"


"Belum. Saya pikir kalian datang bersama. Nyonya Airin pulang pasti Nyonya lelah. Saya buatkan susu hangat, ya?!"


"Tidak perlu Rissa, Terima kasih. Aku akan langsung ke kamar, biar aku bawa sendiri barangnya." Mendengar Adnan belum pulang membuat Airin hilang semangat. Kiranya kemana suaminya itu? Airin mengambil kembali kopernya dari Rissa.


"Masih ingat pulang?! Sudah berani pergi tanpa seizin dariku. Dengan pria lain." Ketus seseorang dari belakang.


Belum juga berbalik melangkah. Sosok suaminya sudah berdiri menjulang di atas tangga.


Rissa mengatakan jika Adnan belum pulang. Lalu, bagaimana sekarang pria itu ada di atas.


"Maaf Nyonya, saya selalu ada di dapur. Dan biasanya siapapun yang keluar masuk di Mansion ini selalu menekan bel. Jadi, saya tidak tahu jika ternyata Tuan sudah pulang." Klarifikasi Rissa.


"Baiklah, Tidak masalah. Kau bisa kembali..." Ujar Airin. Dan Rissa segera pergi setelah mendapatkan maaf dari majikannya.


"Tuan, Maaf, Tadi Tuan Daniel sebenarnya mengantarkan ku. Tapi kami mampir ke restoran dan di sana kami bertemu dengan Kak Kenzo. Aku tidak bisa menghubungimu karena ponselku lowbat."


"Aku tidak membutuhkan penjelasan mu." Adnan berbalik badan dan pergi begitu saja memasuki kamarnya.


...***...


"Rissa, Apa Tuan Adnan belum turun?" Tanya Airin di pagi hari menghampiri Rissa.


"Oh. Nyonya Airin, Anda mengejutkan saya saja. Hhee... Tuan Adnan sudah berangkat tadi pagi sekali, Nyonya."


"Dia juga tidak sarapan?"


"Tidak Nyonya. Tuan terlihat terburu-buru."


"Apa karena wanita itu?!" Gumamnya dalam hati.


"Rissa, Apa kau sudah sarapan?"


"Belum. Saya sarapan nanti setelah menyiapkan sarapan Nyonya Airin."


"Kau temani aku sarapan, ya. Kita sarapan bersama."


"Uh!!" Rissa cukup tertegun mendengar ajakan dari majikan yang memperlakukan seorang pembantu seperti manusia lainnya.


"Ayo di makan. Jangan hanya di lihat, Kau tidak akan kenyang."


"Saya jadi tidak enak, Ini saya siapkan untuk Nyonya Airin. Saya takut jika Tuan tahu-..."


"Tuan, Tidak akan tahu. Jika pun tahu, aku yang akan bicara. Kau jangan takut. Sekarang ayo dimakan!"


"Emm, Terima kasih, Nyonya. Ayo kita makan!!"


Keduanya makan dengan nikmat disertai perbincangan kecil dan canda tawa.


...***...


Di Perusahaan Future Company...


Andra datang pagi sekali ke perusahaan adiknya dengan niat ada sesuatu keperluan. Ia pikir dengan menemuinya pagi sekali Adnan biasanya sudah datang, dan keperluannya bisa diselesaikan dari awal. Berbeda dengan sekarang adiknya itu sama sekali belum menunjukkan batang hidungnya.


"Adnan!! Kau baru datang? Ini sudah siang, kalian dari mana saja?" Tanya Andra begitu melihat Adnan datang dengan begitu juga melihat Shana sekretarisnya selalu ada di samping mengalahkan posisi Asisten pribadi yang tidak digunakan fungsinya oleh Adnan.


"Kami ada perlu di luar. Ada janji dengan klien." Jawab Adnan.


"Janji dengan klien?! Hari ini seharusnya memang ada janji dengan dua klien dan mereka sudah datang kemarin tadi. Itu yang dikatakan Asisten mu. Jadi, sekarang kau tidak memiliki agenda pertemuan dengan klien manapun. Klien mana yang kau maksud?!" Pungkas Andra kebingungan.


"Emm, Maaf Tuan. Saya permisi ke ruangan terlebih dulu. Ada berkas yang harus saya kerjakan." Pamit Shana pergi meninggalkan kedua pria petinggi itu.


"Ikuti aku sekarang!!" Titah Andra penuh penekanan.


Adnan dengan malas mengikuti langkah kakaknya.


Berada di suatu ruangan...


"Apa kau melakukan sesuatu di belakang istrimu?" Tanya Andra langsung demikian.


"Apa maksudmu, Kakak? Kau mencurigai ku?" Sewot Adnan marah.


"Tidak. Aku tidak mencurigai mu, Aku hanya bertanya. Kenapa kau jadi sewot?"


"Cih. Apa bedanya..." Kesal Adnan.


"Adnan, Kau adikku yang paling terakhir dan aku sangat menyayangimu. Aku tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padamu. Begitu pula dengan Airin, dia sudah ku anggap seperti adikku sendiri. Jadi, jagalah dia, sayangilah dia. Dia gadis yang sangat baik, itu sebabnya aku menjodohkan mu dengannya dan itu pun keinginan orang tua kita untuk menyatukan dua keluarga setelah pernikahan ku dengan Kirana kakaknya. Dia gadis yang tepat untukmu. Kakak berharap kau bisa menjaga rumah tanggamu dengan baik dan bijak untuk mengambil tindakan."


"Kakak, Rumah tanggaku dan Airin baik- baik saja. Kau tidak perlu khawatir."


"Kakak percaya padamu." Ujar Andra percaya begitu saja. Padahal adiknya ini telah berbohong dan sedang membela harga dirinya. Siapa yang tahu dibalik setiap perkataan yang keluar tanpa disadari mengandung manipulasi.