My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 20 : Kesempatan Menikung



2 Minggu Kemudian...


Waktu menunjukkan pukul 9 malam. Pria tampan menuruni anak tangga dengan pakaian rapi dan wangi parfum yang semerbak. Padahal baru sejam lalu pria itu pulang dari bekerja. Tapi lihat sekarang, sudah rapi saja layaknya remaja yang akan pergi berkencan.


"Tuan! Kau ingin kemana malam-malam begini?"


"Menemui kekasih ku!"


"Di saat kau sudah beristri, apa pantas menemui wanita lain?!!"


Adnan menatap tajam Airin yang berdiri di samping sofa ruang tengah.


"Kau ingin mengatur ku? Melarang ku menemui kekasih ku sendiri? Memangnya siapa kau?! Bahkan kau tidak berhak mengatur hidupku." Hardik Adnan. Ia melangkah melewati Airin begitu saja.


"Bisakah sedikit saja kau menghargai ku dan menerima kenyataan bahwa aku istri mu?!"


Adnan menghentikan langkahnya. Setengah membalikkan badan untuk menatap Airin.


"Iya Tuan. Kenyataan sudah membuatku menjadi istri mu! Aku tidak peduli jika dia kekasih mu, jika kau mencintainya lebih dari kau membenci ku. Tapi aku istrimu. istri mana yang rela melihat suaminya pergi dengan wanita lain. Istri mana yang tidak sakit hati melihat suaminya bercumbu dengan wanita lain di depan matanya sendiri. Kau bisa menyuruhku tutup mata, mulut dan telinga, tapi kau tidak akan pernah bisa menutup hatiku yang terluka." Keluh kesah Airin yang ia luapkan saat itu juga. Dan tanpa terasa air mata itu menetes.


Adnan terdiam, menatap Airin yang menunduk setelah ucapannya yang panjang lebar.


Airin menghembuskan napas panjang. Kemudian kembali mengangkat kepalanya menatap Adnan yang masih menatapnya dingin.


"Kau akan pergi, kan?! Pergilah!! Hiraukan ucapanku barusan. Aku tahu itu sangat tidak penting bagimu, maka anggap saja angin lalu. Aku tidak akan menghalangi mu. Pergilah!! Kekasih mu sudah menunggumu. Berhati-hatilah di jalan." Airin mulai membalikkan badannya. Tanpa menunggu tanggapan apapun dari Adnan.


Adnan menatap kepergian Airin, sampai Airin menghilang masuk ke dalam kamarnya. Bukannya langsung pergi sesuai janjinya dengan sang kekasih Adnan malah memutar badan dan mengambil posisi duduk di sofa. Ia memejamkan matanya dan mengusap wajahnya kasar frustasi.


Di dalam kamar Airin...


Airin menangis sejadi-jadinya setelah meluapkan keluh kesahnya itu.


"Hiks,, Hikss,, Apa seperti ini pernikahan yang ku impikan.. hikss. Haruskah sesakit ini?! Hikss.."


"Apa tadi ucapan ku berlebihan? Tapi aku tidak tahan menahan rasa sakit ini. Aku takut dia marah. Hikss,, bagaimana jika dia ingin berpisah?! Tidak!!! Aku akan tetap pertahankan rumah tangga ini meskipun dia tidak mencintai ku. Karena pernikahan ini adalah harapan ayah dan ibuku. Ayah.. Ibu.. Kapan kalian akan pulang? Hiks.."


Tok! tok! tok!


"Nyonya! Saya Rissa. Tolong buka pintunya."


Airin mengusap air matanya. Setelah itu, beranjak untuk membuka pintu yang sengaja dikuncinya dari dalam.


"Nyonya, Ayo makan dulu!" Ujar Rissa saat Airin berada di hadapannya.


"Aku tidak lapar, Rissa."


"Tidak, Nyonya Airin harus makan. Sejak siang Nyonya belum makan. Jika Nyonya sakit, saya pasti dimarahi Tuan."


"Apa Tuan Adnan ada di bawah? Tidak, Tuan Adnan sudah pergi."


Airin terdiam sejenak lalu kembali menatap Rissa. "Kau temani aku makan, ya!"


"Siap yang mulia ratu. Hhe.." Hibur Rissa.


Airin terkekeh melihat tingkah Rissa layaknya tentara dengan sebelah tangan terangkat hormat. Keduanya tertawa saling bergandengan tangan berjalan menuju meja makan.


...***...


Dan pintu terbuka dari dalam. Bukan Rissa yang membuka pintu, melainkan Adnan. Karena Rissa sedang pergi ke supermarket bersama Airin.


"Selamat pagi, Adik ipar!" Ucapnya. Yang menampilkan Kirana dan Della yang datang ke Mansion Adnan.


"Uh!! Pagi..." Jawab Adnan yang masih linglung.


"Apa kau baru bangun tidur?" Tanya Della.


"Hmm..." Jawab dinginnya.


"Ihh... Jorok sekali kau!" Umpat Della.


"Ada apa kalian kemari pagi-pagi sekali?" Tanya Adnan.


"Kau tidak menyuruh kami masuk?" Ketus Kirana.


"Hmm.. Masuklah!!"


Kedua wanita cantik ini memasuki lebih dalam mansion Adnan.


"Jadi? Ada apa? Airin sedang tidak ada di rumah, dia pergi berbelanja bahan dapur. Dan aku harus siap-siap untuk ke perusahaan."


"Aku dan Kak Kirana ada undangan klien di Tiongkok selama 4 hari. Kami berencana akan mengajak Airin juga, masalahnya di sini Kak Dario dan kakak mu tidak bisa mengantar kami. Mereka memiliki jadwal masing-masing dan agendanya padat sekali. Apa kau bisa ikut bersama kami, Adnan?! Masalahnya kan kami semua wanita, akan lebih baik jika ada laki-laki yang menjaga." Pinta Della.


"Maaf Kakak Ipar, aku juga tidak bisa mengantar kalian. Pekerjaan ku juga sangat banyak." Jawab Adnan demikian.


"Biar aku saja yang mengantar. Jika kalian tidak keberatan." Imbuh seseorang dari arah pintu.


Daniel datang diikuti Airin dan Rissa di sampingnya. Rissa pamit untuk kembali ke dapur. Airin memeluk rindu kedua kakak perempuannya secara bergantian. Dan Daniel mengambil tempat duduk di samping Adnan.


Dalam benak Adnan berpikir bagaimana bisa Daniel bisa datang dengan Airin.


"Jadi, kapan kalian akan berangkat? Biar aku saja yang mengantar kalian." Ujar Daniel tersenyum.


"Apa kau tidak sibuk, Daniel? Karena kita akan pergi selama 4 hari." Balas Kirana.


"Seminggu pun tidak masalah. Pekerjaan ku tidak begitu banyak ada sekretaris dan Asisten ku yang menghandle semuanya. Untuk apa memiliki karyawan yang kita gaji majal jika kita terlalu banyak turun tangan, bukan. Jika tidak percaya pada kemampuan mereka, lalu untuk apa dari awal membuka lowongan pekerjaan." Ujar Daniel. Ia menatap sekilas ke arah Adnan untuk menyindirnya.


"Itu baru CEO. Kau memang sepupu ipar ku yang terbaik, Daniel. Kita akan berangkat besok, kau jemput Airin dulu ya, kita bertemu di bandara." Puji Kirana senang.


"Apa?? Kenapa aku?" Tanya Airin yang bingung karena ia baru saja datang dan tidak mengetahui informasi apapun.


"Airin, kau akan ikut dengan kami ke Tiongkok selama 4 hari. Adnan sudah menyetujuinya juga. Dan besok kita akan berangkat." Pungkas Della memberitahu.


"Oh baiklah..." Jawab Airin setuju. Toh jika di rumah pun ia akan sakit batin melihat perselingkuhan suaminya. Alangkah lebih baiknya ikut ke Tiongkok bersama kakak-kakaknya.


"Aku saja yang mengantar Airin ke bandara. Kita langsung bertemu di sana."


"Tidak, Tuan. Aku akan berangkat dengan Tuan Daniel saja. Aku tidak ingin kau terlambat ke kantor, kau mengatakan kerjaan mu juga sangat banyak, jadi aku tidak ingin merepotkan mu." Ketus Airin menyindir.


Airin menatap Daniel dan tersenyum tipis. Begitu pula dengan Daniel, tersirat tatapan yang penuh arti di dalamnya. Namun, Adnan menatap Airin kesal dan menatap curiga sepupunya itu.


Ini adalah kesempatan waktu selama 4 hari bagi Daniel bisa bersamaan dengan Airin menemaninya sampai ke Tiongkok.