
2 Minggu Kemudian...
Hari ini adalah tepat dihari Airin melaksanakan wisuda yang di tunggunya dengan bergelar S2.
Upacara wisuda Airin sudah selesai 15 menit yang lalu, ia lulus dengan predikat cumlaude dengan nilai yang diperoleh tinggi. Ia tersenyum manis terus mengembang dari bibir gadis cantik itu, keluarga, saudara dan temannya ikut hadir dalam acara, bahkan Airin menerima beberapa hadiah dari orang-orang tersayangnya.
Selesai acara, beberapa saudara dan temannya berpamitan. Tersisa Airin dan beberapa orang yang berasal dari keluarganya.
"Sayang, Apakah adikmu tidak akan datang?" Tanya Kirana pada Andra suaminya.
Airin menengok-nengok ke kiri dan ke kanan menanti sosok yang di tunggunya.
"Mungkin sebentar lagi. Dia pasti akan datang. Bersabarlah." Ujar Airin menyemangati dirinya sendiri.
"Aku kasihan melihat Airin, dia sangat menunggu kedatangan suaminya." Ucap Kirana cemas pada adiknya.
Andra menatap adik iparnya. Raut kecemasan dan sedih tercetak jelas di wajahnya. Perlahan tangannya meraih ponsel di saku celananya, mencoba menghubungi adiknya. Tersambung, tapi tidak diangkat oleh pemiliknya.
"Kau sudah menghubunginya?" Tanya Darion menghampiri Airin.
"Sudah Kak. Tapi tidak diangkat. Mungkin dia sedang di jalan."
"Kakak juga sudah mencoba menghubunginya, Andra pun mencoba menghubungi adiknya, Tapi tidak ada jawaban."
"Kakak pergilah, 10 menit lagi bukankah ada meeting penting, aku tidak apa. Sebentar lagi juga pasti datang."
"Tapi kakak tidak ingin meninggalkan mu sendiri di sini."
"Suaminya mungkin mampir ke suatu tempat dahulu untuk membeli hadiah kelulusan istrinya, itu sebabnya dia terlambat. Kita pergi saja, jangan mengganggu mereka. Sebentar lagi kakak ada meeting." Timpal Della masih bisa berpikir positif.
Dario menatap adiknya yang tersenyum manis padanya meskipun terlihat guratan wajah kesedihan.
"Baiklah. Kakak dan yang lain pergi dulu. Jika ada apa-apa cepat hubungi Kaka. Kau mengerti?!"
"Tentu saja!!! Kalian tidak perlu khawatir dan hati-hatilah."
Setelah kepergian kakak kandung dan iparnya. Satu jam berlalu Airin masih di tempatnya dan berharap menunggu suaminya datang menjemput dan mengucapkan selamat atas kelulusannya. Tapi sampai saat ini yang di tunggunya belum juga datang bahkan membalas pesannya pun tidak.
Airin menatap disekitarnya yang semakin lama semakin sepi dan beberapa kali tersenyum menjawab sapaan orang-orang yang di kenalnya berpamitan pulang lebih dulu bersama keluarganya.
Terasa lelah dan merasa bahwa suaminya tidak akan datang. Airin meninggalkan tempat, menaiki tangga menuju aula tempat di diselenggarakannya upacara wisuda, berniat mengambil tas nya dan bergegas untuk pulang. Kecewa? Pasti. Mengingat orang yang paling penting perannya di sini tidak menampakkan hidungnya sama sekali. Apa yang bisa Airin harapkan dari suaminya itu, bahkan mempedulikan saja tidak!
"Apa aku terlambat?!!" Suara yang tersengal sedang mengatur napasnya dalam menghentikan langkah Airin di tengah anak tangga seperti setelah berlari jauh dan melangkah terburu untuk segera mencapai lokasi tujuan.
Airin menoleh dengan senyum merekah lebar. Mendapati pria tampan dan tinggi bersetelan jas rapi berdiri di hadapannya dengan kening berkeringat dan napas terengah.
"Maaf, aku terlambat. Apa acaranya sudah selesai?" Pria itu menyigar rambutnya ke belakang, dengan masih mengatur napasnya.
"Tu-tuan Daniel!!"
"Apa yang lain sudah pulang, ya. Semuanya begitu tampak sepi."
"I-iya. Mereka sudah pulang dari satu jam lalu."
"Maafkan aku. Aku terlambat di acara wisuda mu. Sayang sekali aku melewatkan begitu banyak hal."
"Tidak apa Tuan. Terima Kasih sudah menyempatkan diri datang."
"Di mana Adnan? Dia disini kan?"
"Daniel!!!" Teriak dari belakang. Yang di panggil pun menoleh. Begitu juga Airin.
Dari kejauhan, Kenzo setengah berlari mendekati keduanya.
"Kenzo! Kau juga baru datang? Acaranya sudah-..."
"Bukan Daniel. Tadi aku sudah dari sini, lalu ku pulang bersama yang lain. Aku kembali karena Kak Andra menelepon ku barang Airin ada yang tertinggal di aula dan sudah diamankan satpam, jadi aku kembali mengambilnya. Kau baru datang?"
"Hemm... Aku baru datang, tadi ada meeting penting, jadinya aku terlambat."
"Semua orang mendadak ada meeting penting hari ini. Hha..."
Pandangan Kenzo beralih pada Airin di depannya.
"Airin, Kau belum pulang? Apa Adnan benar tidak datang?!"
"Be-belum, Kak..."
"Jadi, Adnan tidak datang di hari kelulusan mu?!" Terkejut Daniel.
"Keterlaluan."
Di akhiri dengan gumaman lirih Daniel sehingga kedua orang di depannya tidak dapat mendengarnya.
"Mungkin Tuan ada meeting penting juga sama seperti kalian. Jadi, tidak bisa kemari. Tidak apa-apa, sekarang juga aku ingin pulang."
"Kau akan pulang dengan siapa?" Tanya Daniel.
"Aku sudah memesan taksi. Sebentar lagi sampai."
"Kau pulang dengan kami saja. Aku tidak akan biarkan kau pulang sendiri." Ucap Daniel.
"Tapi Kak, Aku-..." Ucapan Airin terpotong dengan gerakan jari Daniel yang diletakkan pada bibirnya, menyuruh gadis itu untuk diam, tidak banyak bicara.
"Ken, Kau bawa mobil? Aku tadi kemari pakai taksi."
"Tentu saja aku selalu membawanya. Tidak seperti mu yang selalu menumpang. Baiklah, ayo pakai mobilku." Cibir Kenzo pada Daniel.
"Aku terburu-buru tadi. Airin, ayo! Kita ambil barang-barang mu di Aula. Siapa tahu masih ada yang tertinggal, Setelah itu kami antar kau pulang." Kata Daniel.
"Baiklah..." Jawabnya singkat.
Airin berjalan lebih dulu di ikuti dua pria di belakangnya. Langkah ketiganya tidak ada sedikit perbincangan, mereka berada dalam pikiran masing-masing.
Di Perusahaan Future Company...
Undangan wisuda Airin untuk suaminya memang diabaikan. Ia malah bersikap santai duduk di singgasananya, tidak tahu bahwa ada seseorang yang keliru menanti kedatangannya.
Adnan memang tega membiarkan istrinya termenung sendirian seperti orang yang menunggu angin berbentuk wujud.
"Sayang, Kau masih di sini? Bukankah hari ini kelulusan istrimu. Kau tidak menemaninya?" Tanya Shana yang datang ke ruangannya.
"Aku sibuk. Tidak ada waktu untuk ku hadiri acara tidak penting itu."
"Jangan terlalu sibuk bekerja. Kau harus istirahat." Shana mendekati kursi kebesaran Adnan dan memeluk leher Adnan dari belakang serta mengelus-elus dada bidangnya.