My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 42 : Kita Harus Berpisah



Malam Hari...


Seseorang mengetuk pintu. Rissa dari arah dapur sedikit berlari membukakan pintu.


"Tuan!! Silakan masuk!" Ucap Rissa saat membukakan pintu utama.


"Adnan di dalam?" Tanya Kenzo yang mendatangi Mansion adiknya.


"Iya. Tuan Adnan di dalam bersama Nyonya Airin." Bingung Rissa yang dirasakan.


Kenzo mengernyit melihat Rissa menatapnya bingung.


"Kenapa kau menatapku begitu? Kau tidak senang aku di sini?"


"Agh, tidak. Cepat sekali Tuan Ken kembali. Bukankah harusnya Tuan di sana selama 3 bulan?"


"Kak Andra yang meminta ku kembali. Jika begitu, kau saja yang ku kirim kembali kesana."


"Ishh... Saya tidak ingin lagi. Saya sudah nyaman ada di sini. Ayo sudah silakan masuk!! Saya ada pekerjaan." Bicara Rissa dan Kenzo yang tidak canggung dan sudah akrab sekali.


"Buatkan aku minum! Aku haus." Ucap Kenzo.


"Aku bukan pembantumu." Jawab Rissa tanpa ragu.


"Tapi, Kau di sini memang jadi pembantu." Ketus Kenzo.


"Aku menyamar. Aku mengingatkan jika kau lupa, Tuan!!"


"Tetap sam-..." Bicara Kenzo terhenti dan melirik ke sumber suara dari atas.


BRAK!! Prang!!


Keduanya bersamaan menoleh pada sumber suara yang berasal di lantai 2. Lalu, keduanya saling menatap satu sama lain, mengisyaratkan sesuatu. Secara bersamaan, keduanya berlari menaiki tangga.


Sedangkan di sisi lain.


Di Kamar Airin...


"APA KAU TIDAK PUAS. HAH!! KAU SUDAH MENGHANCURKAN SEMUANYA. Bahkan hidupku."


Pertengkaran dari dalam yang saling menyentak.


"AKU HANYA tidak INGIN KITA BERCERAI. APA KAU tidak MENGERTI?!!"


"Lalu, apa yang kau pertahankan dari pernikahan ini?! Tidak ada, Tuan Adnan, bahkan pernikahan ini sudah hancur sebelum kita memulai."


"Aku tidak peduli seberapa hancurnya pernikahan ini. Kita akan perbaikinya dari awal."


Airin menunduk dengan terisak.


"Tidak. Aku tidak bisa. Kita tetap akan bercerai." Bersikeras Airin ingin berpisah.


"Itu tidak akan terjadi, Airin Sifabella. Akan ku pastikan secepatnya kau akan hamil."


Adnan mendorong paksa tubuh Airin berbaring di atas ranjang dengan segera Adnan menindihnya di atas tubuh Airin dan ******* kasar bibir istrinya.



"Leph-phas... Br.. breng-sekh.. Hmmptt!!"



.


kepala Airin menggeleng ke kanan kiri menghindari bibir Adnan. Seolah tuli oleh tangisan Airin, Adnan mulai melepas kancing bagian atas baju Airin. Karena kalut, Airin menggigit bahu Adnan membuat pria itu mengerang. Dengan segera Airin mendorong tubuh Adnan menyingkir dari atas tubuhnya. Airin seketika bangun dan memperbaiki bajunya.


Adnan bangkit, melepas kemejanya dan melemparnya ke sembarang tempat. Ia dengan mata tajam mendekati Airin yang semakin memundurkan badannya menjauhi Adnan. Adnan berhasil menarik tangan wanita itu perlahan, lalu sedikit melemparnya kembali pada ranjang. Ia kembali menarik paksa kancing baju Airin hingga terlepas dari tempatnya. Adnan kembali melanjutkan aksinya, menciumi bibir Airin secara kasar, tangannya bergerak menjelajah tubuh istrinya.


Airin semakin menangis dan memberontak, tapi tenaganya tidak cukup kuat untuk pria di atasnya. Airin hanya berharap, semoga Rissa atau siapapun datang menolongnya.


Sreettt...


Bugh!


Adnan terjatuh dari ranjang karena pukulan tiba-tiba seseorang.


"Adnan! Kau gila?! Kau menyakitinya."


Adnan tergeletak di bawah dengan sudut bibir mengeluarkan sedikit darah.


"Aku tidak menyakitinya. Aku hanya meminta hak ku sebagai suami." Jawab Adnan demikian.


"Tapi kau memperkosanya. Bagaimana itu bisa disebut kau meminta hak mu. Hah?!" Sentak Kenzo. Karena geram melihat Airin sampai menangis ketakutan karena ulah adiknya.


Adnan menatap sendu Airin yang menangis di pelukan Rissa. Perasaan bersalah muncul dihatinya. Dirinya sadar, bahwa dia sudah keterlaluan pada istrinya. Rasanya begitu sesak di dada melihat istrinya menangis dan takut padanya.


Adnan menatap kosong, nadanya melirih.


"Sudah ku katakan, aku tidak ingin bercerai. Aku hanya ingin anak dari istriku. Tapi dia tetap memaksa ingin berpisah."


"Setelah kau menyakitinya dan kau baru tersadar?!" Ketus Kenzo.


Adnan menatap Kenzo.


"Setelah kau menyakiti dan menghancurkan hatinya, kau tanpa rasa bersalah menginginkan seorang anak?!"


Kenzo kemudian menghampiri Rissa, lalu meraih pundak Airin dan merangkulnya.


"Aku akan membawanya. Tenangkan pikiranmu! Renungkan kesalahanmu! Sampai kau sadar, kau bisa mengambil istrimu kembali dariku!"


"Tidak Kenzo, Jangan membawanya. Dia tidak akan kemana-mana. Dia akan tetap di sini. Dia istriku, kau tidak berhak membawanya pergi." Menahan Kenzo yang akan membawa Airin pergi.


"Berhak atau tidak, aku akan tetap membawanya karena kau sudah keterlaluan menyakitinya, Adnan. Jika kau tidak berubah, aku bahkan tidak akan mengembalikan istrimu padamu lagi."


Adnan menggeleng. Tatapannya beralih pada Airin di dekapan Kenzo. Tangannya mencoba meraih tangan istrinya.


"Airin, Kau tidak bisa pergi, kau tidak bisa meninggalkan ku tanpa seizin ku. Ak-aku minta maaf. Aku tahu, Aku sudah keterlaluan padamu. Tolong jangan pergi." Ucap Kenzo sudah menangis dalam memohonnya.


Airin tidak menjawab. Airin hanya mengeratkan pelukannya pada Kenzo. Dirinya tidak sanggup melihat suaminya menangis di hadapannya. Bahkan ini pertama kali dirinya melihat Adnan menangis. Dan itu karenanya.


Kenzo menggiring tubuh Airin keluar dari kamar. Mengabaikan Adnan yang berusaha menahan keduanya pergi. Berulang kali kata maaf Adnan ucapkan, tapi tidak menghentikan langkah keduanya, hingga keduanya benar-benar pergi keluar Mansion meninggalkan dirinya dengan tubuh tertunduk di bawah lantai dengan terisak.


Rissa yang berada tidak jauh di belakang Adnan, merasa iba. Tapi itulah yang harus pria itu dapatkan. Setidaknya sedikit pelajaran untuk menyadarkannya.


"AAKHHH!! KAU BODOH, Adnan!!! KAU PRIA BRENGSEKK!!! Hiks..." Sentak Adnan pada dirinya sendiri. Ia mengacak-ngacak rambutnya frustasi.