My Wedding Story

My Wedding Story
Bab 25 : Pertengkaran Suami Istri



Pukul 10.25 malam.


Mobil Daniel berhenti tepat di depan Mansion Adnan.


"Masuklah dan istirahat! Kau belum sembuh benar, jadi jangan terlalu banyak aktivitas. Mengerti?!" Pesan Daniel sebelum pamit.


Airin mengangguk.


"Tuan, tidak ingin mampir?" Tanya Airin.


"Tidak. Ini sudah malam. Sampaikan saja salam ku pada Adnan."


"Baiklah. Terima kasih sudah mengantarku." Ucap Airin tersenyum.


Daniel membalas senyumannya dan kembali memasuki mobilnya.


Rissa segera menghampiri Airin begitu mengetahui nyonya nya sudah kembali dan kebetulan ia belum pulang. Setelah terdengar Airin menutup pintu, ia bergegas membantu membawakan kopernya. Sudah sejak sore Rissa menunggu kedatangan Nyonya mudanya.


"Syukurlah, Nyonya sudah kembali dengan selamat. Bagaimana kondisi, Nyonya? Katanya sedang sakit, ya. Apa sekarang ada yang dirasa sakit? Pusing mungkin? Kenapa harus pulang sekarang jika Nyonya sedang sakit? Saya khawatir jika di jalan terjadi sesuatu pada, Nyonya. Anda pasti sangat lelah. Mari! Biar saya bawakan barangnya." Kedatangan Airin langsung disambut hangat oleh Rissa yang begitu perhatian padanya.


Airin terkekeh melihat kekhawatiran Rissa yang terus berbicara panjang lebar. Dia bukan siapa-siapa, Tapi sudah dianggap sahabat dan keluarga sendiri, ia begitu sangat mengkhawatirkannya.


"Aku baik-baik saja Rissa .. Aku juga sudah sehat. Lihat!!"


"Tetap saja. Nyonya Airin baru sembuh dari sakit, itu tandanya tubuh Nyonya belum benar-benar fit. Ayo! Saya antar ke kamar. Nyonya harus istirahat."


Airin menurut. Membiarkan Rissa menggandeng sebelah tangannya karena sebelah tangan Rissa harus membawa kopernya.


"Rissa, Apa Tuan Adnan sudah pulang?" Tanya Airin teringat pada suaminya yang ia pikir selama dia tidak ada mana mungkin ingat pulang.


Pertanyaan Airin yang tiba-tiba menghentikan langkah Rissa diikuti Airin di sampingnya. Airin menoleh menatap Rissa bingung.


"Emm.. Tuan Adnan di kamarnya. Tuan sudah Pulang sejak sore tadi." Jawab Rissa terdengar ragu.


Dahi Airin berkerut. Mula-mula sekali suaminya pulang lebih cepat.


"Tapi... Nyonya, Tuan Adnan tidak pulang sendiri." Ujar Rissa ragu dan takut untuk mengatakannya.


Menatap Rissa bingung, lalu kembali tersenyum tipis.


"Pasti dengan Kak Andra. Tapi apa ada Kak Dario juga kemari?!" Menduga Airin pikirnya selalu positif.


"Bukan Nyonya, Bukan dengan Tuan Andra ataupun Tuan Dario. Tapiii..." Bibir Rissa kelu sekali untuk mengatakannya.


"Tuan Adnan pulang dengan si-..." Tanya Airin terhenti ketika manik keduanya menatap dia orang yang menuruni tangga. Begitupun Rissa, menatap keduanya terkejut. Yang dipikirnya apa yang akan terjadi pada Airin dengan melihat Adnan bersama wanita selingkuhan karena Rissa melihat dua sejoli itu bercumbu di sofa.


"Kenapa dia ada di sini? Bukankah ini sudah di luar jam kerja?! Apa tidak ada lain hari untuk membicarakan pekerjaan?! Ini sudah hampir tengah malam, apa kalian tidak tahu waktu?" Ucap Airin tetap tegar meskipun ia menahan sakit suaminya keluar bersama wanita pelakor dari arah kamarnya. Jika bisa, saat itu juga ia ingin menangis.


Pikiran Airin sudah negatif, apa yang mereka lakukan hingga malam di kamar pria beristri, padahal istrinya saja tidak pernah memasuki kamar itu.


Kini keduanya berada di kamar Airin, tadi setelah pembicaraan singkat di lantai bawah, Airin menarik Adnan paksa ke kamarnya.


"Apa maksud Tuan dia akan menginap di sini? Apa selain hari ini, hari sebelumnya ia tinggal dengan mu?!" Hardik Airin bertanya.


"Bukankah tadi sudah jelas apa yang ku katakan?! Kurasa tidak perlu aku mengulanginya lagi." Ketus Adnan menjawab.


Keduanya saling menatap tajam.


"Maksudku kenapa di sini? Tuan bisa menyewakan dia hotel atau apartement sementara untuknya."


"Itu akan mengeluarkan banyak uang." Jawab Adnan demikian santai meskipun perasaan istrinya campur aduk.


"Apa hak mu mengatur dia harus kemana dan di mana? Ini rumahku! Bukan kita! Kau tidak ada hak mengatur siapa yang boleh atau tidak tinggal di sini. Aku Tuan rumah di sini. Bukan kau!!" Bentak Adnan. Ia mencengkeram rahang istrinya kuat.


"Aku istrimu! Aku berhak atas rumah ini dan dirimu!! Jika kau tidak ingin membawanya pergi dari sini, biar aku saja yang menyeretnya keluar dari rumah ini." Marah Airin yang tidak tertahan lagi dalam pertengkarannya yang meledak.


Baru juga Airin membalikkan badan, Adnan segera mencekal lengan Airin dan menariknya kuat.


"Jangan coba macam-macam, Airin Sifabella!! Jika kau berani menyentuhnya seujung kuku saja, ku pastikan hidupmu tidak akan pernah tenang." Ancam Adnan mengeraskan rahangnya.


Bukannya takut, Airin malah memberikan smirk remeh pada Adnan.


"Bahkan kau membelanya di hadapan istrimu sendiri. Tck.. Benar-benar wanita itu!!" Umpatnya menghina Shana.


Sedangkan di ruang tengah, dua gadis sedang bergelut dengan pikiran masing-masing. Sejak ditinggalkan pasangan suami istri itu, keduanya tidak ada yang membuka obrolan hingga sampai Rissa sudah tidak sanggup lagi menahan kekesalan pada sang pelakor.


"Nona, sebaiknya anda segera pergi dari sini. Anda sudah membuat pasangan suami istri itu bertengkar." Ujar Rissa terkesan mengusir bagi Shana.


"Aku tidak akan pergi, kecuali Adnan sendiri yang meminta ku." Jawab Shana dengan sombongnya sembari bersilang tangan di dada.


"Apakah anda tidak malu telah membuat rumah tangga orang lain berantakan? Anda juga wanita, seharusnya anda juga merasakan apa yang Nyonya Airin rasakan." Ketus Rissa membela majikannya.


"Bukankah yang seharusnya malu itu Nyonya mu?! Sebelum ada dia, aku dan Adnan sudah lebih dulu bahagia, lalu dia datang menghancurkan segalanya. Jadi, siapa yang menghancurkan hubungan orang lain? Bukan aku yang harus ikut merasakan apa yang dia rasakan. Tapi dia yang harus merasakan apa yang aku rasakan karena dia juga wanita." Debat Shana melawan.


"Tetap saja, mereka sudah menikah, dan mereka adalah pasangan yang sah di mata tuhan dan hukum. Dan perselingkuhan itu tidak dibenarkan."


"Adnan lebih mencintaiku daripada istrinya sendiri. Apakah setelah menikah dia bisa menerima kenyataannya? Tidak bukan?! Apakah tetap aku yang salah? Toh jika bukan karena orang tuanya, seharusnya aku yang menjadi nyonya mu dan akan ku usir kau jika berbuat macam-macam."


"Tentu. Anda dan Tuan Adnan tetap salah! Jus-..."


BRAKK!!


Keduanya menoleh ke sumber suara. Tepatnya di pintu kamar Airin yang masih tertutup rapat.


"Apa yang terjadi?" Batin Rissa cemas.


PRANG!! PYARRR!!


ASTAGA!


Pekiknya dengan wajah yang benar-benar cemas karena terdengar suara pecahan kaca. Rissa berlari cepat untuk melihat keadaan di atas sana.


Sedangkan di kamar Airin yang berantakan.


"Apa kau sudah gila?!" Nada tinggi Adnan bertanya.


"Kau sendiri yang membuat kekacauan! Kenapa aku yang kau sebut gila? Kau waras?!" Marah Airin membuncah.


Adnan berdecih. Cengkeraman pada rahang Airin semakin keras. Tidak sadar jika membuat air mata Airin telah menetes.


"Kau dengar?! Aku akan buat perhitungan jika kau macam-macam." Ancam Adnan lagi kasar.


"Kenapa aku harus menurutimu? Jika kau saja tidak bisa menghargai aku sebagai istrimu." Jawab Airin dengan mata yang sudah memerah pekat.


"Aku tidak peduli."


Adnan melepas kasar rahang Airin hingga membuat Airin tersungkur duduk, Lalu pergi keluar kamar Airin.


"Jika begitu, aku juga tidak akan pura-pura baik padamu dan membela mu di depan kakak-kakak ku! Di depan banyak orang maupun keluargamu." Ujar Airin tidak kenal takut.


Adnan berhenti sejenak setelah Airin berucap. Beberapa detik setelah menyemburkan ludah pada Airin, Adnan kembali melangkah keluar kamar.