My Strange Wife

My Strange Wife
Teman saat SMA #09



Dua bulan berlalu, suasana hati Yara terasa jauh lebih baik dari sebelumnya bahkan raut wajah gadis itu lebih ceria dari biasanya sebelum kejadian dirinya menyuruh Demian untuk berjanji agar tidak lagi berbuat kasar terhadap Rosalie. Memang tidak sepenuhnya sikap Demian berubah dalam waktu yang singkat namun perlahan-lahan Demian menepati janjinya agar tidak lagi menyiksa dan menyakiti istrinya tersebut walaupun sikapnya bisa di katakan masih dingin terhadap Rosalie tapi setidaknya Demian tidak berbuat kasar lagi pada Rosalie, itu membuat Yara merasa sedikit lega melihatnya.


Pagi itu Demian, Rosalie dan juga Yara terlihat sedang sarapan bersama. keadaan Rosalie terlihat jauh lebih membaik setelah apa yang telah di lakukan Demian terhadap wanita paruh baya itu membuat Rosalie harus mengistirahatkan tubuhnya selama satu bulan penuh.


Sama hal nya dengan Yara, raut wajah Rosalie nampak bahagia pada saat itu senyuman yang terulas dari bibir tipisnya tak henti-hentinya ia tunjukan, bahkan manik Rosalie seringkali memperhatikan Suaminya tersebut, namun hal itu tanpa sepenglihatan Demian. Rosalie sangat bersyukur dengan perubahan sikap Demian selama dua bulan ini. meskipun sikap Demian masih sedikit acuh dan dingin terhadapnya namun Suaminya itu sudah tidak lagi bersikap dan berbicara kasar kepadanya. Bahkan selama dua bulan ini Rosalie juga sudah tidak lagi melihat Suaminya pulang ke rumah membawa wanita lain di hadapannya.


Yara yang tak sengaja melihat tingkah Rosalie yang mencuri-curi pandang kepada Suaminya itu, membuat Yara seketika mengembangkan senyumannya, sudah lama sekali Yara tidak pernah melihat Rosalie sebahagia pagi itu, senyuman di bibir Rosalie membuat hati Yara menjadi teduh saat melihatnya. wajah Rosalie beberapa hari ini terlihat lebih cerah dan Cantik, tidak seperti biasanya yang tidak pernah memoles sedikit pun make up di wajahnya sekalipun itu hanya lipstick saja dan selalu menggelung rambutnya. namun bebera hari belakangan ini Rambut panjangnya yang berwarna coklat selalu ia gerai begitu saja, polesan lipstick di bibir tipisnya membuat wanita paruh baya itu terlihat lebih awet muda. hal itu membuat Demian mengingatkan kembali dahulu sebelum ia menikahi istrinya, Rosalie memang memiliki paras yang cantik bahkan saat SMA banyak sekali laki-laki yang terkagum akan paras dari istrinya tersebut. namun entah mengapa hanya dirinya yang tidak ada rasa tertarik sedikitpun terhadap Rosalie.


"Bagaimana kuliahmu selama ini, nak?" Tanya Demian, pria itu sedang melipat koran yang tadi sempat ia baca.


"Baik-baik saja pa." Jawab Yara di iringi dengan senyuman yang terulas dari bibirnya.


"Syukurlah, papa senang mendengarnya."


"Pa..." panggilnya kepada Demian, Demian yang tadinya berniat memegang sendok untuk mulai memakan makanan yang di ambilkan oleh istrinya, seketika mengurungkan niatnya tatkala Yara yang sepertinya terlihat ingin berbicara dengannya.


Namun sebelum Yara berniat untuk berbicara dengan Demian, manik pria itu mengalihkan pandangan kepada Ron yang berjalan mendekat ke arahnya. Yara mengurungkan niatnya, bibirnya mengerucut kesal setelah beberapa saat saling beradu padang dengan salah satu anak buah Papa nya tersebut.


"Ada apa Ron?" Tanya Demian


"Tuan Marc sedang berada di luar, apa Tuan Demian memiliki janji dengannya?"


"Kenapa Marc datang sepagi ini." Demian mengernyit heran. "Apa Marc datang sendirian?"


"Tuan Marc datang dengan salah satu pengawalnya, Tuan."


"Baiklah, suruh dia masuk. aku akan segera menemuinya." Perintah Demian kepada Ron, Ron menganggukan kepalanya dan Segera menemui Marc kembali untuk mempersilahkan masuk.


"Yara, Rosalie lanjutkan makan kalian. aku ingin menemui Marc terlebih dahulu." Demian beranjak berdiri sesaat setelah mendapatkan jawaban dari istri dan anaknya, hendak melangkahkan kakinya pergi ke ruang tamu, namun pertanyaan Yara yang terlontar sejenak mengurungkan niatnya.


"Siapa Tuan Marc pa? klien Papa?" Tanya Yara yang penasaran karena nama seseorang itu terdengar sangat asing di telinganya, dan juga tidak biasanya sekali Demian memiliki janji untuk bertemu dengan siapapun itu pada saat di rumah, yang Yara tau sekalipun itu klien, sekertaris, atau karyawan Demian lebih memilih bertemu mereka di luar rumah.


"Bukan, Sayang. Marc adalah sahabat papa waktu SMA, kau bisa memanggilnya Paman Marc."


"Oh begitu." Yara menganggukan kepalanya mengerti apa yang di ucapkan oleh Demian.


Rosalie yang memperhatikan langkah suaminya semakin menjauh dari jangkauan matanya.


"Apa mama juga mengenal paman Marc? bukankah dulu mama bersekolah di tempat yang sama dengan papa?" pertanyaan itu Yara lontarkan, membuat Rosalie yang baru saja memasukan makanan ke dalam mulutnya menganggukan kepalanya pelan.


"Iya sayang mama juga mengenalnya. Dulu mama dan Marc sama-sama pernah menjadi anggota Osis, itu sebabnya kami berteman baik." Rosalie menarik sudut bibirnya hingga membentuk sebuah senyuman disana. Seperti ada rasa senang tersendiri jika mengingat masa-masa sekolahnya waktu dulu.


"Paman Marc baru kembali dari Amsterdam lima bulan yang lalu, tiga bulan yang lalu sempat kemari mengunjungi Papamu saat kau sedang berada di kampus, dan mama juga tidak sengaja sempat mendengar sedikit perbincangan antara Marc dan juga Papamu, Marc mengatakan bahwa anak bungsunya juga kuliah di tempat yang sama denganmu."


Yara sedikit terkejut, ia sedikit tertarik mendengar cerita dari Rosalie hingga gadis itu sejenak menghentikan aktivitas makannya. "Benarkah?" Tanya Yara memastikan.


Rosalie menganggukan kepalanya. "Iya sayang."


"Mama juga mengenal anak paman Marc?"


"Tentu saja mama mengenalnya, Sayang." Rosalie meletekkan sendok yang sedari tadi ia pegang. "Istri Marc juga salah satu sahabat mama waktu SMA, Marc dan Mesya memiliki tiga orang anak. anaknya yang pertama bekerja sebagai dokter spesialis, anak keduanya mengikuti jejak Marc menjadi pengusaha sukses di Negara kita, bahkan sudah memiliki perusahaan sendiri, dan anak bungsunya seusia dirimu masih berkuliah." Yara memasang pendengarannya dengan baik. manik gadis itu tak lepas memperhatikan raut wajah Rosalie tengah menceritakan sahabatnya dahulu.


"Wah seru sekali, Paman Marc menikah dengan bibi Mesya yang ternyata juga sahabat mama." Yara mengembangkan senyumnya, di pikirannya mereka sama-sama bersahabat baik dan saling memikah pasti terlihat sangat menyenangkan, namun ucapan Yara membuat wajah Rosalie seketika berubah, hatinya merasakan sakit jika mengingat sehari setelah menikah dengan Demian, wanita itu berpikir bahwa menikah akan sangat menyenangkan namun ternyata tidak demikian, dari situlah awal mula Rosalie mendapatkan perlakuan buruk dari suaminya tersebut. Manik Rosalie terlihat berkaca-kaca, ingin sekali menangis jika selalu mengingat hal itu, namun rasanya tidak mungkin karena ada Yara dihadapannya, Rosalie pun dengan sekuat tenaga menahan air matanya yang sudah menggenang agar tidak terjatuh dari tempatnya.


.


.


.


.


.


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Maaf kalau masih banyak typo's bertebaran.


jangan lupa vote author, karna setiap dukungan dari kalian akan membuat kami lebih bersemangat untuk menulis.