
Valencia terlihat sedang menunggu taxi. saat beberapa menit ia menunggu ia pun mendapatkan taxi tersebut. ia naik ke dalam taxi lalu memberitahukan pengemudi taxi kemana ia akan pergi.
"lebih baik aku tidak pulang ke rumah, Bryan pasti akan datang menemuiku nanti. aku sedang malas bertemu dengannya. Untung saja mama dan papa sedang ada di New York." Gumamnya dalam hati. ia masih merasa kesal akan Bryan. untuk malam ini ia tidak akan pulang ke rumahnya.
"Lebih baik aku menghubungi Alesya terlebih dahulu." gumamnya sembari mengambil ponsel miliknya dari dalam tas selempang yang ia kenakan.
Tutttt....
Tutttt....
'Hallo Valen..." Sapa Alesya dari seberang sana.
"Hallo, apa sekarang kau sedang berada dirumah?" tanya Valencia.
'Iya aku sedang berada dirumah, kenapa?'
'Aku sedang berjalan menuju kerumahmu.'
"oh begitu, yasudah kemarilah kebetulan Yara juga sedang berada disini."
'Benarkah?' Valencia terlihat melebarkan senyumnya.
"Iya Benar."
'Baiklah tunggu aku.'
Valencia dan Alesya saling memutuskan sambungan telepone masing-masing.
20 menit berlalu Taxi yang ditumpangi oleh Valencia pun tiba di depan kediaman Alesya. Valen segera turun dari taxi, ia mengambil beberapa lembar uang lalu memberikannya kepada sopir taxi tersebut.
Valen melangkahkan kakinya masuk kedalam, beruntung gerbang rumah Alesya terbuka begitu saja membuat Valen tidak harus repot memencet-mencet bel rumah Alesya.
"Nona Valencia..." Sapa satpam yang melihat kedatangan Valen dari balik pos satpam.
Valencia kaget mendengar Pak Andre menyapanya. "Astaga! Pak Andre membuatku kaget saja." Ucapnya seraya memegangi dadanya yang terasa berdetak kecang.
Pak Andre terkekeh. pria paruh baya itu keluar dari dalam pos.
"Pak, Alesya ada di dalam?" Tanya nya basa-basi.
Pak Andre pun menganggukan kepalanya. "Iya nona, Nona Alesya sedang berada di dalam kamar bersama Nona Yara."
"Oh... yasudah kalau begitu Valen masuk dulu ya pak." Pamit Valen.
"Iya Nona, apa perlu bapak antarkan?" Tanya Pak Andre menawarkan.
Valencia terkekeh. "Pak Andre ini seperti aku baru saja berkunjung dirumah ini saja, Tidak perlu Pak terimakasih." Seru Valen.
Pak Andre pun ikut terkekeh, yang mana membuatnya gigi bagian depan miliknya terlihat ompong. "Baiklah Nona, silahkan masuk."
Valencia pun mengangguk, Ia beranjak dari tempatnya melangkahkan kakinya menuju kamar milik Alesya.
saat di rasa ia sudah sampai didepan kamar sahabatnya itu ia pun segera mengetuk pintu.
Tokkk....
Tokkk....
Alesya melihat Yara sedang berbaring di atas rajang, saat Yara menyadari kedatangan Valen Yara pun beranjak bangun lalu dengan cepat memeluk Valencia. "Hei aku sangat merindukanmu." Ucap Valencia.
"Aku juga sangat merindukanmu." Sahut Yara.
"Kau darimana saja? kenapa kemarin kau tidak kuliah? apa kau sedang sakit?" Tanya Valencia secara beruntun.
Saat Yara hendak menjawab Pertanyaannya, Alesya mendahului dengan Berpamitan pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Valencia. Yara dan Valen pun mengiyakan.
"Yara kau belum menjawab pertanyaanku." Ujar Valencia seraya memainkan rambut Yara melilit lilit dengan jari telunjuknya. Keterbiasaan yang unik dari Valencia selalu memainkan rambut sahabatnya saat sedang berbincang.
Yara sejenak terdiam, ia harus kembali mengumpulkan energinya. Karna setiap ia bercerita tentang masalahnya ia akan selalu menangis walau ia mencoba untuk menahannya sekalipun.
"Yara..." Panggil Valencia merasa keterdiaman Yara menunjukkan bahwa banyak sekali yang harus ia ceritakan kepadanya.
Yara pun akhirnya menceritakan semua masalahnya, benar saja ia menceritakan semuanya sembari menangis tersedu-sedu. Valen yang sedari tadi menjadi pendengar pun ikut terbawa suasana. Ia pun juga tak bisa menahan air matanya, ia merasa kasihan terhadap Yara. terlihat Yara sangat rapuh. "Astaga. jadi kau kemarin tidak masuk kuliah karna masalah ini." Tanya Valen
Yara menganggukkan kepalanya sembari mengusap air mata yang terus saja berjatuhan. Valencia mencoba menenangkan, ia memeluk Yara dengan erat seperti apa yang dilakukan oleh Alesya tadi kepada Yara.
"Sudah, jangan menangis." Ucap Valencia.
"Kau masih mempunyai aku dan Alesya." imbuhnya Berusaha kuat menahan air matanya.
Mereka berdua mengakhiri Pelukannya saat Alesya masuk ke dalam kamar. Alesya mengerti akan hal itu. "Kau ini, membuat Yara bersedih lagi kan karna kau memaksanya untuk bercerita lagi." Seru Alesya.
"Aku kan juga ingin tau." sahut Valencia.
" ingin Tau apa?" Tanya Alesya.
"Ya ingin tau masalah yang Yara miliki." Ucap Valencia.
"Lalu kau tadi kemana saja saat Yara datang kerumahmu?"
Seketika Valen mengernyit heran, pasalnya ia tidak tau jika Yara datang kerumahnya karna memang dia sedang tidak berada dirumah, menemami Bryan bermain basket. Ia mengarahkan pandangannya kepada Yara. "Kau tadi ke rumahku?" Tanya Valencia.
Namun bukannya Yara yang menjawab pertanyaannya, Alesya menyahuti nya dengan ketus. "Iya!"
Valen menajamkan kedua matanya menatap Alesya. "Aku tidak bertanya padamu!"
"Menyebalkan." Ucap Alesya sembari mengerucutkan bibirnya.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan lupa Vote dan Likeπππ