
Minik Samira tak lepas menatap wajah Nando dengan seksama, Bahkan kedua Mata nya tampak kembali berkaca-kaca. Seakan tak percaya setelah sekian lama ia tak bisa menatap wajah Nando sedekat ini seperti saat ini, kini ia di pertemukan kembali dengan Pria di masa lalu nya tersebut.
Samira meraih tangan Nando lalu menggenggamnya dengan sangat erat. senyuman manis tak pudar sedikitpun dari bibir gadis itu.
"Jullian, aku sangat senang sekali, bisa bertemu kembali denganmu di tempat ini." Ucap Samira, Namun Nando hanya menyunginggkan senyum tanpa mau menjawab perkataan Samira.
"Dan kau masih mengingat dimana kita selalu menghabiskan waktu di tempat ini." Imbuhnya, namun berkata dalam hati.
Pertemuan kali ini membuat Samira semakin Yakin bahwa Nando masih tak bisa melupakan kenangan-kenangan manis mereka berdua, buktinya Nando masih ingat betul tempat itu.
Sekian lama hampir lebih dari satu tahun, Samira yang hanya berani menatap kediaman keluarga Nando dari kejauhan tanpa berniat mau mengusik mereka kembali, rasa takut tersendiri jika keluarga Nando tidak akan menerima kedatangannya karena ia sudah dengan tidak sopan nya pergi meninggalkan Nando begitu saja, membuat Nando harus mengalami depresi yang mungkin terbilang cukup buruk.
"Jullian, Apa kau tidak merindukanku?" Tanya Samira menatap lekat manik Nando.
Nando mengangkat kedua Alisnya seolah sedikit kaget, pertanyaan macam apa yang dibuat oleh gadis ini, setelah dia meninggilkan Nando begitu saja kini ia masih menanyakan hal itu?
Tapi bagaimana pun juga Nando yang hanya merasa kasihan terhadap Samira, apalagi mendengarkan cerita kehidupannya saat pergi meninggalkan ia begitu saja. Sedikit menghargai, pikir Nando. "Ehm... Ya, aku juga merindukanmu."
"Benarkah?" Tanya Samira memastikan. Dan hanya di angguki begitu saja oleh Nando seraya tersenyum kecut.
Samira semakin melebarkan senyumnya akan jawaban dari Nando.
Meskipun Nando sedang bersama dengan wanita lain atau bahkan wanita itu ialah orang yang dulu pernah sangat ia cintai, Tapi pikiran Nando selalu terngiang-ngiang akan Yara, Wajah polos Yara seakan menari-nari dalam hatinya.
Seketika Nando teringat akan ucapan Samira.
"Oh iya, katamu kau sudah berkuliah? memangnya kau berkuliah dimana?" Tanya Nando.
"Berkuliah di Universitas X." Jawab Samira dengan Cepat, membuat Nando yang mendengar terkesiap, maniknya membulat sempurna.
"Kau berkuliah disana, tapi kenapa aku tidak pernah bertemu dan melihatmu?" Tanya Nando.
Samira mengernyit, lalu ia pun paham akan ucapan Nando.
"Astaga... jadi kau-- ." Belum sempat Samira melanjutkan perkataannya, Nando mengangguk-anggukan kepalanya dengan cepat.
Raut wajah Samira terlihat sangat senang, bahkan ia menanyakan hal yang sama berulang kali kepada Nando. Ia sangat tidak menyangka. bahkan tak segan ia memeluk tubuh Nando. "Tidak salah aku meminta tua bangka itu agar aku di kuliahkan di tempat Yara." Ucapnya dalam hati seraya tersenyum licik.
Samira melepaskan pelukannya, lalu menatap ke Sembarang arah.
"Itu Universitas terbaik dan sangat populer di kota ini, Entah rasanya aku tidak pantas berada disana. Tapi aku tidak ingin mengecewakan ayah angkat ku, dia terlalu baik padaku dan aku sudah berjanji kepanya tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. bagaimana pun juga ini adalah impianku sejak dulu." Ucap Samira panjang lebar, ingin terlihat rendah diri di hadapan Nando. Tapi sebenarnya tidak.
"banyaklah berterimakasih kepadanya, bagaimanapun juga beliau sudah menyelamatkan hidupmu." Ucap Nando tulus sembari menepiskan senyuman.
"Tentu saja.... dan itu Artinya aku akan sesering mungkin bisa bertemu denganmu." Ucap Samira tersenyum.
"Jullian lupakan semua yang dahulu, kembalilah padaku. Ehm maksutku kita bisa memulai semuanya dari awal, kita bisa kembali baik-baik saja." Ucapan Samira membuat Nando mengernyitkan dahinya. ia pun sedikit menjauhkan tubuhnya dari gadis itu.
"Apa maksutmu berbicara seperti itu?"
"Aku memang sudah memaafkanmu Saat ini, tapi aku tidak berniat sedikitpun untuk memulainya lagi denganmu!" Ucapan Nando penuh dengan penekanan. Bahkan maniknya menajam menatap Samira.
Samira bungkam, ia terkejut akan ucapan Nando, pasalnya ia mengira Nando akan kembali menerimannya setelah ia menceritakan semuanya kepada Nando, namun dugaannya salah besar.
"kenapa dia menolakku seperti ini? ya, mungkin aku harus lebih perlahan untuk bisa merebut hatinya kembali." Ucap Samira dalam hati.
"bu-bukan seperti itu Jullian..."
"aku kan Baru beberapa hari masuk kuliah, aku tidak mempunyai teman dan tidak ada satu pun yang aku kenal disana. A-apakah bisa kita memulainya lagi Dari awal... sebagai Teman?" ucapan Samira terdengar sendu, bahkan wajahnya terlihat memelas. lalu ia menundukan kepalanya.
Nando terlihat menimbang-nimbang ucapan dari Samira, rasa kasihat terlintas begitu saja di benaknya.
"Tapi kalau kau tidak mau, tidak apa-apa. aku sadar mungkin kau masih sakit akan sikapku dulu." Ucap Samira.
"Baiklah aku akan mencoba, tapi hanya sebatas teman dan tidak lebih dari itu."
"I-iyaa aku berjanji akan menjadi teman yang baik."
"Dan jangan pernah kau Mengaharapkan untuk kita bisa bersama lagi!"
Samira menepiskan senyuman. "Baiklah."
Namun di hati Samira tidak menerima penuturan dari Nando, ia akan melakukan segala cara untuk membuat Nando kembali kepadanya, Samira bersumpah akan hal itu.
memang Saat ini Nando sudah baik mau memafkan Samira, ia hanya tidak ingin terlalu larut akan pahitnya masa lalu. di hati Nando mungkin masih menyimpan rasa sakit terhadap Samira, tapi ia tidak pernah mempunyai dendam akan rasa sakitnya. Bagaimana pun juga rasa sakitnya sudah terobati dengan kehadiran Yara, gadis itu memang benar-benar membuatnya melupakan Samira seutuhnya, bahkah dengan pertemuannya saat ini, Nando tidak merasakan rasa cinta sedikit pun kepada wanita itu.
tapi hari ini sikap Yara membuatnya kecewa atau bahkan Sakit hati. Namun tak membuat rasa peduli Nando terhadap Yara menghilang begitu saja.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan lupa Vote dan Likeπ