My Strange Wife

My Strange Wife
Aku Tau Kau Masih Mengharapkannya #11



Sore itu Nando terlihat baru saja keluar dari dalam kamar mandi, ia terlihat sedikit tergesa-gesa karena kedua sahabatnya yang sedari tadi tidak berhenti menghubunginya melalui panggilan suara, Nando memang sengaja tidak menjawab panggilan suara dari sahabatnya itu, karena yang ada jika ia menjawabnya makian yang di layangkan oleh Bryan dan Darwin jelas akan membuat telinganya sakit, Nando mengakuinya jika kedua sahabatnya itu sudah sangat bosan menunggu kedatangannya yang selalu saja tidak pernah tepat waktu, mulut mereka berdua tidak akan berhenti menceloteh layaknya perempuan.


Nando sudah selesai mengganti pakaian yang seharusnya di pakai jika sedang bermain basket. laki-laki itu bergegas melangkahkan kakinya keluar dari gedung Apartement tersebut, ia menuju ke arah mobil yang terpakir cukup dekat dengan langkahnya saat ini. Nando bergegas masuk ke dalam mobil miliknya dan segera melajukan kemudinya pergi ke tempat yang tuju.


***


Bryan dan Darwin menatap kesal laki-laki yang dengan santainya berjalan semakin mendekat ke arah mereka berdua dengan tidak menampakan rasa bersalah sama sekali di raut wajahnya, sejenak Darwin dan Bryan menghentikan aktivitasnya merenggangkan otot-otot tubuhnya untuk pemanasaan sebelum memulai aktivitas selanjutnya.


Nando menahan tawanya saat maniknya menatap kedua sahabatnya yang mencoba memasang wajah tak ramah dan menatap tajam ke arahnya. "Apa?" Ucap Nando, laki-laki itu balik menatap tajam kedua sahabatnya tersebut, sungguh konyol Nando malah menganggap ekspresi dari kedua sahabatnya itu sama sekali tidak menyeramkan dan dengan sekuat tenaga Nando masih menahan agar rasa ingin tertawanya tidak lolos begitu saja dari dalam mulutnya.


Bryan mencebikan bibirnya. laki-laki itu menggerutu dengan tidak jelas, lalu memalingkan wajahnya dari Nando. Rasanya Bryan sudah lelah jika harus membuang tenaga untuk memaki sahabatnya yang tidak pernah datang tepat waktu jika memiliki janji, walaupun hanya sekedar permintaan maaf bibir Nando rasanya seakan malas untuk mengatakan hal itu namun Darwin dan Bryan sudah terbiasa akan hal itu, mereka pun sangat memaklumi sikap Nando.


"Dasar sialan!" Darwin melemparkan bola basket yang entah sejak kapan sudah berada di salah satu tangannya, kepada Nando.


lemparan Darwin cukup keras, namun dengan mudahnya kedua tangan Nando menerimananya dengan gerakan yang begitu santai.


"kenapa tidak besok saja datangnya." seru Bryan nada bicaranya terdengar biasa saja, tetapi raut wajahnya terlihat jelas menahan kekesalan.


Nando terdiam tak menjawab ucapan dari kedua sahabatnya itu, maniknya menatap datar kedua sahabatnya tersebut.


Ada banyak pasang mata yang sedari tadi bersorak histeris bergantian menyebutkan nama dari ketiga Laki-laki yang berdiri tepat di bagian tengah lapangan. Bukan, ini bukan pertandingan Basket yang mengharuskan ada banyak para penonton bersorak mendukung tim kebanggaannya. sudah jelas ini hanyalah sebuah permainan yang hanya melibatkan tiga orang sahabat yang berniat tidak lebih dari sekedar hobby.


Nando, Darwin, dan Bryan terlihat acuh dan sama sekali tak berminat menanggapi segerombolan gadis remaja yang berlomba-lomba mendapatkan simpati dari ketiganya. tentu saja hal ini sudah biasa bagi ketiga lelaki tersebut, Sikap dingin dari ketiga laki-laki itu tak berubah sedikit pun. ketiga laki-laki yang memiliki sikap berbeda itu memang terbilang sangat populer di kalangan remaja seusinya, dan tentu saja kebanyakan dari kaum wanita apalagi kekayaan orang tua mereka sangat berpengaruh di negara tersebut.


"Kenapa kalian hanya diam?" Darwin membuka suaranya, sesaat setelah ketiganya hanya berdiam cukup lama dan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut masing-masing.


"Lain kali carilah tempat yang sekiranya hanya ada kita yang bermain!" Seru Nando, ini memang bukan pertama kalinya mereka datang ketempat ini. teriakan-teriakan segerombolan gadis itu sungguh membuat telinga Nando sakit.


Tempat tersebut memang menjadi salah satu tempat favorit kalangan remaja untuk berkunjung kesana. tidak hanya lapangan basket saja, di sana juga terlihat banyak sekali coffe shop berjajar, lapangan futsal, dan juga ada beberapa lapangan lainnya.


"memangnya kenapa?" Tanya Bryan.


Tanpa mulutnya berucap, Nando hanya mengisyaratkan sorot maniknya yang sebenarnya sangat tidak berselera memandang ke arah bangku penonton.


Darwin dan Bryan memahaminya. "Sudahlah biarkan saja. anggap mereka semua tidak ada!" Seru Darwin dengan raut wajah yang datar.


"Ayo..."


***


Sudah dua jam lamanya ketiga laki-laki itu berkutat akan permainan bola basket yang memanglah merupakan salah satu hobby dari ketiga laki-laki tersebut. Waktu yang terbilang lumayan singkat itu cukup membuat mereka bermandikan air keringat namun rasa lelah sepertinya tidak berlaku untuk ketiganya itu di karenakan terlalu seringnya mereka berlatih, juga sudah menjadi kebiasan bagi mereka, bahkan hampir setiap hari selepas pulang dari berkuliah ketiga laki-laki itu tidak pernah melewatkan aktivitas rutinnnya, mereka pun segera mengakhiri permainannya. Dengan diiringi bubarnya segerombolan gadis yang menatap kecewa karena merasa waktu terlalu cepat untuk mengakhiri manik mereka memperhatikan tiga laki-laki tampan dengan tubuh atletisnya selesai bermain basket.


ketiganya lelaki itu saling menjangkau tas masing-masing yang berada di atas bangku persegi panjang yang bertempat tepat di pinggiran lapangan tersebut. air mineral yang mereka ambil dari tas masing-masing segera mereka teguk hingga habis tak tersisa dari wadahnya.


"Setelah ini kemana?" pertanyaan Darwin sontak memecah keheningan di antara ketiganya.


"Terserah saja, aku juga bosan jika harus kembali ke apartement." Timpal Nando yang pandangannya menatap ke sembarang arah, namun alasan terkuatnya adalah ia tidak mau jika teringat kembali akan perseteruannya dengan gadis itu, gadis yang tanpa ia tau siapa namanya. pikiran Nando selalu kacau jika ingatannya itu kembali berpacu. Bagaimana bisa wajah gadis itu selalu terbayang samar dalam pikirannya. Entahlah sungguh ini aneh.


"Bryan!" Panggil Darwin.


"Apa?" Jawab Bryan tanpa melihat ke arah Darwin yang sedari tadi memperhatikan gerak tubuhnya tanpa Bryan menyadarinya.


"Bagaimana?"


Bukannya menjawab pertanyaan dari Darwin, Tangan Bryan tergerak cepat mengambil sesuatu dari dalam tas miliknya, Ia menyodorkan dua amplop berwarna hitam yang terlihat ada nama Nando dan Darwin terpajang rapi di sudut amplop tersebut.


Kening Darwin dan Nando terlihat berkerut, sedikit bingung. Mereka berdua tak langsung menerima benda tersebut, perlu beberapa detik untuk mereka mengambilnya dari tangan Bryan.


Tak mendaptkan jawaban dari Bryan, Tangan Nando dan Darwin tergerak cepat untuk membuka isi di balik amplop berwarna hitam itu. Keduanya terlihat fokus akan tulisan-tulisan kecil yang tertera dalam lembar kertas berdesign bunga tersebut.


"Kau..." Darwin mengarahkan pandangannya kepada Bryan, ia menggantungkan kalimatnya.


"Iya, Seminggu lagi aku akan bertunangan dengannya." Bryan tersenyum simpul, entah perasaan macam apa yang baru saja melintas di benaknya, ia merasa nafasnya sejenak tersendat ketika mengucapkannya, tanpa Bryan menyebut namanya pun kedua sahabatnya sudah pasti tau.


"Apa yang membuatmu berubah pikiran?" Nando menatap lekat wajah Bryan, seketika raut wajah Bryan berubah menjadi datar.


Bryan menghela nafas. "Tidak tau." ia mengalihkan pandangannya kepada Nando. "aku tidak tau kenapa rasanya sulit sekali jika aku menolaknya. ehm, aku hanya tidak mau mengecewakan kedua orang tuaku."


"Bilang saja kalau kau sudah mulai jatuh cinta dengannya." Seru Darwin dengan nada yang begitu polos.


Bryan terdiam sejenak, lidahnya keluh saat ingin mengatakan tidak. Namun perasaannya ragu jika harus mengatakan iya.


manik Nando sedari tadi tak lepas menatap Bryan, seperti bisa menangkap apa yang ada di dalam pikiran sahabatnya itu, Manik Bryan terbaca oleh Nando.


Dengan Nada yang sedikit ragu. "Apa kau masih menginginkannya?" Pertanyaan Nando sontak membuat kening Bryan berkerut bingung, begitupun dengan Darwin.


"Siapa yang kau maksut?" Tanya Bryan.


"Aku sudah benar-benar melupakannya, buatku dia sudah tidak ada." Ucapan Nando membuat Bryan dan Darwin semakin bingung, pasalnya mereka berdua gagal mencerna apa yang di katakan oleh Nando.


"jika perasaanmu masih ada kepadanya, kejarlah. aku sudah tidak peduli apapun tetangnya lagi." Bryan sedikit terkejut akan ucapan Nando, kini ia sedikit mengerti arah pembicaraan Sahabatnya itu, Bryan berusaha bersikap biasa saja. ia masih terdiam, menunggu Nando melanjutkan ucapannya.


"Aku bersumpah tidak akan mengulangnya lagi. sekalipun dia kembali kepadaku, atau kepadamu." raut wajah Nando nampak serius mengatakannya. dengan hati yang berhujan luka, perasaannya sudah terlanjur terbanjiri rasa benci, rasa sakit itu masih bisa Nando rasakan dengan jelas. kali ini rasa menyesal pun datang. jika saja ia bisa memutar waktu, mungkin lebih baik Nando memilih untuk tidak mendalami rasa yang awalnya hanya biasa saja.


hening...


hening...


Nando dan Bryan terdiam, kedua lelaki itu sedang berpacu pada pikiran masing-masing.


Darwin yang sedari tadi sudah membungkam mulutnya rapat-rapat, maniknya hanya bergantian menatap Nando dan Bryan saling berdiam diri.


"Bryan..." Panggil Nando.


"Hmm?" Bryan kembali mendongakkan kepalanya sesaat sebelum ia menundukan pandangannya. ia menatap ragu ke arah Nando.


"Aku tau kau masih mengharapkannya." Nando menyunggingkan senyumnya, setiap ia teringat akan masalalunya, semakin rasa bersalah bersarang dalam hatinya. Nando selalu mengerutuki dirinya sendiri adalah laki-laki pecundang, bagaimana bisa dia bahagia di balik rasa sakit yang di terima oleh sahabatnya sendiri.


Bryan tidak tau harus bersikap seperti apa. ada perasaan senang, ragu, sakit, sekaligus aneh berbaur dalam hatinya. ia masih tidak menyangka setelah sekian lama dirinya dan Nando nemilih untuk melupakan masa-masa kelamnya, Kini keadaan yang mengharuskan Nando untuk mengucapkannya, Demi apapun penyesalan selalu datang menghantui dirinya.


"Kau ini bicara apa?!'


.


.


.


.


.


.