My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #17



Alesya mengajak Yara dan Valencia untuk makan malam bersama. mereka bertiga beranjak keluar dari kamar menuruni anak tangga. terlihat di dapur Bi Ana sedang menyajikan beberapa makanan di atas meja makan. Aroma masakan menyeruak di indera penciuman ketiga gadis itu, Valen mengendusnya merasakan aroma wangi dari masakan tersebut. "hm wangi sekali aromanya." ucapnya. "Perutku jadi semakin lapar."


Yara dan Alesya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Valen, bahkan Valen mendahului kedua sahabatnya, dengan melangkahkan kakinya cepat menuruni anak tangga. Valen mendudukan tubuhnya terlebih dahulu lalu disusul oleh Alesya dan juga Yara.


Ketiga nya duduk saling bersampingan. "Yara kau ingin makan apa? biar aku mengambilkannya untukmu." Ujar Alesya.


"Tidak usah Lesya, aku akan mengambilnya sendiri." Ucap Yara.


"Baiklah."


Mereka bertiga mengambil makanan masing-masing lalu meletakkannya di atas piring yang sudah berada tepat dihadapan ketiganya.


"Lesya apa tidak sebaiknya kita menunggu Bibi Kinan dan Paman Gaston terlebih dahulu. biar kita bisa makan malam bersama dengan mereka juga." Ucap Yara, ia merasa sungkan jika tidak menunggu Tuan rumah terlebih dahulu. Ucapan Yara membuat Alesya dan Valen menghentikan Aktivitasnya mengambil makanan. Valen langsung mendudukan tubuhnya dikursi kembali. Ucapan Yara ada benarnya juga pikirnya.


Alesya mengalihkan pandangannya kepada Yara dan Valen secara bergantian. lalu ia melanjutkan kembali mengambil makanannya. "Tidak usah menunggu mereka, kalau sudah lewat jam makan malam seperti ini, mereka akan makan malam di luar." Sahut Alesya sembari Maniknya mengarah ke jam yang melekat pada dinding dapur.


"Oh... aku hanya merasa tidak enak jika tidak menunggu Bibi Kinan dan Paman Gaston terlebih dahulu."


"Sudahlah, tidak perlu merasa tidak enak Yara. anggaplah seperti rumahmu sendiri." Ucap Alesya menyunggingkan senyum.


"ambil makanan kalian. dan segeralah memakannya." Perintah Alesya. membuat kedua sahabatnya mengangguk mengiyakan.


Mereka bertiga pun Memakan makanan masing-masing. tidak ada pembicaraan diantara mereka bertiga.


Namun saat manik Alesya mengarahkan Tatapanya kepada Valen, gadis itu melahap makanannya dengan tidak sabaran. bahkan di bagian sudut bibirnya terlihat belepotan. "Kau ini seperti anak kecil saja." Seru Alesya. Yang mana membuat Yara dan Valen menghentikan vaktivitasnya memandang ke arah Alesya.


"Siapa?" Tanya Valen dengan polosnya, ia berbicara dengan tidak terlalu jelas karna didalam mulutnya masih mengunyah makanan yang baru saja ia suapkan kedalamnya.


"Kau! siapa lagi." Ucap Alesya. "Lihatlah kau jorok sekali, makan begitu saja sampai belepotan." Ledek Alesya.


Yara yang melihat hanya tersenyum akan tingkah Valen yang benar seperti anak kecil yang baru saja belajar makan sendiri. "Makan dengan pelan Valen, nanti kalau kau tersedak Bagaimana." Ujar Yara.


"Biar saja tersedak, lagipula baru kali ini aku melihatmu makan dengan barbar seperti itu." Ucap Alesya


Valen mengambil tissue di atas meja tersebut lalu ia mengelap binirnya yang belepotan. "Maaf, aku lapar sekali. seharian penuh baru sekarang aku makan." Ucapnya dengan raut wajah yang melas.


"Pantas saja seperti orang rakus. seharian belum makan tapi seperti sebulan saja." Seru Alesya sembari terkekeh, Ia gemas sekali melihat Sahabatnya itu. Yara pun ikut terkekeh membuat Valen mengerucutkan bibirnya.


"Menyebalkan." Sahutnya yang mana malah membuat Yara dan Alesya semakin tertawa.


*****


Bryan mencoba untuk menyalin nomor salah satu dari teman Valencia diponsel miliknya, ia menyalin nomor Alesya lalu dengan segera melakukan panggilan terhadap Alesya.


Tuttt.... Tuttt....


Tuttt.... Tuttt....


"Shit!" Bryan mengumpat kesal saat Alesya tidak juga menjawab panggilan darinya.


"Bagaimana?" Tanya Nando.


"Tidak di angkat." Jawab Bryan dahinya mengerut.


"Coba lagi." Perintah Darwin, Bryan pun mencoba menghubungi ponsel Alesya kembali namun tetap saja tidak ada jawaban.


"Coba kau hubungi teman Valen yang bernama Yara." Perintah Bryan kepada Darwin sembari terus menerus menghubungi ponsel Alesya.


"Jangan banyak bertanya! lakukan saja." Perintah Bryan. yang mana membuat Darwin berdecak kesal. Ia segera merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel miliknya namun Darwin tak mendapati ponselnya di dalam saku. Seketika ia ingat ponsel miliknya tertinggal di atas meja belakang rumah Darwin, Ia dan Nando tadi sangat terburu-buru mengikuti Bryan sehingga membuat ponselnya tertinggal disana.


"Ponselku tertinggal di atas meja." Ujar Darwin.


"kau yang benar saja, bagaimana bisa ponsel saja sampai tertinggal." Sahut Bryan.


"Aku dan Nando tadi terburu-buru mengikutimu, gara-gara kau ponselku tertinggal!" Seru Darwin sedikit mengeraskan Nada suaranya.


"Kenapa kau malah Menyalahkanku? itukan ponselmu jadi itu salahmu!" Ucap Bryan tak mau kalah.


"Tapi gara-gara kau aku jadi terburu-buru! Darwin menajamkan kedua matanya ke arah Bryan.


"Kau sendiri yang ceroboh, kenapa aku yang disalahkan!" Bryan membalas menatap tajam Darwin.


"Kepalaku sungguh pusing jika terus-menerus mendengarkan mereka berdebat." Gumam Nando memperhatikan kedua Sahabatny berdebat.


"Kau-- "


"Kalau kalian tidak berhenti berdebat aku tidak segan mebdorong kalian dari lantai 3 rumah Valen." Ucap Nando dengan penuh ancaman. mereka berdua pun akhirnya menutup mulut rapat-rapat.


"Kalau begitu kau saja Nando yang menghubungi Yara." perintah Bryan ia melirik ke arah Darwin. "kau memang tidak ada gunanya." Ucapnya menatap tajam ke arah Darwin.


"Aku juga tidak mau menjadi berguna untukmu." Sahut Darwin menajamkan matanya.


Nando sejenak memejamkan matanya, ia menarik kedua tangan Sahabatnya dengan kasar. "Ikut aku!" Ajak Nando.


"Kemana?" tanya Darwin mengernyit bingung.


"Aku akan membawa kalian berdua naik ke laintai tiga rumah ini." Jawab Nando maniknya menatap ke arah lantai 3 rumah Valencia.


"Untuk apa?" Tanya Darwin semakin tidak mengerti dengan apa maksut Nando mengajaknya dan Bryan untuk naik ke lantai 3 rumah Valen.


"Aku akan mendorong kalian berdua Dari atas lantai 3! kalian akan terjun bebas dari atas sana! menyenangkan bukan?" Ucap Nando menyunggingkan senyum.


Bryan dan Darwin menepis kasar tangan Nando. "Kau yang benar saja, kau ingin membubuhku dan Darwin." Ujar Bryan.


"Itu berlaku jika kalian terus saja berdebat didepanku! Telingaku sungguh sakit mendengar kalian selalu berdebat." Sahut Nando mengeraskan nada suaranya.


"Sudahlah cepat kau hubungi teman Valen yang bernama Yara itu." Perintahnya kembali kepada Nando.


.


.


.


.


.


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Jangan lupa Vote dan Like