
Ron belum bisa menemukan keberadaan Yara. pria yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk menjadi bodyguard tersebut sudah mencari ke seluruh tempat yang sering di datangi kalangan remaja seusia Yara, bahkan ia juga sudah mendatangi setiap rumah teman dekat Putri semata wayang dari Tuan besarnya itu, Namun hasilnya nihil.
Waktu sudah menunjukkan hampir menjelang pagi. Pria itu berkali-kali berdecak kesal karna ia tidak bisa menemukan pentunjuk dimana Yara berada.
Ron tidak pernah berfikir mendatangi Club-club malam yang kebanyakan adalah para remaja yang berkunjung. ia terdiam sejenak. "Tidak mungkin Nona Yara mendatangi tempat-tempat seperti itu." Ia berfikir demikian, Pria itu sangat tau bagaimana perkembangan pergaulan gadis itu.
Hingga akhirnya Ron dan para anak buahnya memutuskan untuk kembali ke rumah Demian.
Saat Ron dan para anak buahnya telah sampai tepat di depan rumah Demian, mereka melangkah kan kakinya masuk kedalam Rumah bak istana tersebut.
Beberapa anak buah Ron memilih menunggu di ruang tamu, dan beberapa lainnya membuntuti Ron untuk menemui Demian.
Pria itu sangat paham, Tuan besar nya sedang berada di kamar Rosalie. ia segera mengetuk pintu yang berada tepat di hadapannya.
Demian yang berada di dalam sana, seketika menghentikan aktivitasnya membaca buku. Pandangan laki-laki paruh baya itu mengarah pada Wanita yang sudah menjadi istrinya selama 25 tahun.
Sejenak Demian memperhatikan raut wajah Rosalie yang terbaring tak berdaya, maniknya masih tertutup, obat tidur yang telah di berikan dokter mempengaruhinya. Kondisi Rosalie sangat memprihatinkan, tubuhnya penuh dengan luka akibat serpihan kaca, bahkan di bagian kepalanya terbalut oleh perban karena benturan yang lumayan keras.
Laki-laki paruh baya itu memalingkan wajahnya kembali, Ekspresinya terlihat begitu datar. entah apa yang ada dalam pikiran Demian saat sejenak memperhatikan istrinya tersebut, Namun Demian sama sekali tidak pernah merasa Iba terhadap wanita itu. Di dalam pikirannya masih ada Yara, putri kesayangannya itu telah kabur dari rumah.
Demian melangkahkan kaki untuk membuka pintu, Ia tau Ron ada di balik sana.
"Kau tidak menemukan Yara?" Tanya Demian menatap ke sembarang arah.
"Maafkan saya Tuhan, saya belum bisa menemukan keberadaan Nona Yara. " Ron menundukan pandangannya, namun ia tetap bersikap tegas. "Saya juga sudah mendatangi rumah teman-teman terdekat Nona Yara. Tapi sepertinya Nona berada di tempat yang belum pernah saya ketahui."
Demian menghembuskan nafasnya dengan kasar, serasa frustasi. Rasa takut menyelimuti dirinya, Demian berharap Putrinya itu dalam keadaan baik-baik saja. Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika hal buruk terjadi pada Yara.
"Jangan khawatir Tuan, saya berjanji akan menemukan Nona Yara." Ucap Ron, menatap iba pada Demian yang raut wajahnya terlihat jelas sangat mengkhawatirkan putri kesayangannya tersebut.
Seketika manik Demian mengarah kepada Ron. "Yara adalah nyawaku, kau sangat tau bagaimana aku mencintai putriku melebihi apapun, bahkan diriku sendiri."
Ron hanya menganggukan kepalanya mendengar setiap kalimat yang di utarakan oleh Demian, Ia tau Demian sangat bersedih, namun laki-laki itu sangat pintar menyembunyikan kesedihan hatinya di hadapan Ron.
"Aku tidak pernah meragukanmu Ron."
"Saya berjanji untuk itu Tuan."
*****
Matahari pagi telah datang, cahaya nya menerobos masuk melalui celah-celah jendela apartement Nando.
Yara mengerjap-ngerjapkan matanya, ia merasakan silaunya cahaya menembus matanya. dengan setengah sadar Yara memperhatikan sekeliling. "Aku sedang berada dimana?" gumamnya, ia mencoba menyadarkan pandangannya, hingga seketika bola mata nya membulat sempurna melihat tempat itu begitu asing menurutnya.
Yara melihat ke arah samping, yang mana ada keberadaan Nando disana. mata Nando masih terpejam, laki-laki itu tertidur pulas, posisinya pun tepat menghadap ke arah Yara dengan satu tangannya melingkar di tubuh gadis itu.
Yara begitu terkesiap melihat Nando berada disampingnya dengan salah satu tangan memeluk tubuhnya, Seketika Yara menghentakkan tangan Nando dengan begitu keras, tubuhnya segera bangkit.
Nando yang merasakan sakit pada tangan nya karna sebuah hentakan yang cukup keras, ia membuka maniknya dengan sempurna.
"Dasar sialan! laki-laki bejat! brengsek!" Yara memaki Nando dengan nada suara yang begitu keras, Gadis itu melemparkan semua bantal yang berada di atas ranjang ke arah Nando dengan keras.
"Hei Nona hentikan!" teriak Nando yang kala itu menutupi wajahnya dengan telapak tangannya agar tidak terkena lemparan bantal yang bertubi-tubi dari Yara.
"Kau laki-laki brengsek! aku tidak akan berhenti memukul mu!" Yara tak hentinya memukulkan bantal terbut tepat ke wajah Nando.
Nando menarik paksa bantal yang tengah dipegang oleh yara, ia segera mungkin melemparkan bantal itu ke sembarang arah.
"apa kau sudah Gila."
"Kau yang gila! kau memberiku obat tidur supaya kau bisa berbuat semaumu kepadaku kan? Dasar brengsek!" Yara semakin mengeraskan suaranya bahkan suaranya terdengar begitu nyaring di dalam ruangan tersebut.
Nando mengernyitkan dahinya bingung. "Obat tidur?"
"Hei semalam aku hanya--"
"Apa? apa yang kau lakukan kepadaku?!"
"Aku tidak melakukan apapun kepadamu! Aku--"
"Aww." Nando mendesis Sembari mengusap pipinya yang dengan keras mendapat tamparan dari Yara.
"Kenapa kau menamparku?" Nando beranjak bangkit dari duduknya.
"itu pantas untuk laki-laki bejat sepertimu!" Yara menajamkan kedua matanya ke arah laki-laki tersebut.
"Dasar wanita tidak tau di untung!" seketika Nando semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Yara, Yara sedikit ketakutan. ia segera memundurkan langkahnya.
"mau apa kau!" bentakan Yara tak membuat langkah Nando terhenti, malah semakin mendekat.
Nando menarik tangan Yara dengan kasar lalu mencengkeramnya. "asal kau tau, semalam aku hanya menolongmu. aku tidak tau siapa dirimu dan dimana tempat tinggalmu, maka dari itu aku membawamu kemari! Tidak sedikitpun aku mempunyai niat buruk terhadapmu. jangan asal bicara!" Nando menatap tajam manik gadis yang ada di hadapannya itu.
"Lalu aku akan percaya begitu saja kepadamu?" Yara menepis kasar tangan Nando. "lihatlah tampangmu saja seperti pria hidung belang yang suka meniduri banyak wanita!" Ucapan Yara sukses membuat Nando menahan kemarahannya.
"Bicara sekali lagi akan ku lempar tubuhmu ke luar jendela!" Bentak Nando, seketika Yara ketakutan. ucapan Nando terdengar seperti ancaman baginya. Yara segera menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu.
ia bergegas mengambil tas miliknya yang di letakkan Nando di atas meja di samping ranjang.
Nando menatap kepergian Yara, ia mengacak rambutnya dengan frustasi. Namun saat sebelum dirinya kembali melangkah untuk membaringkan tubuhnya, Suara Yara mengurungkan niatnya.
"Hei brengsek!" panggil Yara.
Nando menoleh ke sumber suara. "Sepertinya kau benar-benar ingin mati!" Ucap Nando penuh penekanan.
Mendengar ucapan Nando membuat nyalinya seketika menciut. "Astaga." Gumamnya dalam hati.
"Pintu Apartement ini menggunakan pin. bagaimana bisa aku keluar dari sini." Yara mencoba memberanikan diri untuk berbicara. ia menundukan pandangannya karna ia takut melihat wajah Nando yang berubah menjadi dingin, bahkan manik laki-laki itu menatapnya dengan tajam.
"kenapa kau tidak melompat saja melalui jendela!" Ucap Nando, yang mana membuat kedua bola mata Yara membulat sempurna.
"Benar-benar brengsek!" umpatnya dalam hati
"Kenapa diam? kau tidak berani?" Nando menarik salah satu sudut bibirnya.
Yara yang merasa kesal mendengar ucapan dari Nando, segera berjalan mendekat ke arah jendela. ia sejenak melirik ke arah Nando yang sedang tersenyum seperti mengejek dirinya. "Awas saja, jika aku mati kau orang pertama yang aku cekik!" Yara bergumam sembari mencoba menaikkan satu persatu telapak kakinya di atas jendela.
"Astaga! kenapa tinggi sekali." Yara memejamkan maniknya, tangannya dengan kuat berpegangan pada sisi jendela. mencoba membuka salah satu matanya untuk melihat kemabali ke arah bawah. ia bergidik ngeri membayangkan bagaimana nantinya jika dia benar-benar terjun bebas dari atas sana.
Nando yang sedari tadi memperhatikan, seolah tak percaya dengan apa yang Yara lakukan. "berani sekali dia? aku benar-benar akan masuk penjara jika dia akan melakukannya." Gerutunya dalam hati, ia pun mendekat ke arah Yara. segera menarik tubuh gadis itu untuk turun dari sana.
"Lepaskan! kenapa kau menurunkanku?"
"Kau jangan gila!"
"Kau sendiri kan yang memintaku untuk melompat kesana?"
Nando berdecak. "menyusahkan!" ia segera melangkahkan kakinya untuk membuka pintu tersebut. Yara pun seketika tertawa. "Rasakan! itu rasakan! aku sebenarnya juga takut tadi." sejenak menoleh ke arah jendela, menggeleng-gelengkan kepalanya merasa ngeri, ia pun segera berlari menyusul Nando.
jari tangan Nando tergerak cepat memencet setiap angka yang ia buat, seketika pintu terbuka.
"Untung aku tidak jadi mati, jika jadi akan ku datangi kau setiap malam sampai kau gila!"
Yara pun bergegas keluar dari dalam sana, langkah kakinya tergerak cepat menjauh dari jangkauan Nando.
"Dasar wanita gila! aku kira di balik wajahnya yang polos itu dia mempunyai sisi yang lembut, ternyata sikapnya begitu liar mengalahkan singa yang bertahun-tahun tidak menemukan makanan."
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻