
Setibanya dirumah sakit Nando segera membawa Yara ke ruang rawat, seperti sebelumnya karna kaki Yara masih tidak bisa dibuat untuk berjalan, Nando pun tak Merasa keberatan jika harus menggendong Yara kembali.
Dokter segera memeriksa kaki dan tangan Yara yang terluka, dengan ditemani Nando yang berada di dalam ruangan tersebut.
Setelah dokter memberitahu jika luka Yara tidak terlalu parah, Dokter pun menyarankan Yara tidak harus dirawat inap.
Setelahnya Nando memutuskan untuk membawa Yara pulang. Mereka berdua bergegas berjalan menuju mobil Yara yang terparkir dihalaman rumah sakit.
Yara yang merasa tidak enak jika Nando harus menggendongnya lagi untuk kembali ke mobil, ia pun dengan susah payah menahan rasa sakitnya berusaha untuk berjalan sendiri, Namun masih dengan Nando yang membantu memapahnya.
Nando melajukan mobil Yara dengan kecepatan sedang.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua telah sampai di apartement milik Yara. Nando terlebih dahulu turun lalu membantu Yara kembali untuk memapahnya.
*****
Didalam apartement Yara dan Nando mendudukan tubuhnya di atas sofa.
"Nando Terimakasih, maaf sudah merepotkanmu." Ucap Yara, ia merasa tidak enak dengan Nando yang sudah banyak membantunya.
"Tidak apa-apa."
"Oh iya apa masih sakit?" Tanya Nando seraya memijat-mijat pelan kaki Yara.
Yara mengangguk pelan, Ia memperhatikan raut wajah Nando dengan Seksama, entah pikirannya saat ini Nando terlihat sangat-sangat tulus membantunya dan sangat perhatian. bahkan Nando rela tidak berkuliah hanya untuk mengantarnya pergi ke rumah sakit. tidak seperti saat sebelum Nando mengucapkan kata cinta kepadanya, Nando sangat menyebalkan saat itu menurutnya. Namun setelahnya Yara merasa jika Nando benar-benar berbeda.
"Ehm sepertinya kakimu bengkak." Nando mengalihkan pandangannya kepada Yara, membuat lamunan Yara buyar seketika.
"Benarkah?" Tanya Yara seraya menyentuh kakinya.
"Aku akan memanggilkan tukang pijat." Ucap Nando.
"Untuk apa?" Tanya Yara.
"Membersihkan apartement." Sahut Nando.
"memanggil tukang pijat ya untuk memijat kakimu!" Nando beranjak berdiri hendak melangkahkan kakinya, Namun dengan cepat Yara menarik tangannya.
"Tidak usah. ini hanya bengkak sedikit nanti juga akan sembuh." ujar Yara.
"Apanya yang sembuh? kalau tidak dipijat nanti akan fatal, kau mau jika tidak bisa berjalan selamanya." Nando sedikit mengeraskan nada bicaranya, ia sedikit kesal karna Yara terus saja bersikap keras kepala.
"Kau jangan menakuti ku, tidak mungkin hanya terkilir saja berakibat fatal." Yara merasa sedikit takut akan ucapan Nando yang terdengar serius ditelinganya. pasalnya baru kali ini ia merasa kakinya terkilir dan ia tidak pernah tau jika terkilir dan tidak segera dipijat atau diobati akan berakibat fatal.
"Aku tidak menakutimu. tapi itu kenyataannya." Ucap Nando.
"Jadi bagaimana?" Tanya Nando.
"Bagaimana apanya?" Tanya Yara kembali.
"Mau dipijat atau tidak?" Tanya Nando.
"I-iya terserah kau saja, tapi..."
"Tapi apa?"
"Sakit tidak kalau dipijat?"
"Tidak tau, aku tidak pernah merasakannya." Jawab Nando.
Seketika Yara membulatkan kedua matanya. "Dasar sialan! kalau kau tidak pernah merasakannya, lalu kenapa kau menakuti ku!"
Nando menghela nafasnya panjang. "Banyak bicara! aku memang tidak pernah merasakannya, Tapi Darwin yang pernah merasakannya. kakinya pernah terkilir saat bermain basket sama sepertimu susah saat berjalan tapi setelah dipijat dia bisa berjalan normal lagi."
"Astaga, sudahlah aku bisa gila jika terus saja berdebat denganmu hanya karna masalah memijat." Nando bergegas pergi keluar untuk menemui Bi Kina yang dulu pernah memijat kaki Darwin saat terkilir. tanpa memperdulikan Yara yang terus memanggil-manggil namanya.
"Kalau sakit bagaimana?"
"Astaga dia sungguh menyebalkan." Yara terus saja mengoceh dengan tidak jelas.
*****
Beberapa menit kemudian Nando datang dengan seorang wanita paruh baya. Nando mempersilahkan wanita tersebut untuk duduk dan segera melakukan apa yang sudah ia perintahkan.
Bi Kina pun mengiyakan, ia mulai memijat kaki Yara yang memang sudah terlihat membengkak.
Yara yang merasa kesakitan terus berteriak-teriak, bahkan suaranya terdengar menggema di dalam ruangan. ia menajamkan maniknya kepada Nando seraya mendesis kesakitan. Nando hanya melirik lalu memalingkan wajahnya, ia merasa tidak tega melihat Yara terus merengek bahkan berteriak akan rasa sakitnya.
"Tahan Nona, ini memang lumayan parah. tulang pergelangan kaki Nona Yara sedikit bengkok." Ujar Bi Kina.
"Sakit Bi, Sakit." Yara terus berteriak, Bahkan air matanya terlihat mengalir membasahi pipinya. Yara tidak bisa menahan rasa sakitnya. ia sesekali meronta, Namun tangan Bi Kina lebih kuat menahannya. ia sudah terbiasa menghadapi pasien-pasien yang seperti itu.
*****
Setelah mengantar Bi Kina kembali pulang ke rumahnya, Nando pun segera kembali untuk menemui Yara ke apartement tersebut.
Namun tiba-tiba ia terpikirkan sesuatu, ia lupa jika belum menghubungi Alesya untuk mengizinkan Yara kepada Dosen. Nando segera meminggirkan mobil Yara yang telah ia pinjam ke tepi jalan, lalu ia mengambil ponsel miliknya yang berada disaku celana nya.
'Hallo.' Suara Alesya diseberang sana.
"Alesya, tolong izinkan ke dosen Yara tidak bisa berkuliah hari ini." perintah Nando.
'memangnya kenapa?' tanya Alesya.
'Kau sedang bersama Yara? ada dimana Yara sekarang?'
"Tadi saat aku bertemu dengan Yara, dia terjatuh dan kakinya terkilir. tapi aku sudah membawanya ke rumah sakit."
'Astaga, lalu bagaimana Keadaan Yara saat ini Nando?'
"Kau tenang saja, Yara sudah baik-baik saja sekarang, dia Ada di Apartemennya saat ini."
'Syukurlah. Baiklah kalau begitu nanti aku akan mengizinkannya ke dosen.'
"Oh Iya tolong beritahu kepada Darwin atau Bryan untuk mengizinkanku juga."
'Baiklah. Nanti sepulang kuliah aku dan Valen akan menemui Yara.'
"Terimakasih Alesya."
Nando dan Alesya saling memutuskan panggilan masing-masing. Setelah itu Nando melanjutkan lagi melajukan mobil tersebut untuk kembali ke apartement Yara.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan lupa Vote dan Likeπ