My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #40



"Kenapa kau tidak pulang?" Yara melepaskan tubuhnya dari pria yang ada dihadapannya tersebut.


Hanya dengan satu tarikan tangan, Nando mendekap tubuh Yara kembali. "aku kan sudah bilang, aku masih merindukanmu."


Wajah Yara mengadah menatap manik Nando dengan penuh makna. mengapa rasanya sangat nyaman saat Nando memeluknya seperti itu. bukankah Yara membenci Nando? pikiran Yara kembali kacau seketika, Nando beberapa kali mengatakan cinta, dan Yara selalu saja menyangkalnya mengira bahwa perkataan Nando hanyalah bercandaan saja.


Yara memang masih trauma jika dekat dengan laki-laki, apalagi harus menjalin hubungan. Namun Yara merasa rasa trauma itu perlahan hilang seiring berjalannya waktu. mendapat perlakuan manis dari Nando membuatnya sedikit sadar akan rasa cinta Nando yang benar-benar tulus kepadanya, bahkan saat Nando mengatakan hal itu, entahlah membuat perasaan Yara berubah seketika.


Namun di sisi lain Yara tidak ingin jika suatu saat nanti Nando akan bersikap sama seperti papanya, Demian. jatuh cinta memang mudah, hanya dengan saat seseorang memberi perhatian lebih, kasih sayang yang tulus, dan bersikap manis membuat hati siapa saja akan meleleh merasakannya.


Tapi, bagaimana jika suatu Saat kita telah memutuskan untuk menjatuhkan hati kepada seseorang hingga dititik yang paling dalam, seketika orang yang kita cintai berubah begitu saja, tidak hanya sikapnya, namun rasa cintanya juga akan menghilang entah kemana. menyakitkan bukan? tidak hanya itu, tapi trauma akan rasa cinta itu sendiri sudah pasti membekas selamanya tanpa tau kapan kita akan menemukan sosok pengganti untuk menyembuhkan bekas luka tersebut yang bukan hanya sesaat seperti sebelumnya, tapi selamanya.


Yara mencoba untuk menghargai sikap Nando yang terbilang tulus kepadanya, Namun Yara masih enggan jika harus menjalin suatu hubungan yang ia pikir nantinya hanya bersifat sementara. berkomitmen akan suatu hubungan tidaklah mudah, apalagi mereka masih terbilang baru saja menuju kedewasaan yang sangat rentan terhadap main-mainnya suatu hubungan.


Yara pernah berjanji terhadap dirinya sendiri, sekalinya ia jatuh cinta kepada seseorang, ia akan menjaga rasa cinta dalam diri dan hatinya hingga waktu yang telah impikan benar-benar terjadi. Ya, ikatan yang sebenarnya ialah menikah. Biar saja semua berjalan dengan apa adanya, biar saja waktu yang menentukan takdir mereka berdua.


"Nando..." panggil Yara.


Tanpa melepaskan dekapan hangatnya kepada Yara. "Ya."


"Kau mencintaiku?"


"Kau tidak bisa merasakannya?"


Yara terdiam, ia mencoba untuk berpikir kembali akan niatnya. untuk berusaha menerima sikap tulus dari Nando.


"Apa kau mempunyai alasan kenapa kau mencintaiku?"


Nando menghela nafasnya panjang, ia melepaskan pelukannya kepada Yara. memberi sedikit ruang agar ia bisa leluasa menatap wajah Yara yang ia rasa sangat tentram jika memandangnya.


"Yara... bukankah mencintai seseorang tanpa alasan itu hal yang wajar? tapi jika kau ingin aku mengatakan alasan mengapa aku mencintaimu. aku mencintaimu karena kau mampu membuka hatiku kembali."


"Maksutmu membuka hatimu kembali?" Yara berfikir bahwa Nando mungkin pernah merasakan patah hati dengan mantan kekasihnya, tapi rasanya tidak mungkin laki-laki seperti Nando pernah disakiti oleh wanita, yang ada Nando lah yang menyakiti hati wanita atau mantan kekasihnya. Yara masih mengira bahwa Nando ialah tipe Laki-laki yang suka mempermainkan hati wanita. Namun Yara berusaha untuk tidak terlalu peduli akan hal itu, bukan urusannya juga pikirnya.


"Aku bukan tipe laki-laki yang mudah menjatuhkan hati pada seseorang, jika hatiku mengatakan kau adalah wanita yang paling tepat. aku berjanji pada diriku sendiri akan selalu membuat wanitaku bahagia, slalu mencintainya, dan akan selamanya begitu."


Yara seketika bungkam, lagi dan lagi ia melihat raut wajah Nando dengan sangat tulus mengatakannya.


rasa percayanya terhadap Nando belum sepenuhnya ia berikan, Namun ia akan berusaha untuk menerima sikap tulus Nando kepadanya. mungkin akan lebih baik seperti itu daripada harus mengecewakan perasaan orang lain yang sudah menjatuhkan hati kepadanya, tidak mungkin jika harus menolaknya begitu saja. menghargai perasaan orang lain jauh lebih baik pikirnya.


"Aku hanya tidak ingin membuatmu kecewa."


"jika suatu saat kau benar mengecewakanku, mungkin memang aku bukan pria yang tepat untukmu." Nando berusaha untuk tersenyum mengatakannya, namun dibalik senyumnya yang terlihat tulus, hatinya merasa was-was akan perkataan Yara, apa harus ia menyiksa batinnya kembali, menyakiti hatinya lagi, mengharapan balasan cinta yang bahkan ia belum tau akankah itu sia-sia atau sebaliknya.


Mengingatkan kembali akan masalalunya, dengan bodohnya ia mempertahankan seseorang, meyakinkan rasa cintanya. tapi dengan mudahnya wanita yang ia cintai meninggalkannya begitu saja. tak memberikan alasan sedikitpun terhadapnya.


"aku akan berusaha untuk membuka hatiku." Genggaman tangan Yara, membuyarkan lamunan Nando seketika.


Ia terkesiap akan perkataan gadis itu, namun perasaannya sedikit lega. ia tak menyangka jika Yara benar-benar mengatakannya.


"Kau akan jatuh cinta kepadaku."


"Yakin sekali."


"Aku tau hatimu merasakan, hanya saja mulutmu itu yang selalu saja menyangkalnya."


"Jangan terlalu percaya diri." Seketika Yara menajamkan maniknya nenatap Nando. "aku hanya menghargai ketulusanmu."


"Kalau aku berhasil membuatmu jatuh cinta kepadaku bagaimana?"


"Kita lihat saja nanti."


"Baiklah."


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


jangan lupa Vote dan LikeπŸ’š