
"Aku sedang kesal dengan, wanita itu." ucap Valen kepada Bryan, jarinya menunjuk ke arah Samira.
Bryan segera mengalihkan pandangan nya mengikuti jari telunjuk Valen yang mengarah pada Samira.
Bryan hanya sekilas menatap ke arah Samira, lalu ia kembali menatap wajah kekasihnya. Bryan mengernyit tidak mengerti apa maksut Valen. "Siapa dia sayang? Kau mengenalnya? kenapa kau kesal dengannya? apa dia mengganggumu?" Tanya Bryan secara beruntun.
"Aku tidak mengenalnya." Valen menggelengkan kepalanya. "Tapi Yara sangat mengenal Wanita itu, Dia sudah mengganggu kehidupan Yara. Dia---" Valen menghentikan ucapanya. saat ia melihat Yara memperhatikannya.
"Dia apa? maksutmu menggangu kehidupan Yara bagaimana?" Tanya Bryan, maniknya bergantian menatap ke arah Yara dan Valen yang saling beradu pandang.
Yara menggelengkan kepalanya. "No." Ucapnya tanpa suara. Seketika Valen menghela Nafasnya dengan kasar.
"Sayang..." Panggil Bryan, ia menunggu ucapan Valen yang terhenti, Ia masih penasaran dengan ucapan kekasihnya yang berkata bahwa Wanita yang Kekasihnya maksut adalah Samira, sudah mengganggu kehidupan Yara.
"Ehm, tidak apa-apa." Valen menggelengkan kepalanya seraya menepiskan senyuman. "Oh iya sayang apa kau ingin memesan makanan?" Tanya Valen mengalihkan pembicaraan.
Bryan yang memang sudah merasa sangat lapar sejak tadi, mengingat pagi tadi ia tidak sempat sarapan karena terburu-buru. Bryan menganggukan kepalanya cepat saat kekasihnya itu menawarkan makanan kepadanya. "Tolong pesankan makanan yang sama denganmu, aku sangat lapar. tadi pagi aku tidak sempat Sarapan hanya meminum teh saja." Jawab Bryan raut wajahnya terlihat memelas.
"Baiklah, aku akan memesankan makanan untukmu." Ucap Valen, ia segera beranjak dari tempat duduknya, memesankan makanan untuk kekasihnya tersebut.
Yara menghela nafasnya lega saat Bryan tak mempertanyakan perihal ucapan Valen tentang Samira kepadanya.
"Yara..." Panggil Bryan.
Yara yang baru saja bernafas lega, kini kembali merasa jantungnya berdetak sedikit kencang, ia khawatir jika Bryan akan bertanya soal apa yang diucapkan oleh Valen tadi. Yara hanya tidak ingin masalah keluarganya diketahui oleh orang lain, selain kedua temannya tersebut, sekalipun Bryan adalah tunangan Valen. Namun Yara berusaha untuk bersikap tenang.
"Ehm ada apa Bryan?" Tanya Yara. raut wajahnya terlihat gugup.
"Aku ingin meminta maaf padamu." Jawab Bryan nada suaranya terdengar Lirih.
"Minta Maaf? untuk apa?" Yara mengernyit bingung kenapa kekasih dari temannya ini tiba-tiba meminta maaf kepadanya dan perminta maafan Bryan untuk apa. Yara bertanya-tanya.
"U-untuk kejadian pada saat di Club milik papa Nando." Jawab Bryan sedikit terbata-bata.
"Kejadian di Club? aku benar-benar tidak mengerti apa maksutmu.
"Saat di Club milik paman Weston aku sempat mendorongmu dan membentakmu, Aku benar-benar minta maaf Yara." Ucap Bryan menjelaskan, raut wajahnya terlihat merasa Bersalah.
Yara mencoba mengingat-ingat kembali apa yang diucapkan oleh Bryan. "Oh masalah itu, Tidak apa-apa Bryan, lagipula memang aku yang salah sudah membuat kekacauan. Kau tidak perlu meminta maaf, aku sudah melupakannya." Ucap Yara ia menyunggingakn senyuman kepada Bryan.
"Kau memaafkanku?" Tanya Bryan memastikan.
"Aku yang bersalah Bryan, wajar jika kau bersikap seperti itu." Seru Yara.
"Tapi kau memafkanku kan?" tanya Bryan kembali.
"Bisa-bisa aku akan dimarahi oleh Nando jika kau tidak memaafkanku." Ucap Bryan.
"Nando? dia yang menyuruhmu untuk meminta maaf padaku?"
"Tapi, aku memang sudah berniat untuk meminta maaf padamu, Maafkan aku Yara."
"Benar saja Nando berkata seperti itu, Kau gila berbuat kasar kepada Yara." Sahut Alesya yang sedari tadi hanya diam disamping Yara, yang hanya memperhatikan Yara dan Bryan.
"Maka dari itu aku berniat meminta maaf kepada Yara." Seru Bryan.
"Tetap saja, Kau kan bisa tidak usah berbuat kasar seperti itu kepada temanku." Ucap Alesya memelototkan kedua bola matanya kepada Bryan. Bryan semakin merasa bersalah kepada Yara saat mendengar Ucapan Alesya yang memang ada benarnya menurutnya.
"Alesya sudah lah, lagipula aku yang bersalah sudah membuat kekacauan saat itu." Ucap Yara ia tidak ingin ucapan Alesya membuat Bryan semakin merasa bersalah Kepadanya. bagaimanapun juga Bryan sudah berusaha untuk meminta maaf kepadanya. "Bryan, aku sudah melupakan kejadian itu, dan aku sudah memaafkanmu." Imbuh Yara, ia menyunggingkan senyuman kepada Bryan.
"Benarkah? Terimakasih Yara." Ucap Bryan ia membalas senyuman tulus dari Yara.
Valen yang sedang memesan makanan pun akhirnya sudah kembali menghampiri kedua temannya dan kekasihnya. ia membawa satu piring makanan berisikan makanan yang sama dengan makanan Miliknya serta 1 gelas jus alpukat kesukaan Bryan. Valen menaruh makanan dan minuman tersebut tepat dihadapan Bryan.
"Makanlah." perintah Valen kepada Bryan, Bryan pun mengangguk mengiyakan.
"Terimakasih sayang..." Ucapnya sembari mecubit pipi Valen dengan gemas.
"Aww... kenapa Kau ini suka sekali mencubit pipiku." Seru Valen seraya memegangi pipinya yang sedikit terlihat merah akibat cubitan dari Bryan.
"Karena sangat menggemaskan." Sahut Bryan sembari melebarkan senyumnya kepada Valen. "aku mencintaimu." Ucapnya sedikit berbisik kepada Valen. Seketika pipi Valen langsung bersemu merah akan ucapan Bryan.
Valen memukul pelan bahu Bryan. "Jangan begitu, aku malu dengan Yara dan Alesya."
Alesya yang mendengar hanya memutar bola matanya malas.
"Biar mereka merasa iri dengan kita." Ucap Bryan menepiskan senyum seraya melirik ke arah Alesya dan Yara yang ada Dihadapannya.
Yara hanya tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, melihat Tingkah Bryan dan Valen.
"Kau ini, sudah cepat makan makananmu." Perintah Valen kembali. Bryan pun segera melahap makanan miliknya yang telah dipesankan oleh Valen.
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Jangan lupa Vote dan Like.