My Strange Wife

My Strange Wife
Dia Juga Menyetujuinya #12



"Kau ini bicara apa!" Bryan tersenyum miring, ia sama sekali tidak mengerti mengapa Nando harus membicarakan hal ini.


"Aku sudah pernah mengatakannya, bukan?!" lanjutnya kembali.


Nando menatap tanpa arti manik mata Bryan. rasa sedikit sesal harus membicarakannya, secara sadar atau tidak Nando telah membicarakan masalalu yang harusnya tidak ia ungkit kembali.


Nando hanya mengira bahwa Bryan masih tenggelam dalam masalalunya yang kelam, dan di situ peran Nando sudah pasti terlibat.


"Nando maaf..." Ucap Bryan menggantungkan kalimatnya.


"Aku sedikit keberatan jika kau membicarakan hal itu lagi. kita sudah sepakat untuk tidak mengungkitnya kembali." Bryan mencoba mengingatkan kembali kepada Nando, keputusan yang sudah mereka buat dan sepakati.


"Maaf..." hanya kalimat itu yang lolos dari mulut Nando, Laki-laki itu mengingat jelas bagaimana ucapan kesepakatan itu lolos dari bibir masing-masing. Nando tau jika Bryan adalah orang yang paling menderita pada saat itu dan itu semua adalah penyebab dirinya. Nando siap menerima apapun yang akan Bryan lakukan kepadanya. Namun apa yang Nando bayangkan tidak sama dengan kenyataannya, Ia di buat terkejut saat Bryan memilih untuk memaafkan dan tetap menjadikan dirinya sabahat terbaiknya termasuk Darwin, Sungguh memalukan bagi dirinya sendiri. hatinya melebur saat karma menamparnya dengan sangat keras. seketika hidupnya hancur karena kebodohan mengendalikan dirinya, rasa sakit itu masih belum sembuh sepenuhnya luka itu masih meninggalkan bekas yang tidak akan bisa pudar walau seiring waktu berjalan.


***


"Sudahlah, anggap saja semua yang pernah terjadi pada kalian itu tidak pernah ada." Kini Darwin menjadi penengah di antara kegelisahan yang di rasakan kedua sahabatnya tersebut.


Bryan menyunggingkan senyumnya. "iya, aku memang tidak pernah menganggap kejadian itu ada." sahut Bryan, pandangannya kini beralih kepada Nando yang hanya menatap kosong sembarang arah. mungkin Nando merasa bersalah atas apa yang tidak sadar ia ucapkan, pikiran Bryan mencerna seperti itu.


Bryan menepuk bahu Nando pelan. "Kau harus percaya, tidak ada hal apapun yang bisa memecah belah persahabatan kita!" Ucapan Bryan membuat Nando semakin merutuki kebodohannya, dirinya memang yang paling egois di antara kedua sahabatnya. hal itu membuat Nando merasa semakin menyesal.


"Maafkan aku Bryan, kau sudah melihatnya dengan jelas konsekuensi yang aku terima." Nando berusaha menyembunyikan rasa malu di depan sahabatnya tersebut. Bryan bisa melihat jelas penyesalan dari raut wajah lelaki itu.


"Sudahlah Nando, yang kita harus lakukan saat ini adalah mengubur dalam-dalam masalah itu." Bryan tersenyum tulus, ia hanya tidak mau melihat Nando yang terus menerut berkecambuk akan rasa sesalnya.


Nando hanya menganggukan kepalanya, seketika pandangannya mengarah ke sembarang arah.


"lalu selanjutnya bagaimana?" Darwin melayangkan pertanyaan kepad Bryan.


"Apa?"


Bryan tak langsung menjawab pertanyaan dari Darwin, perlu beberapa saat ia terdiam.


"Dari awal aku memang menolak keras di jodohkan dengannya."


Darwin yang sedari tadi tak mengubah arah pandangannya kepada Bryan, Nando yang sebelumnya menatap ke sembarang arah kini maniknya juga mengarah kepada Bryan sejak mendengar kalimat pertama yang laki-laki itu ucapkan. ia menunggu Bryan melanjutkan kalimatnya.


"Tapi, sejak awal aku bertemu dengannya, aku tidak memiliki rasa benci sedikitpun kepada Vallen." Ucapnya gusar.


"Aku tau Vallen gadis yang baik, dia selalu menuruti kemauan orang tuanya. terlebih lagi orangtuaku sudah berteman sejak lama dengan orang tua Vallen."


"Lalu bagaimana dengan Vallen?" tanya Nando.


"seperti yang kau lihat." Manik Bryan mengarah pada amplop hitam berisikan udangan pertunangannya dengan Vallen.


"Dia juga menyetujuinya."


"selain baik, dia juga gadis yang sangat manis. seharusnya kau merasa beruntung bila di jodohkan dengan gadis seperti Vallen." Ucapan itu lolos dari bibir Darwin, Ucapan Darwin terdengar apa adanya tidak di lebih-lebihkan. Bryan menatap datar raut wajah Darwin, ia tidak pernah mendengar Darwin memuji seorang wanita sekalipun itu kekasihnya sendiri. Ya, sikap Darwin memang hampir sama dengan dirinya dan juga Nando. ketiga laki-laki itu memang selalu acuh jika menyangkut perihal wanita. namun tak bisa di pungkiri ucapan Darwin memang ada benarnya pikir Bryan, tapi tiba-tiba Bryan mencoba untuk menyangkalnya.


.


.


.


.


.