My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #23



Bryan terlihat terburu-buru, ia terlambat bangun, Bryan segera mempercepat aktivitasnya berganti pakaian dan berkemas sesekali maniknya melirik jam yang melekat pada dinding kamarnya.


Setelah semua yang ia lakukan selesai, ia segera keluar dari dalam kamar, bahkan ia tak sempat untuk sarapan hanya meminum teh hangat yang sudah tersedia di atas meja makan yang sudah dusiapkan oleh pembatu rumahnya tersebut


"Tuan muda tidak sarapan terlebih dahulu?" tanya pembatu tersebut sembari menaruh roti diatas piring yang ada dimeja makan.


"Tidak bi." Jawab Bryan dengan cepat lalu meneguk habis teh yang berada didalam cangkir tersebut.


"Tapi Tuan, nanti kalau Tuan muda lapar bagaimana?" Ucap Bi Mercy.


"Tidak usah bi, Bryan sudah terlambat. belum lagi Bryan harus menjemput Valen terlebih dahulu." Seru Bryan.


"Tapi Tuan-- "


belum sempat Bi Mercy melanjutkan ucapannya, Bryan sudah berlalu bergegas melangkahkan kakinya keluar, Bi Mercy yang melihat Bryan berjalan sedikit cepat menjauh dari sana hanya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Disaat Bryan membuka pintu rumahnya bersamaan dengan datangnya sebuah mobil, Mobil itu tak lain ialah mobil milik Nando, didalam mobil Nando bersama dengan Darwin.


Nando dan Darwin mengurungkan niatnya untuk turun dari mobil. mereka berdua hanya memperhatikan Bryan dari dalam Mobil, Melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke mobil miliknya. Bryan memberi isyarat kepada Nando supaya temannya itu segera melajukan mobil miliknya. Nando pun segera melakukannya. Mobil Bryan membuntutinya dari belakang.


*****


Yara, Valencia, Dan Alesya. mereka terlihat menunggu kedatangan Bryan. Sudah hampir 30 menit berlalu namun Bryan tak kunjung datang.


Valen meremas-remas tanganya sembari maniknya memperhatikan pintu rumah Alesya yang sedikit terbuka, dari arah dapur.


Valen mencoba untuk menghubungi kekasihnya tersebut, namun Bryan tak menjawab panggilan teleponnya. Valen semakin gelisah, ia melirik ke arah Yara dan juga Alesya, kedua temannya itu sedang fokus membaca buku yang dipegang oleh masing-masing, Valen merasa sungkan dengan kedua temannya yang memutuskan untuk menemaninya menunggu Bryan datang menjemputnya.


Valen mencoba menghubungi kembali ponsel milik Bryan, namun tetap saja Bryan tak menjawabnya.


Raut wajah Valen terlihat kesal ia mengumpat. "Sialan!" Suaranya terdengar sedikit keras. membuat Yara dan Alesya menghentikan ativitasnya dari membaca buku, lalu menoleh ke arah Valen.


"Kau kenapa Valen?" Tanya Yara mengernyitkan dahinya.


"Iya, kenapa kau mengumpat? lalu itu kenapa wajahmu terlihat kesal seperti itu?" Tanya Alesya seraya memperhatikan raut wajah Valen.


bukannya menjawab pertanyaan dari kedua temannya, Valen malah mengoceh sendiri. "Dia selalu membuatku kesal." Ucapnya, maniknya terfokus pada ponsel yang sedari tadi ia utak-atik.


"Hei!" Teriak Alesya didekat daun telinga Valen, merasa pertanyaan darinya dan Yara tidak dijawab.


Valen hanya melirik ke arahnya. "Apa?"


"Kau tidak mendengar aku dan Yara sedang bertanya kepadamu." Seru Alesya memelototkan kedua bola matanya.


"Kau ini apa tidak bisa jika sedang berbicara, tidak melotot seperti itu?" Ucap Valen, Ia memalingkan wajahnya dari tatapan Alesya. "Ingin sekali ku colok matanya jika dia melotot seperti itu." Gumamnya dalam hati.


"Tidak bisa! memangnya kenapa? ada masalah denganmu?" Alesya berbicara dengan ketus. "aku dan Yara sedang bertanya padamu, kenapa tidak kau jawab dan malah mengoceh sendiri. apa kau tidak dengar?"


"Aku dengar! Tapi Aku sedang kesal!" Ucap Valen mengerucutkan bibirnya.


"Bryan tidak juga datang Yara, aku sangat kesal dengannya, Aku sudah menghubunginya berkali-kali tapi tidak dijawab." Ucap Valen, raut wajahnya menahan amarah


"Sabarlah sedikit, mungkin dia masih berjalan kemari." Seru Yara.


"Awas saja jika sampai kita terlambat, Aku benar-benar marah padanya." Ucap Valen nada Suaranya teedengar mengancam.


*****


Tak lama kemudian suara mobil terdengar Samar di telinga ketiganya. Bryan dan kedua temannya baru saja sampai di rumah Alesya.


Valen beranjak dari dari duduknya, ia mekangkahkan kaki nya dengan sangat cepat untuk segera keluar. Dilihatnya Bryan, Nando dan Darwin turun dari mobil masing-masing. Bryan pun segera menghampiri Valen yang berdiri tepat didepan pintu rumah, manik matanya menajam mengarah ke Bryan.


"Sayang..." Sapa Bryan melebarkan senyumnya, Ia hendak memeluk Valen, Namun dengan cepat Valen memundurkan tubuhnya dari Bryan.


"Kenapa?" Tanya Bryan menautkan kedua alisnya.


Valen hanya diam masih menatap tajam ke arah kekasihnya itu. Bryan mencoba untuk memeluk Valen kembali. Namun Valen langsung mendorongnya Bryan sedikit keras membuat tubuhnya bertabrakan dengan Darwin yang berdiri tepat dibelakang Bryan.


"Tidak usah merayuku!" Ucap Valen dengan ketusnya. membuat Bryan mengernyit heran.


"apa kau sudah gila, Aku menunggumu sudah lebih dari 30 menit. Kalau aku dan teman-temanku terlambat bagaimana?!" Seru Valen sedikit mengeraskan nada suaranya.


"Ehm, I-iya ma-maaf, Aku tadi terlambat bangun." Jawab Bryan Dengan terbata-bata, membuat Nando dan Darwin yang melihat temannya terkena omelan oleh Valen, menahan tawanya. bahkan Ekspresi wajah Bryan terlihat ketakutan.


Yara dan Alesya terlihat barusaja keluar dari dalam, Mata Yara membulat seketika saat melihat keberadaan Nando di hadapannya. Nando menyunggingkan senyuman kepada Yara, namun Yara dengan cepat memalingkan wajahnya dari Nando. "Kenapa dia kemari lagi?" gumamnya dalam Hati. Ia heran mengapa Nando dan Darwin selalu membuntuti Bryan. bahkan Bryan ingin kuliah saja mereka ikut.


Alesya menyapa Darwin dan Nando dengan seyuman. kedua pria itupun membalas senyuman Alesya.


Yara masih tidak mengetahui bahwa Nando dan Darwin kuliah ditempat yang sama dengannya dan kedua temannya tersebut. mengingat Valen bercerita hanya Bryan yang satu kampus dengan mereka.


Berbeda dengan Alesya, ia hanya bersikap biasa saat melihat kehadiran Nando dan Darwin, karena ia sudah mengetahui jika Nando dan Darwin juga kuliah ditempat yang sama. Darwin sempat bercerita saat kemarin malam berbincang dengannya.


"Yara, Alesya ayo aku akan ikut bersama kalian." Ajak Valen ia melirik ke arah Bryan dengan sinis.


.


.


.


.


.


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Jangan lupa Vote dan Like