
Manik Yara melirik tajam ke arah laki-laki paruh baya yang tak lain ialah ayah kandungnya itu. kedua manik gadis itu terlihat berkaca-kaca, perasaannya tiba-tiba kacau. mungkin gadis itu memang sangat membenci sikap Demian yang tak hanya sesekali berbuat kasar terhadap Rosalie, wanita yang telah melahirkan Yara, membesarkan anak gadis nya dengan penuh kasih sayang dan pengorbanan. namun, tak bisa di pungkiri seburuk atau sekejam apapun sikap Demian ia tetap menyayangi ayahnya tersebut. bagaimana pun juga laki-laki itu sangat mencintai putri semata wayangnya itu, ya walaupun ia tak sedikitpun mempunyai rasa cinta terhadap istrinya sendiri.
"Yara..." Ucapan Demian terdengar sangat lirih, seketika Yara mengalihkan pandangan ke sembarang arah.
"Jika papa tidak memiliki rasa cinta dan rasa sayang sedikit saja terhadap mama, setidaknya papa bisa tidak berulang kali menyiksa mama!" Yara masih tak mengalihkan pandangannya. Ucapannya terdengar bahwa gadis itu benar-benar kecewa akan sikap Demian.
Demian seketika terdiam, ia menghela nafasnya dengan berat.
"Maafkan papa, nak." Sebelum demian melanjutkan ucapannya, Yara terlebih dahulu menukasnya.
"Aku tidak peduli sekalipun papa berhubungan dengan wanita lain! aku sungguh tidak peduli!" Yara sedikit meninggikan suaranya. gadis itu kini menatap tajam ke arah Demian.
"Aku hanya tidak ingin jika berulang kali papa selalu berlaku kasar terhadap mama! apa papa pernah sedikit saja peduli dengan mama?" Demian masih terdiam, maniknya menatap dalam raut wajah putrinya yang basah akibat air matanya sudah tidak bisa ia tahan lagi, bahkan air mata Yara terjatuh berulang-ulang kali.
"Walaupun papa selalu berbuat kasar, mama tidak pernah sekalipun berniat untuk meninggalkan papa. Mama selalu tulus kepada papa tanpa Mama berbicara pun Yara sudah bisa melihatnya!" Air mata Yara semakin menderas saat mengatakan hal itu di hadapan Demian, mungkin ucapannya bisa jadi newakili isi hati Rosalie selama ini. Terasa menyakitkan bagi Yara mengingat Rosalie berjuang sendirian mempertahankan rumah tangganya dengan pria yang tidak pernah mau peduli dengan ibunya, berbuat baik sedikit saja tidak pernah. "Bahkan tidak hanya Tubuh mama yang papa siksa, batin dan hatinya juga papa siksa!"
"kenapa tidak sekalian papa bunuh saja mama?!" Ucapan Yara terdengar pelan namun dibalik itu Hatinya merasa tercabik-cabik mengatakan hal yang sangat menyakitkan bagi dirinya. Mungkin lebih baik Yara melihat Rosalie tiada daripada harus melihat Rosalie hidup namun penuh siksaan dari Suaminya sendiri.
Demian dan Ron terkesiap saat mendengar ucapan dari Yara. Ron yang sedari tadi hanya diam menatap Yara dan juga Tuan besarnya kini hatinya tiba-tiba juga merasakan sakit saat mendengar setiap kalimat yang di ucapkan oleh Yara. Ron menatap kedua bola mata Yara dengan sangat dalam ada rasa iba terhadap gadis itu. Ron sangat mengenal sifat Yara bahkan saat dirinya dan Yara masih berusia 10 tahun Ron sering kali mendapati Yara selalu menangis dan menyendiri, Namun Ron hanya bisa menatap dari kejauhan tanpa bisa mendekat untuk sekedar menenangkan hatinya.
Ron yang maniknya tak lepas memperhatikan kedua ayah dan anak itu saling berpelukan, seketika ada rasa terharu, laki-laki itu tersenyum tipis dan hatinya merasa tentram melihat pemandangan yang sudah lama sekali tidak ia lihat itu, dalam hati Ron mengucap agar setelah kejadian ini Tuan besar serta Anak semata wayangnya bisa baik-baik saja, begitupun dengan Rosalie. semoga hati Demian cepat tergerak agar Demian sedikit mempunyai rasa peduli dan rasa iba terhadap Rosalie. "segera bukalah mata dan Hati Tuan Demian, Tuhan." ucapnya dalam hati.
Dan semenjak hari itu, Yara meminta Demian agar berjanji tidak akan memperlakukan Rosalie dengan Kasar dan berjanji untuk sedikit demi sedikit peduli kepada Rosalie. Demian menyetujuinya meskipun ada sedikit rasa tidak menyukai hal itu terlihat dari raut wajahnya, namun Demian mau menyetujuinya semata-mata hanya demi Yara dan tidak lebih dari itu
.
.
.
.
.
.