
"Kau mau apa?!" Yara memelototkan matanya kepada Nando, ia sudah mengira bahwa Nando masih saja tak mengurungkan niatnya untuk memberi kedua temannya pelajaran, seperti apa yang ia ucapkan tadi kepada dirinya.
Nando memalingkan wajahnya dari tatapan mata Yara, sebenarnya rasa kesal dan amarah dalam dirinya belum mereda sedikit saja sekalipun. Namun melihat Yara yang semakin menajamkan maniknya ke arahnya membuat Nando terus mengumpat kesal dalam hatinya.
Yara menghampiri ketiganya. Darwin dan Bryan tak bergeming, mereka hanya menundukan kepalanya.
"Kenapa keras kepala sekali? aku sudah bilang jangan berbuat aneh-aneh! aku sungguh tidak mengerti dengan dirimu yang seperti ini." mengalihkan pandangannya kepada Nando.
"Mereka berdua adalah temanmu! aku sudah mengatakannya, wajar bila mereka lupa memberitahumu!"
"Bertingkah layaknya anak kecil." Yara tak henti-hentinya memaki Nando. membuat Nando semakin merasa kesal. ia masih tak ingin menatap ke arah Yara.
Darwin dan Bryan sedikit bernafas lega, kedatangan Yara membuatnya lolos dari amarah dan juga sebuah pukulan dari Nando. bagaimana jika seandainnya Yara tidak memergoki mereka? bisa-bisa wajah tampan mereka berdua sudah berubah menjadi jelek akibat meninggalkan banyak luka pukulan dari temannya tersebut. namun mereka berdua tetap pada posisi masing-masing masih dengan menundukan kepala.
Yara lebih mendekatkan tubuhnya kepada Nando. ia menatap lekat-lekat wajah Nando. begitu jelas terlihat di wajah Yara bahwa ia sangat kecewa Dengan sikap Nando yang terbilang kasar. sikap Nando yang seperti itu membuat Yara teringat akan Demian, bagaimana dengan rasa tidak ibahnya Demian selalu menyiksa Rosalie.
Dengan teman yang tidak sengaja membuat kesalahan bahkan hanya masalah sepele saja Nando sudah bertindak sesukanya, bagaimana nanti jika ia dan Nando sudah menjalin sebuah hubungan? bisa-bisa ia mendapatkan perlakuan buruk dari Nando jika sewaktu-waktu Yara membuat sebuah kesalahan. Pikiran Yara kacau seketika, mungkin kah ini sikap Nando yang sebenarnya? bagaimana jika Yara mendapatkan perlakuan yang sama seperti Mamanya? perlakuan kasar dari laki-laki yang ia cintai? Namun, Yara berharap ini bukan sikap Nando yang sebebarnya, mungkin saat ini emosi Nando sedang tidak bisa dikendalikan.
Melihat Yara dan Nando saling beradu pandang dengan tatapan yang sangat sulit di artikan, Darwin dan Bryan memutuskan untuk pergi dari sana. keduanya mengira bahwa Yara dan Nando sedang ada masalah, maka dari itu Nando melampiaskan rasa amarahnya kepada mereka. sebagai teman mereka sangat memaklumi sikap Nando yang seperti itu.
"inilah sikap laki-laki yang paling tidak aku sukai!" Ucap Yara penuh penekanan. Rasa traumanya bergejolak begitu saja, lagi-lagi mengingatkannya pada kedua orang tuanya.
Nando sejenak memejamkan maniknya, rasa bersalah kembali menyerang pikirannya akan perbuatannya. dengan Bodohnnya ia melakukan kesalahan yang tidak Yara sukai.
"Kau membuat hatiku ragu untuk memilihmu."
"Baru saja kau berjanji, tapi detik ini juga kau mengingkarinya." Yara tersenyum pelik, ia menyeka air matanya yang jatuh begitu saja dengan kasarnya.
"bahkan Aku sudah berniat untuk melupakan semua masalah kita sebelumnya, tapi melihat sikapmu yang seperti ini membuat aku berpikir dua kali!"
Nando hendak meraih tangan Yara, Namun Yara menepisnya begitu saja.
"Maafkan aku...." Ucapan Nando terdengar Lirih, pikirannya kacau seketika. ia hendak melanjutkan ucapannya, ingin sekali menjelaskan apa yang akan ia sampaikan kepada wanita yang ia cintainya tersebut.
"akan lebih baik jika kita tidak saling peduli lagi." Yara mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, sangat sulit sebenarnya bagi Yara untuk mengucapkan hal itu, namun ia tidak ingin terluka terlalu jauh nantinya. bagaimana pun juga sikap Nando sangat mengecewakan. membuat rasa trauma dalam dirinya muncul kembali.
"Yara..."
"Cukup!"
"Dan kau benar-benar mematahkan hatiku saat ini." Nando berusaha kuat untuk mengucapkannya.
"lalu apa bedanya dengan kau bersikap seperti ini?"
Ia tidak ingin jauh dari Yara, ia sangat mencintai gadis itu. Nando yakin bahwa Yara sudah mulai memiliki rasa terhadapnya, akhir-akhir ini Yara tidak pernah menolak sikap manis darinya. bahkan melihat sikap Yara yang sebenarnya terbilang peduli kepadanya seperti Saat ini. semakin membuatnya yakin akan hal itu.
"Apa kau tidak mencintaiku? apa sedikit saja tidak mencintaiku?!" Tanya Nando, ia ingin menyakinkan dugaan atas perasaan Yara kepadanya.
Yara yang tak kuasa menahan tangis, ia menundukan pandangannya. ia menggelengkan kepalanya.
Nando terkesiap, dugaannya tidak sesuai Dengan apa yang ia pikirkan. Namun hatinya merasakan yang sebenarnya bahwa Yara memanglah sudah memiliki rasa stau bahkan cinta terhadapnya. Nando mencoba untuk meyakinkannya kembali.
"kau membohongi dirimu sendiri, aku tau kau sudah mulai mencintaiku Yara."
"katakan kau mencintaiku!" Nando mencengkeram kuat bahu Yara.
mendengar ucapan dari Nando membuat air mata Yara mengalir lebih deras. hatinya sakit, Nando sudah bisa merasakan cintanya terhadapnya.
"ayo katakan!" Perintah Nando.
Seketika Yara sedikit mendongakkan wajahnya. "Kau lihat di mataku, ada apa? tidak ada apa-apa kan?" Yara menggelengkan kepalanya, namun maniknya menatap ke sembarang arah. "Aku tidak berbohong, aku memang tidak mencintaimu!"
Yara segera berlalu pergi dari hadapan Nando, sebelum kembali melangkah, ia mengusap seluruh air mata yang membasahi wajahnya. "Sakit sekali Tuhan." Yara memegang dadanya yang terasa sangat sesak.
"Yara..." Teriak Nando, namun tak membuat Yara menoleh sedikit pun kepadanya.
"Yara aku mencintaimu, aku membutuhkanmu!" ucap Nando dengan pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Yara.
"Aku juga..." menyeka kembali air matanya, ia kembali melangkahkan kaki, membawa tubuhnya masuk ke dalam apartement miliknya. Demi apapun, Yara juga merasakan sakit bahkan lebih dari Nando.
membohongi dirinya sendiri hanya karna rasa trauma yang di deritanya. sakit, kecewa, marah itulah yang Yara rasakan saat ini.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan lupa Vote dan Likeπ