My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #15



Valencia mencoba bertanya kembali kepada Yara. "kau tadi kerumahku?"


Yara menganggukan kepalanya. "Iya, Tapi kata Bi Ema kau sedang pergi."


Valen seketika bungkam mendengar jawaban dari Yara, ia enggan bercerita sebenarnya ia pergi menemani tunangannya bermain basket.


"oh... i-iya aku tadi sedang ada urusan sebentar." Jawabnya dengan terbata bata.


"Urusan apa?" Sahut Alesya.


"Ehm, ya urusan. Aku tadi sedang berkunjung ke rumah kakekku, aku sangat Merindukannya." Ucap Valencia menepiskan senyumnya.


Alesya memutar bola matanya malas, mrndengar jawaban dari Valencia yang berbohong, Valen tidak tahu jika Alesya dan Yara sudah mengerti yang sebenarnya. "Dia masih saja berusaha untuk menutupinya." Gumam Alesya dalam hati.


"Jangan berbohong." Seru Alesya maniknya menatap tajam ke arah Valencia.


"Si-siapa yang berbohong, aku tidak berbohong. Aku memang pergi berkunjung ke rumah kakekku." Ucapnya mengelak.


Alesya dan Yara pun saling beradu pandang, dipikiran mereka berdua kenapa Valencia tidak mau bercerita yang sebenarnya malah dia berusaha untuk terus menutupi kebenarannya.


"Kau tidak ke rumah kakekmu. tapi kau pergi menemani Bryan bermain basket." Ucapan itu terlontar begitu saja dari mulut Alesya.


Mata Valencia seketika membulat dengan sempurna mendengar ucapan dari Alesya, ia benar-benar kaget. "Kenapa Alesya bisa tau kalau aku pergi menemani Bryan. dan siapa yang memberitahunya?" Valen mencoba berfikir bagaimana Alesya bisa tau yang sebenarnya terjadi.


"Benar kan?" Tanya Alesya.


"Kau-- "


"Apa? Kau kaget kenapa bisa aku mengetahui itu?"


Valencia terdiam ia berfikir harus bagaimana. "Apa aku harus menceritakan semuanya kepada Alesya dan Yara." Gumamnya dalam hati sembari maniknya mentap kedua sahabatnya itu secara bergantian.


"Valen..." panggil Yara. "Tadi Bi Ema memberitahuku kalau kau pergi menemani tunanganmu bermain basket." Ucap Yara sembari mengelus-ngelus punggung Valencia pelan.


Alesya menghampiri Yara dan Valencia, ia mendudukkan tubuhnya disamping Valencia yang mana posisi mereka bertiga ialah Valencia berada di tengah-tengah dari Yara dan Alesya.


"Kenapa kau menutupi semuanya kepada ku dan juga Yara?" Tanya Alesya dengan nada suara yang pelan.


"Maafkan aku."


"Ceritalah apa yang sebenarnya terjadi, bukankah kita adalah sahabat." Ucap Yara sembari tersenyum.


Valen menghela nafasnya panjang. "Orang tua ku dan orang tua Bryan sebenarnya sudah lama menjodohkan kami berdua." manik matanya menatap ke sembarang arah. Yara dan Alesya mendengarkan dengan seksama. "papa dan paman Lucas, mereka bersahabat sedari kecil. saat mereka berdua tau anak yang dikandung oleh mamaku adalah perempuan dan anak yang dikandung oleh istri dari paman Lucas laki-laki. mereka berdua membuat perjanjian, mereka sepakat untuk menjodohkan aku dan Bryan. Bryan sama sepertiku ia adalah pria penurut, aku dan dia menerima perjodohan itu, sampai pada akhirnya kami memutuskan untuk menjalin sebuah ikatan pertunangan tepat 2 bulan yang lalu."


"Tapi kenapa kau menyembunyikan ini dari Aku dan Yara?" Tanya Alesya.


"Lalu bagaimana dengan Bryan? apa dia juga mencintaimu? Tanya Yara.


"Dan apakah dia pria yang baik?" Sahut Alesya.


Valen menganggukan kepalanya yakin, Ia memang sudah menyakinkan bahwa Bryan juga Mencintainya. "Sebelum kami berdua melangsungkan pertunangan, tepat satu hari sebelumnya Bryan mengatakan bahwa dia mencintaiku saat pertama kali melihatku, aku melihat ketulusan saat dia mengatakannya. Dia bahkan selalu mengutamakan aku dibanding dirinya sebdiri. Dia selalu menjagaku."


"Syukurlah Aku lega Mendengarnya." Ucap Yara mereka bertiga pun saling memeluk satu sama lain. Valen merasa lega menceritakan semuanya, senua yang selam ini telah ia sembunyikan dari kedua sahabatnya tersebut.


"Maafkan aku Yara, Alesya. Aku-- "


"Sudahlah, Yang terpenting kau sudah bahagia saat ini itu sudah lebih dari cukup." Ucap Alesya sembari mengelus lembut kepala Valencia.


"Oh iya, sebenarnya Bryan juga kuliah di Universitas yang sama dengan kita." Ujar Valencia.


"Benarkah? tapi kenapa aku tidak pernah melihat kalian bersama? bahkan kau setiap hari selalu mengajak aku dan Alesya berangkat kuliah bersama-Sama. kau tidak pernah berangkat kuliah bersama Bryan?" Pertanyaan beruntun dari Yara membuat Valen terkekeh.


Valen menggeleng. "Aku memang sengaja memintanya untuk menjaga jarak saat di kampus?"


"Dan diapun melakukannya?" Tanya Yara


"iya."


"Kau sungguh jahat sekali." Alesya menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Maaf aku hanya tidak ingin kalian mengetahuinya saat itu."


"Kau ini! aku penasaran Bagaimana wajah tunanganmu itu." Seru Alesya


"besok aku akan memperkenalkan Bryan kepada kalian." Sahut Valencia menepiskan seyumnya.


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Jangan lupa Vote dan LikeπŸ’šπŸ’šπŸ’š