
Samira yang tadinya memang tak membawa kendaraan pribadi miliknya, Nando pun akhirnya mengantarkannya untuk pulang ke rumah, rumah yang di maksutkan oleh Samira tak lain ialah milik Demian.
Di dalam mobil manik Samira tak lepas memandang ke arah Nando yang sedang terfokus akan kemudinya. rasa cintanya terhadap pria yang ada di Hadapannya tersebut tidak pernah menghilang dan pudar sedikit pun. Nando adalah laki-laki yang istimewa menurutnya, tidak ada satu laki-laki pun yang bisa menggantikan Nando di hatinya. Nando adalah tipe laki-laki yang baik, penyayang dan setia namun jika ia sudah di kecewakan sedikit saja. maka ia akan sulit melupakan rasa sakitnya.
Samira sangat menyesali semua yang telah ia lakukan kepada Nando, Nando benar. seandainya ia dari awal bisa lebih terbuka kepada kekasihnya itu, andai saja ia mau menceritakan semua masalah yang menimpahnya pada saat itu., mungkin saat ini mereka berdua sudah bahagia bahkan sudah terikat hubungan yang lebih serius. bukan seperti ini, Nando pasti masih membencinya walaupun ia sudah memaafkan Samira tapi, rasa sakit tidak semudah itu menghilang begitu saja jika luka yang dibuat sangatlah dalam, dan selamanya akan selalu membekas.
Ya, mungkin Nando masih tersakiti akan perilaku Samira, Namun ia tidak pernah sedikitpun mempunyai rasa dendam terhadap perempuan yang pernah menjadi kekasihnya itu. Baginya semua yang telah menimpahnya di masalalu akan mempunyai massa dan berlalu. keterpurukan akan masalalunya dengan Samira sudah ia hilangkan dan tidak akan pernah ia mengingatnya kembali sekali pun. Nando sudah mengubur dalam-dalam perasaan atau bahkan rasa cintanya terhadap Samira. terjatuh di lubang yang sama, Nando tidak sebodoh itu dan mengulanginya kembali, bukan tidak mungkin jika Samira akan melakukannya lagi suatu saat nanti karena hal lain. maka dari itu Nando menolak Samira untuk kembali padanya.
Nando tak bergeming, ia hanya berdiam diri dan fokus pada kemudinya, bahkan ia tak menyadari jika perempuan yang berada di sampingnya sedang memandanginya.
Beberapa lama kemudian, Nando pun memberhentikan Lajunya tepat di depan sebuah rumah mewah berlantai 3. rumah yang berdesign moderen, berdominan warna gelap dengan lumayan banyaknya tembok Kaca yang melapisi sisi-sisi tertentu.
"Benar ini rumah Ayah angkat mu?" Tanya Nando tanpa melihat ke arah Samira, maniknya masih terfokus akan design rumah milik Demian yang membuatnya takjub, mungkin rumah Nando juga sebesar ini, namun design nya tidak semenarik rumah yang di lihatnya saat ini.
Samira yang sedari tadi melamun, seketika tersadar saat Nando bertanya padanya. "Iya benar ini rumah Ayah angkatku." Ucapnya sedikit ragu. pada kenyataannya rumah tersebut ialah rumah selingkuhannya bukan ayah angkatnya.
"Keren sekali..." Ucap Nando tak henti maniknya menyoroti design di setiap sudut rumah.
"Kau pasti betah tinggal disini, Rumahku saja tidak sekeren ini..." Lanjutnya. seraya mengarahkan pandangannya kepada Samira.
Samira menepiskan senyuman. "Te-tentu saja aku betah, rumah Ayah angkatku memang keren." Namun seketika raut wajahnya berubah menjadi datar.
"Rumah ini akan menjadi milikku suatu saat nanti." Ucapnya dalam hati, pikirannya seoalah sedang merencanakan sesuatu.
"Yasudah cepatlah turun." Perintah Nando.
Samira mengiyakan, ia segera membuka pintu mobil lalu keluar dari dalam sana. ia melangkahkan kakinya, berdiri tepat di pintu kemudi yang masih terlihat Nando duduk di dalam sana.
"Terimakasih sudah mau mengantarkanku, dan terimakasih sudah mengunjungi makam Ibu dan Ayahku." Ucap Samira seraya menarik sudut bibirnya hingga membentuk senyuman disana.
"Iya." Jawab Nando dengan singkat tanpa menoleh ke arah Samira. Membuat wanita tersebut menahan kekesalannya.
"Yasudah aku pamit pulang dulu." Imbuhnya.
Nando hendak menutup jendela mobil miliknya, namun Samira menghentikan terlebih dahulu. "Tunggu."
"Apa?"
"Astaga. bisa-bisa nya aku berbicara seperti itu, bagaimana jika Jullian menerima tawaranku. jika tua bangka itu tau aku membawa laki-laki lain masuk ke dalam rumahnya bisa-bisa aku di kubur hidup-hidup. bodohhhhhh!" Samira tak henti-hentinya mengumpat dalam hati memaki dirinya sendiri. Maniknya menatap Nando yang terlihat sedang berfikir seolah menimbang-nimbang tawarannya.
Nando menoleh ke arah Samira. "Boleh." ucapnya seraya menganggukan kepalanya.
Mendengar jawaban dari bibir Nando membuat bola mata Samira membulat dengan sempurna, jantungnya tiba-tiba berdetak dengan kencang, tangannya gemetar. "Kenapa harus menerima tawaranku, Ya Tuhan." gerutunya dalam hati.
"Ehm. Ya-yasudah ayo masuklah aku akan memperkenalkan kau pada ayah angkatku." Samira mengucap dengan terbata-bata.
"Tapi lain kali saja ya, aku masih ada urusan yang harus diselesaikan." Ucap Nando.
Samira pun menghembuskan nafasnya lega, ia sedikit mengelus dadanya yang sedari tadi jantungnya berdegup dengan kecang seakan ingin terlepas dari tempatnya. "Untung saja." Ucapnya dalam hati.
"Oh begitu, yasudah kau hati-hati dijalan. sekali lagi terimakasih." Ucap Samira menyunggingkan senyum, Nando hanya mengangguk seolah mengiyakan perkataannya.
Nando pun segera menghidupkan mesin mobilnya kembali, tak lupa ia menutup jendela mobil terlebih dahulu, setelah itu ia pun segera melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal menjauh dari halaman rumah tersebut.
Samira melihat Mobil milik Nando yang semakin menjauh dari jangkauannya, ia menghela nafas panjang. "barusaja dekat dengannya lagi. dan kenapa aku mendadak jadi bodoh begini. memangnya aku anak angkat? aku ini hanya selingkuhan tua bangka itu dan selamanya akan begitu." Samira melangkahkan kakinya masuk seraya menggerutu tidak jelas.
ia tak sadar tubuhnya semakin berdekatan dengan Ron yang juga tengah berjalan menuju ke arahnya, hingga sepersekian detik tubuh mereka saling bertubrukan.
Bukkkkkk....
.
.
.
.
.
πππππ
Jangan lupa Vote dan Likeπ