
Yara setengah Berlari agar bisa segera sampai ke kelasnya tersebut. Namun saat masih setengah perjalanan ia Bertubrukan dengan seorang pria, Pria itu tak lain Ialah Nando.
Nando yang kala itu ingin pergi ke toilet, untuk membasuh wajahnya, Ia merasa sangat mengantuk karna semalaman begadang, Pikirannya masih tak luput akan bayang-bayang Yara, sehingga semalaman penuh ia tidak bisa Memejamkan maniknya. Bahkan Nando sempat tertidur dikelas, membuat Dosen yang sedang menyampaikan materi kesal dengan Nando, Dosen tersebut meminta agar Nando segera membasuh wajahnya untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Yara dan Nando saling terpental lumayan keras membuat mereka mendesis saat tubuhnya terjatuh begitu saja. "Awww..." Nando bersungut kesal ia hendak memaki orang yang Dengan tidak Sopannya Menabrak dirinya, namun saat Nando menoleh dan tau jika yang menabraknya itu adalah Yara , seketika ia terkejut, terlihat Yara juga jatuh terjungkal. Nando pun mengurungkan niatnya untuk memaki.
Nando segera bangkit untuk menghampiri Yara. Yara masih tetap pada posisinya tak kunjung bangkit, ia melihat luka lebam di sikunya, Yara mendesis ngilu.
Nando berjongkok, ia meraih tangan Yara. siku Yara terlihat membiru karna saat terjatuh, ia refleks menahan tubuhnya dengan siku tangannya. "kenapa kau berlarian? seperti anak kecil saja!" Ucap Nando, maniknya tidak lepas melihat luka yang ada pada siku Yara tersebut. Seperti mempunyai rasa Kekhawatiran terhadap Yara
"Maaf aku terburu-buru." Ucap Yara. ia kembali mendesis saat tangan Nando mencoba memegang luka pada sikunya.
"Jangan dipegang!" Yara menepis tangan Nando.
"Ayo aku bantu berdiri." Ujar Nando, ia mencoba membatu Yara untuk berdiri.
Namun saat Yara hendak Beranjak berdiri, ia merasakan ngilu dipergelangan kakinya. hingga akhirnya tubuhnya ia dudukan kembali.
"Kenapa duduk lagi? ayo." Ajak Nando, tidak sabaran karena ingin segera mengobati luka Yara.
"Sepertinya kakiku terkilir." Yara memijat mijat pelan pergelangan kakinya.
"Kenapa bisa?" Nando mengernyit, ia kembali berjongkok menyamakan posisi tubuhnya dengan Yara.
Yara menggeleng. "Mana ku tau. Aku tadi terpental lumayan keras, kau enak tidak terluka sedikitpun." ujar Yara seraya mengerucutkan bibirnya.
"Salah kau sendiri kenapa berlarian." Ucap Nando, ia mengelus perlahan pergelangan kaki Yara.
"Memangnya dengan kau mengelus kakiku seperti itu membuatnya sembuh?" Tanya Yara menautkan kedua alisnya. Nando hanya menggelengkan kepalanya, membuat Yara berdecak kesal.
"Yasudah ayo aku antarkan ke rumah sakit." Ajak Nando, ia juga tidak ingin terjadi sesuatu kepada Yara nantinya jika luka Yara tidak segera di obati.
Nando melingkarkan tanggannya ke pinggang Yara hendak membantu Yara berdiri, Namun Saat Yara mencoba berdiri rasa ngilu pada pergelangan kakinya semakin terasa sakit.
"Aku tidak bisa berjalan." Ucap Yara, ia mencoba kembali untuk beranjak berdiri, tapi tidak bisa juga, rasa ngilunya semakin terasa.
Nando merasa tak tega melihat Yara semakin mendesis kesakitan, ia pun seketika menggendong tubuh Yara.
Yara terkesiap. "kenapa kau menggendongku?" tanya Yara seraya mengernyitkan dahinya.
"kau kesakitan dan katamu kau tidak bisa berjalan. aku akan membawamu ke rumah sakit." jawab Nando ia segera melangkahkan kakinya untuk membawa Yara ke rumah sakit.
"Tidak usah Nando, aku ada kelas pembelajaran. aku tidak mau membolos." tolak Yara.
"Kakimu terkilir dan tanganmu terluka, nanti aku akan menghubungi Alesya agar mengizinkanmu kepada dosen." Ucap Nando.
"Kau ini nanti kalau tidak segera diobati kakimu akan membengkak dan kau malah tidak bisa berkuliah." Nando sedikit mengeraskan nada suaranya agar Yara mau menuruti perkataannya.
"Tapi-- "
"Sudahlah jangan banyak bicara!" Bentak Nando, Yara pun seketika membungkam mulutnya. ia berfikir perkataan Nando ada benarnya menurutnya. Yara memperhatikan wajah Nando yang sangat dekat dengan wajahnya.
Namun saat Nando membalas tatapan Yara, seketika Yara memalingkan wajahnya.
"Astaga." Nando berdecak, ia lupa kunci mobil miliknya ada didalam kelas.
"Kenapa?" Tanya Yara.
"Aku lupa, kunci mobilku didalam kelas."
"Pakai mobilku saja." Yara mengambil kunci mobil miliknya yang ada didalam tasnya tersebut, lalu memberikannya kepada Nando.
"Aku tidak bisa membuka, kau tidak melihat aku sedang menggendongmu." Ucap Nando,
Yara pun seketika mengerucutkan bibirnya. Ia segera membuka pintu mobil tersebut.
Nando mendudukan tubuh Yara di kursi mobil milik. ia pun juga bergegas masuk kedalam mobil Yara lalu melajukan mobil tersebut ke rumah rumah sakit.
*****
Didalam mobil Nando tak berulang kali memperhatikan kaki dan tangan Yara yang terluka, Raut wajahnya menampakan kecemasan terhadap Yara. Nando mengalihkan pandanganya kepada Yara saat Yara menoleh ke arahnya.
"Kenapa memandangiku seperti itu?" Tanya Yara.
"Tidak apa-apa, aku hanya tidak tega jika melihat wanita kesakitan." Jawab Nando ia mengalihkan pandangannya kembali kepada kemudinya.
"Bahkan dari raut wajahnya saja sudah terlihat jika dia suka mempermainkan wanita, bisa-bisa nya berbicara seperti itu." Gumam Yara dalam Hati, ia menatap sinis ke arah Nando.
.
.
.
.
.