My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #49



lumayan lama Nando menenangkan diri berpacu akan perasaan dan hatinya, setelah itu ia memutuskan untuk beranjak pergi Dari sana.


Ia melangkahkan kakinya menuju ke arah mobil miliknya yang lumayan jauh terparkir dari jangkauannya. setengah perjalanan langkahnya terhenti, serasa ada yang menarik tangannya namun tidak sakit, Nando membalikan badannya, maniknya menatap jelas wajah seseorang yang sangat ia kenali.


"Samira..." ucapnya tanpa mengekspresikan raut wajahnya.


"Jullian..." Gadis itu melebarkan senyumnya, karena dugaannya benar bahwa laki-laki yang sedari tadi ia pandangi dari arah kejauhan ternyata laki-laki yang sangat ia kenali, bahkan masih ia cintai.


Samira merasa sangat bahagia telah bertemu dengan Nando kembali, 2 tahun lamanya ia tidak bisa menemukan pria tercintanya itu, akhirnya saat ini Tuhan berkendak kepadanya.


Samira dengan tidak sungkannya langsung memeluk Nando dengan sangat erat, Nando hanya diam tak membalas pelukan dari gadis itu.


"Aku sangat merindukanmu." Ucap Samira seraya merenggangkan sedikit pelukannya, memberi jarak agar dirinya bisa leluasa menatap wajah tampan yang sangat ia rindukan sejak dulu.


"Kau kemari?" tanya Nando masih dengan wajah datarnya. Samira mengangguk.


"Ini tempat favorit kita." Ucap Samira tersenyum seraya kepalanya setengah berputar melihat sekeliling tempat tersebut.


"Tempat favoritku, bukan kita!" tukasnya memperjelas.


"Kita banyak meninggalkan kenangan di sini jullian."


"Jangan mencoba untuk mengingatkan!" Ucapan Nando terdengar sinis, ia mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


Samira sedikit memundurkan langkahnya. "Kau masih marah padaku?" Tanya Samira, ia menggigit bibir bawahnya.


Ya, Samira adalah gadis masa lalu dan juga merupakan mantan kekasih Nando sekaligus cinta pertama Nando. mereka menjalin sebuah hubungan saat masih di bangku kelas 2 sekolah menengah atas. cukup lama mereka berhubungan hingga terjalin 2 tahun lamanya.


Saat itu hubungan mereka terbilang baik-baik saja, bahkan mereka pernah berjanji akan membawa hubungan mereka pada sebuah pertunangan lalu menikah, kedua orang tua mereka juga sudah saling mengenal satu sama lain Meskipun kedua orang tua Nando tidak pernah memandang seseorang dari harta, bagi mereka kebahagiaan putra-putra nya lebih penting di bandingkan apapun, kedua orang tua Nando dengan senang hati menerima Samira dan juga keluarganya.


Namun, Samira yang merasa bahwa hidup keluarganya jauh dari kata cukup, setelah lulus sekolah ia memutuskan untuk langsung bekerja, bagaimana pun juga keinginannya untuk berkuliah tidak akan pernah bisa terpenuhi, untuk makan sehari hari saja susah apalagi harus menambah beban orang tua meminta berkuliah.


pikirnya pada Saat itu hanya mencari uang dengan cara yang mudah namun berlimpah. ia harus membahagiakan keluarganya apapun caranya. Hingga pada saat ia bertemu dengan teman masa SMP nya di sebuah Coffee shop, temannya itu menawarkan pekerjaan di sebuah Club yang kebetualan tempat temannya bekerja juga. yang tentu nya menjadi seorang *******.


Awalnya Samira menolak keras, ia berfikir bahwa kekasihnya akan menolak atau bahkan pergi meninggalkannya jika ia benar-benar bekerja seperti itu, apalagi keluarga Nando dan juga keluarganya. bagaimana jika mereka semua tau dia akan menjadi seorang ******* hanya demi kebutuhan hidup? sangat memalukan pikirnya. Dan juga keluarga Nando tidak akan pernah lagi merestui hubungan mereka berdua.


seiring waktu berjalan, saat ayah nya jatuh sakit dan memerlukan banyak biaya untuk pengobatan, membuat pikiran dan hati nya buta seketika, pada akhirnya Samira kembali menghubungi teman masa SMP nya untuk menerima tawaran pekerjaan tersebut. Saat itu juga ia memutuskan untuk pergi dari kehidupan Nando, biar saja Nando akan membenci dirinya, Nyawa ayahnya lebih penting dibandingkan apapun. tanpa berpamitan atau sekedar mengucap kata perpisahan ia pergi begitu saja, bahkan memuntuskan kontak hubungan lalu memilih berpindah rumah.


***


setelah sedikit memaksa Nando untuk mengajaknya mengobrol, akhirnya Nando pun menuruti ke inginan Samira.


Samira mengajaknya Nando untuk duduk di kursi yang sebelumnya sempat Nando duduki.


"Jullian maafkan aku..." Ucap Samira.


"Untuk apa?" Tanya Nando, tanpa melihat ke Arah Samira.


"Untuk semua kesalahanku."


"Tidak ada yang perlu di maafkan, Aku sudah melupakan semuanya."


"Aku pergi bukan tanpa alasan." Ucap Samira, menundukan pandangannya, ia tak kuasa menahan tangis saat mengingat betapa sulitnya membuat keputusan pada saat itu.


"bagaimana bisa kau mengatakan hal itu?"


"Aku terlalu takut untuk mengatakan semuanya kepadamu."


"Kau anggap apa aku?" terlihat raut wajah Nando menahan kekesalan.


Pada akhirnya Samira menceritakan semuanya kepada Nando, ia menagis sesenggukan mengingatkannya pada saat-saat sulit itu. masalah ekonomi keluarganya tidak bisa di atasi selain dengan ia mengorbankan dirinya sebagai ******* hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan pengobatan Ayah nya.


"Aku pikir kau meninggalkan ku karena kau menemukan cinta yang baru." Gumamnya dalam hati.


Nando lebih mendekatkan tubuhnya kepada Samira, ia memeluk tubuh gadis itu seraya menepuk-nepuk bahunya dengan pelan.


"Aku menyesal." Ucap Samira semakin sesenggukan, air matanya jatuh dengan deras membasahi hampir seluruh bagian wajahnya.


"Maafkan aku jullian..."


"andai saja kau tau, Aku sangat tersiksa pada saat itu."


"Ayah meninggalkan kami setelah 2 bulan di rawat. lalu ibu ku depresi akan kepergian ayah hingga membuatnya juga meninggalkan aku dan kedua adikku."


Nando semakin merasa sesak mendengarnya, ia memeluk tubuh Samira lebih erat, mengusap puncak kepalanya, agar bisa sedikit menenangkan mantan kekasihnya itu, bagaimana pun juga Samira pernah menjadi seseorang yang sangat ia cintai.


"Maaf jika aku sudah berprasangka buruk terhadapmu." Ucap Nando, Raut wajahnya terlihat menampakan rasa bersalah.


"Andai saja pada saat itu kau bercerita lebih awal, mungkin aku tidak akan salah paham terhadapmu. Dan aku tidak akan membiarkanmu berjuang sendiri."


Samira mendongak menatap manik Nando. "Aku sangat mencintaimu, aku hanya tidak ingin kau terlibat terlalu jauh. kau dan keluargamu sudah baik menerimaku, dan itu Sudah lebih dari cukup."


"Maka dari itu, seharusnya kau lebih terbuka lagi kepadaku." Nando mengusap air mata Samira yang terus menerus terjun bebas dari maniknya.


"Maafkan aku..." Samira kembali memeluk Nando dengan erat, tak bisa di pungkiri bahwa ia sangat merindukan pria itu.


Samira merasa begitu lega telah menceritakan semuanya kepada Nando, sekian lama ia simpan masalah ini sendiri, menyakiti orang yang sangat mencintainya. benar-benar sakit pada saat itu. Samira berharap Nando akan menerimanya kembali, dan memulai semuanya dari awal.


Nando sedikit merenggangkan jaraknya kepada Samira. "Lalu kedua adik mu ada di mana?"


"Mereka tinggal bersama bibi dan paman, melanjutkan pendidikan di sana." Samira menyunggingkan senyumnya, bagaimana pun juga kedua adiknya harus mendapatkan pendidikan yang layak, ia tidak mau jika kedua adiknya bernasib sama seperti dirinya.


"Kau masih bekerja di tempat itu?" tanya Nando sedikit ragu, namun sangat penasaran.


Samira bungkam, ia tidak bisa menceritakan kehidupannya yang sekarang yang hanya menjadi simpanan salah satu pria beristri kaya raya di kota ini, ia tidak ingin Nando mengetahui bahwa kehidupannya lebih buruk dari sebelumnya. bagaimana pun juga ia masih sangat mencintai Nando, ia tidak ingin Nando kembali membencinya. egois? ya, itulah Samira. ia harus mendapatkan hati Nando kembali, tak peduli akan kondisinya saat ini.


"Ehm... ti-tidak aku sudah keluar dari pekerjaanku 7 bulan yang lalu."


Samira sedikit gugup, namun berusaha untuk terlihat tenang.


"Dulu, saat aku masih bekerja di sana, tidak sengaja aku bertemu dengan pemilik Club tersebut. beliau bilang, beliau merasa kasihan terhadapku karena aku yang masih berusia remaja sudah harus mengorbankan diriku bekerja seperti itu hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup keluargaku. maka dari itu beliau mengangkatku sebagai anak, beliau orang yang baik, selalu mencukupi kebutuhanku dan juga adik-adik ku, bahkan aku di daftarkan di Universitas terbaik di sini."


Samira mengarang cerita yang jauh dari kenyataan. pikirnya lebih baik seperti ini daripada ia harus di benci oleh pria yang sangat ia cintai.


Nando bernafas lega mendengar perkataan namun bukan pernyataan, dari Samira. pikirnya masih banyak orang baik yang mau membantu Samira dengan tulus. bahkan dia juga akan seperti itu, membantu Samira jika Samira mengalami kesusahan.


"Syukurlah aku lega mendengarnya."


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Jangan lupa Vote dan LikeπŸ’š