
Nando masuk begitu saja kedalam apartement Yara dengan tangannya membawa beberapa kantong plastik yang berisi beberapa makanan dan minuman. ia tadi menyempatkan terlebih dahulu membeli makanan untuknya dan juga Yara.
Yara yang kala itu masih merasa kesal terhadap Nando karena memaksanya untuk memijat kakinya yang terkilir, ia hanya melirik saja ke arah Nando lalu memalingkan wajahnya kembali.
Nando mendudukan tubuhnya tepat disamping Yara. "Aku sudah menghubungi Alesya, memberitahunya supaya mengizinkanmu kepada Dosen." Ucap Nando
Yara hanya diam tak menjawab pertanyaan pria itu
"Yara..." Panggil Nando, Namun Yara tak menghiraukannya.
Nando yang merasa Yara sengaja mendiamkannya tanpa alasan, ia pun mencoba untuk lebih mendekat kepada Yara, Nando menepuk pelan bahu Yara. "Kau Kenapa?"
"Apa kakimu masih sakit?" Tanya Nando.
Yara tetap bungkam, masih enggan menjawab pertanyaan darinya.
"Apa setelah dipijat kau menjadi bisu seperti ini?" Seru Nando.
membuat Yara semakin kesal mendengar ucapan darinya. "Dasar sialan! apa tidak paham jika aku sedang kesal dengannya." Umpatnya dalam hati seraya mengerucutkan bibirnya. Mata Yara tampak berkaca-kaca.
"Kau ini kenapa tidak bisa mengerti! aku sangat kesakitan tadi dan kau malah bersikap seolah tak peduli. lebih baik tadi aku tidak menuruti perkataanmu." Yara memukul-mukul bahu Nando, air matanya terjatuh begitu saja. rasa kesalnya terhadap Nando masih belum mereda.
Seketika Nando memeluk Yara, ia merasa sangat bersalah. membuat Yara merasakan kesakitan. tapi lebih baik sakit sementara waktu, daripada harus melihat Yara terus berjalan dengan susah payah pikirnya. "Maaf..." Ucap Nando, nada suaranya terdengar lirih.
"Kau jahat sekali." Yara semakin terisak.
Nando mengusap air mata Yara dengan ibu jarinya. lalu ia kembali memeluknya. ia mengusap perlahan kepala Yara.
Yara pun merasa sedikit lega akan pelukan Nando, entah pelukan Nando terasa begitu sangat menenangkan. Bahkan saat merasakan pelukan itu, seketika rasa kesalnya terhadap Nando hilang secara tiba-tiba.
Nando melepaskan pelukannya, ia menatap manik Yara yang masih meninggalkan bekas air mata. "Apa kau tau? sebenarnya aku pun juga merasakan sakit saat melihat kau kesakitan seperti itu." Ucap Nando.
"Maaf, aku hanya tidak ingin melihatmu harus berjalan dengan susah payah."
"Yara Aku tidak bisa melihat wanita terluka, apalagi dirimu." Nando mengelus pelan pipi Yara.
"Kenapa begitu?" Tanya Yara.
"Kau sudah tau jawabannya." Jawab Nando.
Yara hanya menggelengkan kepalanya, ia tidak tau apa yang dimaksut oleh Nando.
Nando menepiskan senyuman. "Aku sudah pernah mengatakan, bahwa aku mencintaimu."
Seketika detak jantung Yara berdegup kencang seperti hendak terlepas Dari tempatnya. tidak seperti pertama kali saat Nando mengatakannya, ia hanya menganggap Nando sedang bercanda, Namun kali ini. "Astaga! dia benar-benar serius mengatakannya." Gumam Yara dalam hati, ia melihat guratan wajah Nando menampakan keseriusan.
"Kau masih menganggap aku sedang bercanda?" Tanya Nando, Namun raut Wajahnya masih menampakan keseriusan.
"aku tidak tau apa yang membuatmu membenciku. sudah pernah kujelaskan, bahwa aku tidak pernah berbuat hal buruk kepadamu. bagaimana bisa aku menyakiti wanita yang aku cintai."
"Bahkan aku tidak tau harus dengan cara apa agar kau percaya." Ucapan Nando membuat perasaan Yara merasa aneh, entah rasanya tidak bisa dijabarkan oleh kata.
"Nando, setiap orang mempunyai beban hidup masing-masing. Kau tidak akan pernah tau apa yang sedang dialami mereka semua dengan masalah hidupnya."
"Maksutmu?" Tanya Nando.
"kau ingin tau kenapa sampai saat ini aku masih tidak percaya akan ucapanmu?"
Nando mengangguk mengiyakan.
"sampai detik ini, hatiku masih terluka! aku tidak habis fikir kenapa papa selalu saja menyakiti mama. sekalipun mama benar tetap salah dimata papa. Mamaku sangat mencintainya, Tapi papa sepertinya tidak! walaupun Mama pernah menyakinkanku, tapi aku masih bisa melihat kebohongan dibalik ucapannya." ucapan Yara terlontar begitu saja dari bibirnya. Yara mengingat kembali apa yang telah diperbuat oleh Demian kepada Rosalie, setiap hari selalu ada luka dibalik tangisan Rosalie, perlakuan buruk Demian bahkan menghancurkan keluarganya sendiri dengan menghianati cinta Rosalie.
"Detik itu juga, aku berfikir bahwa semua pria memiliki sikap dan sifat seperti papa. Entah rasa takut atau trauma yang membuatku berfikir seperti itu. Bahkan aku tidak percaya akan adanya cinta." Air mata Yara yang secara tiba-tiba mengalir begitu saja membanjiri wajahnya. ia tak kuasa menahan sedihnya jika seringkali mengingat akan masalah yang dialaminya.
Nando pun seketika mengerti, kenapa Yara sampai saat ini masih belum mempercayai bahwa ia benar-benar mencintainya. Nando juga merasakan sedih mendengar semua apa yang telah Yara ceritakan padanya.
"Nando maaf, aku hanya tidak bisa terlalu percaya kepada pria, aku harap kau bisa mengerti." Yara mengusap air matanya, ia menatap Nando penuh arti.
Nando menepiskan senyumnya, ia memeluk kembali tubuh Yara. "Tidak apa-apa, Terimakasih sudah menjelaskan kepadaku." Nando mencium puncak kepala Yara.
"kau jangan khawatir, aku akan membantumu untuk menghilangkan rasa trauma mu." Ucap Nando.
"Dengan cara apa?" Tanya Yara.
"Cinta." Jawab Nando seraya menepiskan senyumnya.
"Maksutmu?" Tanya Yara.
"Sudah jangan banyak bertanya." Ujar Nando, membuat Yara seketika diam memikirkan ucapannya.
Nando menarik tangan Yara lalu memeluk tubuh Yara dengan erat. Memeluk Yara seperti candu baginya. "Kau tidak perlu memikirkan, kau cukup Merasakannya saja."
"Terserah jika saat ini kau masih belum siap untuk menjadi kekasihku. Tapi jangan pernah kau menyuruhku untuk menjauhimu kau mengerti." Ucap Nando semakin mengeratkan pelukannya kepada Yara.
Yara menepiskan senyumnya saat mendengar ucapan Nando. "Kenapa kau jadi mengaturku?" Ucap Yara, suaranya tertahan dibalik pelukan Nando.
"Astaga, kenapa kau banyak bicara sekali." Nando memutar bola matanya malas, Namun tak dapat dipungkiri ia merasa sangat bahagia saat Yara sudah bersikap lebih manis kepadanya, dan lagi Yara tak pernah menolak pelukan sayang darinya.