
"kalau kau kemari hanya ingin mengajakku berdebat, pulanglah!" Yara mengeraskan nada bicaranya, raut wajahnya terlihat menahan emosi. entahlah semenjak memiliki trauma itu, Yara cenderung emosional jika perasaannya tidak bisa terkendalikan, apalagi jika berbicara dengan laki-laki yang menjadi penyebab ia memiliki rasa trauma.
"Astaga! jika tau seperti ini lebih baik aku tidak memberinya pendapat saat dia membicarakan orangtuanya." Nando yang masih berdiam diri tepat di belakang Yara. ucapannya kepada Yara membuatnya menjadi serba salah. Nando merasa bahwa dari semenjak pertengkaran di antara mereka beberapa jam yang lalu, Yara terlihat sedikit berbeda, namun Nando tak menghiraukannya, yang harus dia lakukan saat ini ialah meminta maaf akan perilakunya yang membuat Yara benar-benar marah kepadanya.
Seketika Nando mendekatkan tubuhnya pada Yara, kedua tangannya melingkar sempurna di perut gadis itu. "Jangan marah-marah seperti ini, aku minta maaf jika ucapanku membuatmu tidak nyaman."
Dahi Yara mengernyit bingung, pandangan matanya turun kebawah tepat pada kedua tangan Nando yang melingkar di perutnya. "Lepaskan Nando!" perintahnya seraya mencoba melepaskan tangan Nando yang melingkar.
Nando hanya menggelengkan kepalanya yang tidak terlihat oleh Yara, dagunya kini menempel tepat di bahu Yara.
"Lepaskan! aku tidak nyaman seperti ini." perintahnya kembali, namun semakin Yara berusaha melepaskan tangan nando, pria itu semakin mengeratkan pelukannya.
"Tapi aku nyaman, jarang-jarang aku bisa memelukmu seperti ini." Ucapnya seraya memperlihatkan senyumnya.
Yara pun kembali mencoba untuk melepaskan kedua tangan Nando yang melingkar semakin erat dan dagu Nando yang menempel sempurna pada bahunya. Namun usahanya sia-sia, tentu saja tenaga Nando lebih kuat darinya. hingga akhirnya Yara pun membiarkannya.
"Kenapa tidak kau peluk saja gadis yang katamu unik dan berbeda dari yang lainnya itu!" Nada suara Yara terdengar sedikit menahan kesal, pikirannya kembali pada ucapan Nando, tidak hanya raut wajahnya yang kesal kini hatinya pun ikut merasakan kekesalan. Apa ini yang dinamakan cemburu? ah bahkan Yara tidak tau bagaimana rasanya cemburu. Namun terasa sangat jelas saat Nando yang dia pikir sedang membicarakan gadis lain di hadapanya, sakit hatinya terasa sangat jelas.
Nando mengernyit, lalu senyuman manis terukir di wajah tampannya. "sepertinya dia tidak sadar siapa yang aku maksut." gumamnya dalam hati.
"Sudah, bahkan aku juga sudah pernah--" Nando menggantungkan ucapannya, Yara mengernyit lalu maniknya melirik ke samping tepat di wajah tampan Nando yang menempel manja pada bahunya.
"apa?"
"Coba ulangi lagi pertanyaanmu." di pikirannya sudah terlintas untuk menggoda Yara.
"Pernah apa?!"
Nando mengangkat kepalanya, senyumnya melebar. "Berciuman."
Seketika Yara terkesiap, kedua bola matanya membulat dengan sempurna. ia dengan kasar melepaskan tangan Nando yang masih setia melingkar di perutnya. "Menyebalkan! bisa-bisanya dia memelukku seperti itu, tapi sudah berciuman dengan wanita lain." gerutunya dalam hati. dia menatap Nando dengan dalam, hatinya merasa ngilu mendengar ucapan Nando, bahkan laki-laki itu terlihat begitu bahagia saat mengatakannya. Yara diam tak bergeming namun maniknya terlihat berkaca-kaca menatap laki-laki yang masih tersenyum tampan yang ada di hadapannya tersebut.
Nando tersadar akan perubahan raut wajah Yara, hingga kini raut wajahnya berubah datar.
"Kau kenapa?"
Ucapan Nando membuatnya mengalihkan pandangan seketika, dengan sekuat tenaga ia menahan air mata yang sedari tadi ingin terjun bebas dari tempatnya. ia menggeleng tanpa menatap ke arah Nando.
"Nando, aku lelah. aku ingin beristirahat." Yara membuang tatapannya, ia menepis kedua tangan Nando. Seketika Yara hendak berjalan menjangkau tempat tidurnya, namun dengan cepat Nando menarik tangannya. Yara menoleh tanpa mengeluarkan suara.
"apa kau benar-benar tidak ingin bersamaku lagi?" Tanya Nando, tatapan matanya terlihat sangat serius. ia kembali berfikir tentang ucapan Yara yang memintanya untuk menjahui gadis itu akibat perdebatannya dengan Yara pada saat itu.
Yara terdiam, maniknya hanya menatap datar ke arah laki-laki yang ada di hadapannya tersebut.
hening.
"Entalah, yang jelas aku kecewa dengan sikapmu." Yara berucap tanpa merubah raut wajahnya.
"kau sudah tau alasannya bukan?"
"tapi tidak seharusnya kau bersikap seperti itu kepada temanmu sendiri! apa salah jika mereka lupa?"
"Mereka keterlaluan!"
"Kau yang keterlaluan! hanya masalah seperti itu saja kau bahkan hampir memukul Darwin dan Bryan."
"Bahkan karena mereka kau bersikap seperti ini kepadaku?"
"Kenapa kau selalu menyalahkan orang lain, kau tidak sadar kesalahanmu sendiri!" Yara menahan emosinya, hingga ia sadari air matanya keluar begitu saja dari maniknya. "Aku benci laki-laki kasar!" Ucapan Yara seperti menahan sakit dalam hatinya, bahkan saat mengatakan hal itu, ingatannya tertuju pada Demian yang sering bersikap kasar kepada Rosalie, Setiap pukulan yang di berikan Demian kepada Rosalie membuat hati Yara semakin terluka, bahkan Demian tidak peduli saat Yara melihat dengan matanya sendiri.
.
.
.
.
.
Jangan lupa Vote, Like, dan Komen ya💚