
Keesokan harinya Yara bangun terlebih dahulu, sinar matahari menembus celah-celah jendela kamar Alesya, membuat Yara menggeliat mengerjapkan kedua matanya.
Ia melirik jam yang melekat pada dinding kamar. Setelah nyawanya terlihat sudah terkumpul, ia segera beranjak Dari berbaringnya. Yara melirik ke arah kedua temannya yang masih tertidur pulas.
Setelah itu yara beranjak melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. tak butuh waktu lama ia dengan ritual mandinya, Yara terlihat sudah keluar dari kamar mandi.
"Astaga, aku lupa semua bajuku kan masih di bagasi mobil." Ucap Yara seraya menepuk jidatnya.
Ia bergegas mengenakan piyama kembali, yang dipinjamkan oleh Alesya kepadanya. Yara keluar dari kamar melangkahkan kakinya menuju ke garasi mobil, untuk mengambil pakaiannya yang masih berada didalam bagasi mobil miliknya.
Saat Yara menuruni anak tangga dengan sedikit mempercepat langkahnya, Terdengar suara Bi Ana yang sedang menyiapkan sarapan diatas meja, menegurnya. Langkah Yara terhenti seketika.
"Nona Yara, ayo sarapan bibi sudah menyiapkan semuanya." Ujar Bi Ana menyunggingkan senyuman.
"Ehm, nanti saja Bi Yara akan sarapan bersama Alesya dan Valen saja, mereka belum Bangun." Sahut Yara menyunggingkan senyum.
"Baiklah, lalu Nona Yara mau kemana?" Tanya Bi Ana.
"Yara ingin mengambil pakaian Yara yang tertinggal di mobil Bi." Jawab Yara.
"Oh kalau begitu Nona Alesya dan Nona Valen biar bibi saja yang membangunkan." Ucap Bi Ana.
"Tidak usah bi biar Yara yang membangunkan mereka. Yara hanya sebentar mengambil pakaian Yara." Tolak Yara, Bi Ana pun mengangguk mengiyakan.
"Oh iya Bi, paman Gaston dan Bibi Kinan apakah mereka sudah pulang?" Tanya Yara.
Bi Ana menggelengkan kepalanya. "Tuan dan Nyonya besar kemarin malam menghubungi bibi, Mereka tidak bisa pulang karena kemarin malam mereka melanjutkan perjalanan ke luar kota. Tuan besar juga sudah memberitahu kepada Nona Alesya." Jawab Bi Ana menyampaikan apa yang di Sampaikan oleh Tuan besarnya.
"Oh..." Yara membulatkan bibirnya seraya mengangguk-anggukan kepalanya mengerti. "Yasudah bi, kalau begitu Yara akan mengambil pakaian Yara dulu." Ucap Yara yang langsung diangguki oleh Bi Ana.
Yara bergegas keluar, ia mengambil beberapa baju yang akan ia kenakan untuk pergi kuliah. setelahnya Yara kembali masuk, ia menaiki anak tangga menuju ke kamar Alesya kembali. Dilihatnya Alesya dan Valen masih tertidur.
Yara sedikit mempercepat aktivitasnya mengganti baju. Lalu ia membangunkan kedua temannya itu.
Alesya dan Valen pun bangun. mereka bergegas membersihkan diri secara bergantian. Valen menyuruh Alesya untuk lebih dulu membersihkan diri.
Tidak butuh waktu lama untuk mandi, Alesya keluar dari dalam sana. Kini sekarang berganti Valen yang masuk kedalam kamar mandi.
Sedangkan Yara, melanjutkan aktivitas nya untuk mempercantik diri. Yara adalah gadis yang sangat sederhana. bahkan dalam ber-make up ia hanya menyisir rambutnya dan mengenakan sedikit bedak dan lipbalm untuk memoles wajah cantiknya itu, tidak lupa ia menyemprotkan parfum beraroma khas aroma bayi miliknya pada beberapa bagian tubuhnya. Dalam hal berpakaian pun Yara juga sangat sederhana. celana jeans, kaos crop body fit yang dibalut dengan jaket jeans, dan sneakers adalah penampilan favoritnya. berbeda dengan kedua sahabatnya yang terlihat sedikit feminim dan sangat memperhatikan penampilan.
"Alesya, aku pinjam baju milikmu ya, aku kan tidak membawa baju kemarin." Ujar Valen yang terlihat keluar dari dalam mandi.
"Iya, ambilah sendiri didalam lemari." Perintah Alesya, ia fokus memoles wajahnya dengan make-up.
"Ambilkan." Perintah Valen kembali, nada suaranya terdengar manja.
Alesya merasa kesal dengan sikap manja Valen yang memang sudah tertanam dalam dirinya. Namun sikap manjanya itu hanya ia tunjukan kepada orang-orang terdekatnya saja. seketika Alesya menoleh, ia menajamkan matanya. "apa matamu tidak melihat? aku sedang ber make-up. Ambilah sendiri." Seru Alesya, yang mana membuat Valen mengerucutkan bibirnya, tanpa bicara ia segera menuju vke Walk in closet milik Alesya untuk mengambil baju yang akan ia kenakan.
Saat dirasa sudah cukup, Mereka bertiga bergegas memasukan barang-barang yang akan dibutuhkan mereka kedalam tas masing-masing.
Setelah mereka bertiga sudah selesai dengan ritual berdandan ala masing-masing dan berkemas. mereka pun segera pergi ke dapur untuk sarapan.
Roti berisi telur setengah matang dan susu hangat adalah sarapan favorit mereka bertiga, Bi Ana pun sudah paham makanan favorit ketiga gadis tersebut Saat sarapan.
"Yara, kita pergi kuliah membawa mobilku saja ya." Ucap Alesya tanpa melihat ke arah Yara, ia fokus pada makanan miliknya.
"Baiklah, terserah kau saja." Jawab Yara, hanya melirik ke arah Alesya.
"Ehm, tapi kalau aku tidak bisa ikut dengan bagaimana." Ucap Valen menghentikan aktivitas makannya.
Yara dan Alesya menoleh Kearah Valen bersamaan dengan mulut yang masih mengunyah makanan masing-masing.
"Memangnya kenapa kau tidak bisa ikut dengan kami Valen?" Tanya Yara. Ia mengernyit heran.
"Bryan mengajakku berangkat bersama, dia akan menjemputku." Jawab Valen memelankan nada Suaranya, ia merasa tidak enak kepada dua temannya itu.
"Yasudah kau berangkat bersama Bryan saja." Ucap Yara sembari tersenyum. Alesya pun menganggukan kepalanya.
"Memangnya boleh aku berangkat bersama Bryan?" Tanya Valen.
"Memangnya siapa yang akan melarangmu untuk berangkat bersama Bryan?" Tanya Alesya kembali. ia mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada." Jawab Valen menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Lalu kenapa kau bertanya seperti itu?" Tanya Alesya.
"Aku kan hanya bertanya saja." Sahut Valen dengan raut wajah yang polos.
Alesya berdecak kesal, ia menajamkan bola matanya kepada Valen. "kau ini sungguh tidak jelas!" Ucap Alesya.
"Memangnya salah jika aku hanya bertanya?"
Pertanyaan Valen membuat Alesya semakin menajamkan bola matanya.
Yara hanya terkekeh melihat tingkah kedua temannya yang ia rasa sangat lucu.
"Kenapa kau malah tertawa?" Tanya Valen
Yara menggelengkan kepalanya. "Tidak, Sudah cepat habiskan makananmu." Perintah Yara, Valen pun menangguk mengiyakan.
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Jangan lupa Vote dan Like