My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #38



Yara yang merasa kesal, dengan sengaja ia menggigit dada bidang Nando dengan sangat gemasnya.


Nando pun Sontak melepaskan pelukannya tersebut. "Kenapa menggigit?" Tanyanya, ia mendesis seraya memegangi dadanya yang terasa ngilu akibat gigitan dari Yara.


"apa pendengaranmu sudah tidak berfungsi! ada yang mengetuk pintu." sahut Yara mengeraskan nada suaranya.


"menyolot sekali! Aku sudah tau." jawab Nando seraya menyilangkan kedua tangannya.


"Lalu kenapa malah tidak cepat membuka pintu?" Tanya Yara, yang mana Nando hanya melihat dan menatapnya saja.


malah memelukku semakin erat." gerutu Yara dengan pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Nando.


"memangnya kenapa? aku suka memelukmu." ucap Nando menggoda. lalu mengedipkan sebelah matanya. membuat Yara memutar bola matanya malas.


"Sudah biarkan saja, itu pasti Alesya dan Valen." Sahut Nando, membuat Yara menoleh dan menajamkan maniknya ke arahnya.


"Dasar menyebalkan." Yara hendak beranjak dari duduknya untuk membuka pintu tersebut, namun Nando menahannya.


"Kau mau kemana?" Tanya Nando.


"Membuka pintu, mau apa lagi." jawab Yara.


"Jangan banyak bergerak, kakimu barusaja dipijat dan masih bengkak." Ujar Nando memperingatkan Yara.


"Banyak Bicara!" Ucap Yara, ia yang merasa telinganya berisik karena ketukan pintu yang semakin keras membuatnya kembali beranjak dari duduknya, Yara berusaha untuk berjalan dengan tertatih ke arah pintu tersebut. Membuat Nando yang menatapnya kesal ikut beranjak dan mengikuti Yara yang berjalan masih beberapa langkah dari jangkauannya.


"Keras kepala sekali." Nando menggelengkan kepalanya, ia melingkarkan tangannya ke pinggang Yara, dan menyuruh Yara untuk duduk kembali.


"Biar aku saja." Nando pun bergegas berjalan kembali untuk membukakan pintu.


Benar dugaannya yang datang berkunjung adalah Alesya, namun Alesya tidak sendiri dan tidak hanya bersama Valen saja. Ada Darwin dan Bryan juga terlihat disana.


"Kenapa lama sekali membuka pintunya." Alesya bersungut kesal menatap Nando.


"aku dan Yara sedang makan, kalian ini mengganggu saja." Sahut Nando.


Tanpa menjawab ucapan Nando, Alesya dan Valen menerobos masuk kedalam untuk menemui temannya tersebut, tanpa memperdulikan Nando yang tengah berdiri didepan pintu menghalangi jalan. tubuh Nando terlihat sedikit tehentak karena Alesya dan Valen yang menerobos masuk.


Darwin dan Bryan yang masih berdiri didepan pintu, menatap Nando seakan banyak pertanyaan-pertanyaan mengintimidasi terlihat dari raut wajah mereka berdua.


"Sejak kapan kau berada disini?" Tanya Darwin menautkan kedua alisnya.


Namun tak menjawab pertanyaan dari Darwin, Nando malah membalikan badannya melangkahkan kakinya masuk, lalu diikuti Oleh Bryan dan Darwin.


Mereka bertiga mendudukan tubuhnya ke atas sofa.


"Nando, apa benar ini apartement milik Yara?" Tanya Bryan. seraya maniknya melirik kesana kemari memperhatikan setiap rinci dari apartement mewah tersebut.


"Ini apartement milik mendiang kakek Yara, Tapi sudah diwariskan kepada Yara." Jawab Nando membenarkan perkataan Yara yang sempat Yara ceritakan kepadanya.


"memangnya Yara tidak tinggal bersama dengan orangtuanya?" Tanya Bryan.


"Entahlah, dia bilang hanya ingin hidup mandiri dan tidak ingin mengandalkan harta kekayaan orangtuanya." ucap Nando.


"Oh..." Bryan membulatkan bibir nya.


"Sejak kapan kau berada disini?" Darwin mengulangi pertanyaannya yang belum sempat dijawab oleh Nando.


"Sejak pagi." Jawab Nando dengan santainya.


"Tadi sebelum aku ke toilet kampus aku sempat berpapasan dengan Yara, Yara berlarian dan tidak sengaja menabrakku dan dia terluka, lalu aku membawanya ke rumah sakit, maka dari itu aku meminta tolong kepada Alesya untuk memintamu mengizinkanku kepada dosen." Nando menceritakan kejadian pagi tadi, alasan mengapa ia tak bisa ikut kelas pembelajaran hari ini.


Darwin dan Bryan hanya mengangguk-anggukan kepalanya mendengar cerita dari temannya itu, namun dipikirannya masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin mereka pertanyakan kepada Nando.


"Oh iya tas mu ada didalam mobilmu, tadi aku yang membawanya, untung Saja aku berangkat kuliah tidak membawa mobil, jadi aku bisa mengemudikan mobilmu." Ucap Darwin.


"Terimakasih Darwin." Ucap Nando, Darwin pun mengangguk mengiyakan.


Bryan menatap Manik Nando. "Kau... dari tadi hanya berdua dengan Yara? kalian sedang apa saja sejak tadi?" Tanya Bryan. Darwin yang merasa ingin sekali sedari tadi menanyakan hal itu kepada Nando tapi ditahannya, kini ia fikir pertanyaan dari Bryan mewakili rasa penasarannya juga kepada Nando, Darwin seketika juga menatap manik Nando.


"Hanya menemaninya saja. kenapa memangnya?" Tanya Nando menautkan kedua alisnya.


"bukan itu yang aku maksut." Ujar Bryan.


"Ehm. Darwin berdehem, lalu memajukan sedikit kepalanya berdekatan dengan Nando. "maksut Bryan kau dan Yara berbuat apa saja didalam sini? kalian kan hanya berdua saja." Sahut Darwin memelankan Nada suaranya.


Nando yang seketika paham akan pertanyaan dari kedua temannya tersebut yang mengarah ke sana, ia pun mengangkat salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman usil disana.


"berpegangan tangan, memeluknya dan... menciumnya." Ucap Nando, ia pun berbicara dengan Nada yang sangat pelan agar tidak terdengar oleh Yara.


"Hanya itu?" Darwin sedikit mengeraskan Nada suaranya, Nando pun menganggukan kepalanya.


Darwin dan Bryan berdecak. "Ah tidak seru sekali." Ucap Bryan.


"Menurut kalian apa?" Tanya Nando.


"kenapa kau tidak menidurinya saja Nando, kau kan mencintainya. dengan begitu Yara pasti tidak akan bisa jauh darimu." Ucap Bryan, yang mana membuat Nando berdecak kesal.


"Kau yang benar saja! saat aku menolongnya saja dia sudah salah paham nenuduhku yang tidak-tidak, apalagi aku sengaja melakukannya" Ucap Nando. mengingat Yara yang sangat marah pada saat itu karena menuduhnya berbuat macam-macam Terhadapnya.


"apa salahnya kau coba, kau kan mencintainya. memangnya kau tidak ingin tidur bersamanya?" Tanya Bryan.


"Aku memang mencintainya, tapi aku bukan Darwin yang berotak mesum yang senang meniduri banyak wanita!" Seru Nando seraya melirik ke arah Darwin, Nada suaranya terdengar sedikit keras.


"Tutup mulutmu Nando." Sahut Darwin nenajamkan maniknya kepada Nando.


"Memang benar kan, kau-- " dengan cepat Darwin membekap mulut Nando, Nando pun menepis kasar tangan Darwin.


"pelankan Suaramu, atau aku akan menyumpal mulutmu itu!" Ancam Darwin. Ia menoleh ke arah ketiga gadis yang sedang tertawa bersenda gurau.


"kenapa memangnya?" Tanya Nando.


"Nando asal kau tau, Darwin sedang berusaha untuk mendekatinya. jangan berbicara tentang wanita dengan Nada keras seperti itu." Sahut Bryan. Nando pun menoleh ke arah meja makan, melihat Yara, Alesya dan Valen yang sedang asyik tertawa terbahak. Lalu ia mengarah menatap Darwin dan Bryan kembali.


"Siapa yang kau maksut?" tanya Nando menautkan kedua alisnya.


"Alesya?" imbuhnya.


Bryan pun menganggukan kepalanya dengan cepat. "bisa-bisa Valen juga akan marah kepadaku jika mendengar kau membahas soal wanita."


"Itu masalahmu." Ucap Nando.


"Sialan kau!" Sahut Bryan menajamkan maniknya.


"Lalu bagaimana dengan Jenni?" Tanya Nando. Jenni ialah wanita yang sudah lama dekat dengan Darwin, Bahkan kedekatan mereka berdua terbilang seperti layaknya sepasang kekasih bagi siapa saja yang melihatnya. Jenni memang sangat mencintai Darwin, namun tidak dengan Darwin ia hanya menganggap Jenni tak lebih hanya sebagai mepuas nafsunya, Bahkan Darwin juga sering sekali meniduri wanita-wanita yang sedang dekat dengannya.


"Kau jangan mempermainkan Alesya, dia gadis yang baik. tidak seperti wanita-wanita yang mau hanya dijadikan pemuas nafsumu itu!" Ucap Nando, Nada suaranya penuh dengan penekanan, ia tau sekali bagaimana sifat temannya itu, jika ia sudah bertindak dan berkeinginan maka keinginannya itu harus terpenuhi tak peduli apapun itu. Nando hanya tidak mau Darwin terus-menerus menyakiti banyak wanita, apalagi Alesya adalah teman dekat dari wanita yang sangat dicintainya.


"Kalau kau hanya menjadikan Alesya seperti yang lainnya, lebih baik tidak usah mendekatinya!" Seru Nando menajamkan maniknya kepada Darwin.


"Kau tenang saja Nando, aku tidak akan menjadikan Alesya seperti wanita-wanita yang sebelumnya dekat denganku, bagiku dia wanita yang berbeda dari yang lainnya. sepertinya aku memang benar-benar menyukainya dan untuk masalah Jenni, kalian berdua tau aku tidak pernah mencintainya. aku berjanji akan menjauhi nya jika Alesya mau menjadi kekasihku." Ucapan Darwin membuat Nando merasa sedikit lega mendengarnya, ia berharap Alesya bisa merubah sikap Darwin menjadi lebih baik lagi.


"Syukurlah kalau kau berpemikiran seperti itu." Ucap Nando, raut wajahnya terlihat datar. Bryan yang mendengar Hanya mengangguk-anggukan kepalanya.


"Lalu kau sendiri bagaimana?" Tanya Darwin.


"kenapa denganku?" Tanya Nando.


"memangnya Kau sudah benar-benar melupakannya?"


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Jangan lupa Vote dan LikeπŸ’š