My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #24



Dengan raut wajah yang kesal Valen mendahului yang lainnya, ia segera masuk kedalam mobil milik Alesya, Bryan yang merasa Kekasihnya itu sedang marah padanya, ia mengurungkan niatnya untuk memaksa Valen satu mobil dengannya. ia paham bagaimana sikap kekasihnya jika sedang marah.


"Bryan, kau tidak ingin membujuknya?" Tanya Alesya seraya memperhatikan Valen yang masuk ke dalam mobil miliknya.


Bryan menggelengkan kepalanya pelan. "Biar saja Alesya." Ucapnya singkat. Alesya pun menganggukan kepalanya mengerti.


"Baiklah kalau begitu mari kita berangkat, nanti kita akan telat." seru alesya yang langsung di iyakan oleh yang lainnya. Mereka semua bergegas masuk ke dalam mobil masing-masing dan segera melajukan mobil masing-masing dengan kecepatan Sedang.


*****


Didalam mobil milik Alesya, Valen duduk di bagian tengah. sedangkan Yara duduk di jok sebelah Alesya yang mengemudi.


Pikiran Yara teringat sesuatu, sedari kemarin ia belum mengaktifkan ponsel miliknya sama sekali, ponsel tersebut masih dalam keadaan mati. Yara mengaktifkan ponsel miliknya pikirannya mengarah kepada Rosalie, sampai detik ini Yara masih belum memberitahu kepada Rosalie tentang keadannnya. Rosalie pasti menghawatirkan Yara, Yara pun paham akan hal itu.


Benar saja saat ponsel miliknya sudah menyala, Banyak sekali notifikasi pesan dan panggilan masuk, Yara segera membuka satu persatu panggilan masuk tersebut, disana banyak panggilan masuk dari Demian dan Rosalie, lalu ia juga membuka satu persatu pesan masuk didalam ponsel miliknya tersebut.


*Yara sayang, apakah Yara sudah sampai di apartement milik kakek? ~Mama Rosalie


Kau dimana sayang, jangan membuat mama khawatir, kenapa Yara tidak menghubungi mama sama sekali. ~Mama Rosalie


Nak, jaga dirimu dengan baik. Papa tau kau sangat kecewa dengan papa, maafkan papa Yara. Jadilah anak yang baik yang bisa membanggakan Papa dan mamamu. ~Papa Demian


Hai Nona? ~XXXXXXXXX*


"Astaga mama sangat Mengkhawatirkanku." Ucap Yara.


Alesya yang mendengar ucapan Yara, segera Mengalihkan pandangannya kepada Yara. "Are you okey Yara?" Tanya Alesya.


"Aku Lupa memberitahu mama, dia sangat mengkhawatirkanku Alesya." Jawab Yara raut wajahnya terlihat gelisah.


"Yara cepat kau hubungi bibi Rosalie, Kasihan dia sangat Mengkhawatirkanmu." Perintah Valen.


"Iya cepat hubungi bibi Rosalie, katakan kalau kau memang baik-baik saja." Sahut Alesya.


Yara pun Menganggukan kepalanya cepat, ia segera menghubungi Rosalie untuk memberitahukan Keadaannya. panggilan pertama Rosalie tidak menjawabnya, Yara berusaha untuk Menghubunginya kembali, hingga panggilan ketiga akhirnya Rosali menjawab panggilan Yara.


'Hallo...'


"Hallo, Mama maaf Yara baru bisa menghubungi mama sekarang, Kemarin ponsel Yara lowbatt. maaf ma."


'Astaga sayang, mama sangat mencemaskanmu. apa kau baik-baik saja Nak?'


"Iya ma, Yara baik-baik saja. semalam aku menginap dirumah Alesya."


'Syukurlah Nak, lain kali jangan seperti ini lagi kau mengerti.'


'Baiklah nak, jaga dirimu baik-baik.'


Yara mengiyakan ucapan Rosalie, mereka berdua saling memutuskan panggilan masing-masing.


Yara, Alesya, dan Valen segera turun dari dalam mobil. begitu juga dengan Nando, Bryan, dan Darwin. kampus sudah terlihat ramai. Beruntung mereka tidak terlambat datang. Waktu mereka untuk masuk ke dalam kelas masing-masing masih menyisakan 15 menit.


Mereka semua melangkahkan kakinya, bergegas masuk ke dalam Universitas yang sangat terkenal di Prancis. Valen, Bryan dan Alesya, Darwin mereka berjalan beriringan.


Sedangkan Nando berjalan dibelakang Yara yang ada Depannya layaknya seorang bodyguard. Yara tak Menyadari hal itu, Maniknya terfokus kepada ponsel miliknya yang mana ia sedang melihat pesan dari nomor yang tidak ia kenali. "Siapa orang ini? biarlah tidak usah kubalas mungkin hanya orang iseng saja." Yara Menghentikan labgkahnya secara tiba-tiba membuat Nando yang berjalan Dibelakangnya sembari menatap ke arah sekitar, Menabrakan tubuhnya kepada Yara. Yara sedikit Terjungkal, Nando dengan cepat memengangi bahu Yara.


Yara membalikan badannya. Seketika Maniknya membulat sempurna saat Yang ia lihat adalah Nando. Yara menepis kasar tangan Nando yang masih berada diatas bahu Yara. "Kau! apa matamu buta tidak melihat aku ada disini?" Tanya Yara dengan ketusnya.


"Hei Nona! daritadi aku berjalan dibelakangmu. kenapa kau malah tiba-tiba berhenti?" Tanya Nando kembali, nada Suaranya Terdengar Santai.


Yara mengernyit, lalu ia membalikan Badannya ke arah semula, maniknya melihat kearah 2 pasang pria dan wanita berjalan secara beriringan. Yara menghela Nafasnya panjang. "Sialan, kenapa aku malah ditinggalkan dengan pria brengsek ini." gerutu Yara dalam hati. Yara pun membalikan kembali badannya mengarah ke Nando.


"Kenapa kau berjalan Dibelakangku? kau pasti mempunyai niat buruk kepadaku." Seru Yara pikiran akan kejadian di apartement milik Nando seketika muncul didalam kepalanya. Nando pernah berbuat buruk padanya, bukan tidak mungkin Nando akan melakukannya lagi. pikiran Yara terngiang-ngiang akan hal itu.


Nando mengernyitkan dahinya. "Jangan asal bicara! aku-- "


"Aku tidak asal bicara! kau pernah Melakukan hal buruk kepadaku. bukan tidak mungkin kau akan Melakukannya lagi. Kau pasti ingin mencelakai ku kan?" Yara semakin menajamkan kedua bola matanya, Bahkan ia mengeraskan suaranya. Membuat beberapa mahasiswa yang lainnya yang sedang berjalan di depan mereka, melihat mereka denagan tatapan aneh.


Nando yang kesal dengan ucapan Yara, masih saja menuduhnya melakukan hal buruk kepadanya seketika mencengkram tangan Yara, Yara pun menepis kasar tangan Nando.


"tutup mulutmu itu! aku tidak pernah melakukan apapun kepadamu." Ucap Nando raut wajahnya terlihat serius. Nando sangat Yakin dengan ucapannya, ia berlalu pergi meninggalkan Yara.


"Dasar brengsek!" Yara setengah berteriak, agar Nando mendengar ucapannya. Namun Nando tak memperdulikan ucapan Yara, Ia terus berjalan semakin menjauh dari Yara.


"Dia masih saja menuduhku seperti itu." Ucap Nando dalam hati.


.


.


.


.


.


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Jangan lupa Vote dan Like.