
Valencia, Alesya, dan Yara melangkahkan kakinya menuruni anak tangga. mereka akan menemui Bryan, Darwin, dan juga Nando.
ketiga gadis tersebut bergegas ke ruang tamu, disana terlihat ada tiga pria duduk bersampingan menunggu kedatangan Valencia. Namun mereka bertiga melihat Valen tidak sendirian ada Yara dan Alesya yang menemaninya.
Saat ketiga gadis itu telah sampai diruang tamu. Nando dan kedua sahabatnya segera beranjak berdiri.
Manik Yara terfokus pada pria berkaos hitam, pria itu tak lain ialah Nando. Manik Yara membulat dengan sempurna. "Kau." Ucap Yara seraya menunjuk tepat di depan wajah Nando.
Nando menautkan kedua alisnya, Ia sedikit terkejut melihat keberadaan Yara tepat dihadapannya. "Kau." Ucap Nando.
Keempat teman mereka berdua saling beradu pandang, pasalnya mereka berempat melihat Yara dan juga Nando seperti sudah saling mengenal.
"kalian berdua sudah saling mengenal?" Tanya Valencia yang mana membuat Yara dan Nando menganggukan kepalanya pelan.
"Bagaimana bisa?" Tanya Alesya.
"Kita bertemu saat di Club milik papaku." Ujar Nando. maniknya masih terfokus memandang manik Yara dengan tatapan yang dalam.
"Oh jadi Club itu milik keluarganya, aku sungguh menyesal sudah datang kesana." Yara bergumam dalam hati, Raut wajahnya menahan kesal.
"Benarkah Yara?" Tanya Valen dan Alesya bersamaan ia terkejut akan ucapan Nando, Pasalnya keduanya tau jika Yara tidak pernah suka berkunjung di Club malam. maka dari itu mereka berdua meyakinkan ucapan Nando.
"Oh ternyata Nona ini bernama Yara." gumam Nando dalam hati. ia menyunggingkan senyum kepada Yara. Maniknya masih tidak lepas menatap gadis itu Namun Yara seketika memalingkan wajahnya dari Nando
"Sejak kapan kau suka mengunjungi Club?" Tanya Alesya seraya menyenggol tangan kiri Yara, keningnya mengerut menatap sahabatnya itu.
"Ehm... hanya sekali saja." Jawab Yara sedikit terbata-bata.
"Kenapa Kau-- " Belum sempat Valen meneruskan ucapannya untuk bertanya lagi kepada Yara, Alesya dengan cepat memotong Ucapan Valencia.
"Astaga aku sampai lupa, Yasudah kalian kembalilah duduk." Perintah Alesya kepada ketiga pria yang ada dihadapannya.
Mereka bertiga menganggukan kepalanya bersamaan.
"Kau ini kenapa memotong pembicaraanku, aku kan ingin bertanya lagi kepada Yara." Seru Valen menatap kesal ke arah Alesya.
"Mana ku tau jika kau masih ingin bertanya kepada Yara." Ujar Alesya dengan santainya.
"kau sengaja kan memotong pembicaraanku, supaya aku tidak jadi bertanya kepada Yara." Sahut Valen.
"Sengaja apanya? aku benar-benar tidak tau jika kau ingin bertanya lagi." Jawab Alesya.
Nando yang merasa telinganya sudah sakit mendengarkan kedua gadis tersebut berdebat seketika menghela nafasnya kasar. " Astaga, Kenapa mereka berdua sama saja seperti Darwin dan Bryan." gumamnya dalam hati.
"apa pendengaranmu sudah tidak berfungsi? aku tadi sempat berbicara sedikit tapi kau memotongnya." Seru Valen sedikit mengeraskan nada Suaranya.
"Pendengaranmu yang sudah tidak berfungsi, aku kan sudah bilang, aku tidak tau!" Sahut Alesya tak mau kalah.
"Kau ini memang benar-benar menyebalkan!" Ucap Valen menajamkan maniknya.
"Kau yang menyebalkan!" Sahut Alesya, maniknya juga menajam ke arah Valen.
Nando, Bryan Dan Darwin yang tadi sempat mendudukan tubuhnya diatas sofa seketika beranjak berdiri kembali saat Alesya dan Valen beradu mulut.
"Sudah sudah kenapa jadi kalian yang ribut." Ucap Darwin menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Tidak usah heran jika mereka berdua beradu mulut seperti ini. Aku yang setiap hari mendengarnya sudah biasa, bahkan gendang telingaku ini sudah hampir meledak karna seringnya mendengar mereka selalu berdebat." Seru Yara maniknya melirik ke arah Valen dan Alesya.
Valen dan Alesya seketika bungkam saat mendengar ucapan dari Yara.
*****
Yara, Valen dan Alesya segera mendudukkan tubuhnya di atas Sofa yang ada tepat di depan ketiga pria itu. hingga posisi duduk mereka saling berhadapan.
Valen memalingkan wajahnya saat kekasihnya menatap tajam ke arahnya. terlihat raut wajahnya menahan amarah.
"Berani sekali dia memalingkan wajahnya." Gumam Bryan dalam hati. Seketika ia beranjak berdiri lalu menarik tangan Valen, Valen pun sontak beranjak dari duduknya.
"Permisi, aku ingin berbicara sebentar dengan Valen." Ujar Bryan perpamitan kepada keempat orang yang berada disana.
Keempatnya menoleh ke arah Bryan lalu menganggukan kepalanya.
*****
Alesya dan Darwin sedang asyik dengan sendirinya, mereka berdua bersenda gurau bahkan saling tertawa terbahak, mereka berdua saling bertukar cerita, sampai tak menghiraukan keberadaan Yara dan Nado. posisi duduk Alesya dan Darwin saling berdekatan Namun sedikit jauh dari arah Yara dan Nando.
Nando dan Yara saling berdiam diri, mereka berdua tak berucap sepatah kata pun.
Yara mengerucutkan bibirnya kesal menatap Alesya dan Darwin begitu asyik bersenda gurau, suara tertawa mereka sedikit keras terdengar. mereka layaknya teman akrab yang sudah lama saling mengenal. "Alesya sungguh menyebalkan, dia tak menghiraukan aku sedikitpun. kenapa aku harus bertemu lagi dengan pria bejat ini. aku sungguh benci kepadanya." gerutu Yara dalam hati, maniknya sedikit melirik ke arah Nando. Seketika ia memalingkan wajahnya kembali saat ia mendapati Nando sedang melihat ke arahnya.
"Nona..." Panggil Nando kepada Yara. Namun Yara hanya diam seperti pura-pura tidak mendengar.
"Hei Nona..." Nando memanggilnya kembali namun tetap saja Yara tak Menghiraukan. Yara memainkan kuku ibu jarinya.
Nando beranjak, memindahkan posisi Duduknya tepat disamping Yara. "apa kau tuli?" Tanya Nando sedikit memiringkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Yara yang sedang menunduk.
"Kenapa posisi dudukmu berpindah kemari?" Yara mendongak menatap tajam Manik Nando.
"Aku memanggilmu tapi kau pura-pura tidak mendengar, Yasudah Aku berpindah posisi duduk kemari." Jawab Nando dengan Santainya.
"Oh... kau memanggilku?" Tanya Yara sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Nando.
"Menurutmu bagaimana?" Tanya Nando kembali, Ia lebih mendekatkan wajahnya. Seketika Yara memundurkan nya.
"Menjauhlah!" perintah Yara, Namun Nando hanya diam.
"Menjauhlah! menjauh dariku." Ucapnya penuh penekanan, ia mendorong tubuh Nando dengan sedikit keras, namun Tubuh kekar Nando tak berpindah sedikitpun dari tempatnya.
"Tidak mau." Tolak Nando, ia malah menyunggingkan sebuah senyuman kepada Yara.
"Dasar sialan, Menjauhlah." Yara mencoba untuk mendorong kembali tubuh Nando. Namun usahanya sia-sia, tubuh Nando tetap tak berpindah sedikitpun. Nando menyilangkan kedua tangannya di atas perutnya.
"Kau suka sekali menyentuh tubuhku." Goda Nando melirik Yara, Ia menyunggikan senyuman kepada Yara.
Yara segera menjauhkan tangannya dari tubuh Nando, Ia menggeser posisi duduknya sampai sudut sofa. "jaga mulutmu itu, jangan asal bicara." Seru Yara ia tak sedikitpun menatap ke arah Nando.
"buktinya kau daritadi menyentuh tubuhku kan."
Yara memutar bola matanya malas mendengar ucapan Nando yang sangat menggelikan menurutnya. "Dasar pria mesum!" Gumamnya dalam hati.
"Aku tidak menyentuhmu, tapi aku mendorongmu!" Ucap Yara dengan ketus.
"Sama saja. tanganmu tadi bersentuhan dengan tubuhku." Ucap Nando santai.
"Terserah kau saja! aku sungguh tidak tahan jika terus berada disini." Ucapnya setengah berteriak, Yara beranjak berdiri lalu melangkahkan kakinya pergi dari sana.
"Yara kau mau kemana?" Tanya Alesya yang sempat mendengar teriakan dari Yara kepada Nando. ia memperhatikan langkah Yara yang semakin menjauh dari jaraknya.
Yara tak menjawab pertanyaan Alesya ia terus berjalan melangkahkan kakinya untuk pergi ke kamar Alesya.
"Nando, Yara kenapa?" Tanya Darwin, Ia juga bingung kenapa Yara berteriak kepada Nando lalu pergi begitu saja.
Nando hanya menggedikkan bahunya, tanpa melihat ke arah Alesya dan Darwin yang sedang bertanya kepadanya.
Nando menyunggingkan senyuman, ia menatap kesembarang arah. "dia benar-benar menggemaskan jika sedang galak seperti itu." Ucapnya dalam hati. Pikirannya terngiang-ngiang akan Yara. "Dia sangat berbeda dengan wanita-wanita diluar sana, bahkan dengan wanita-wanita yang pernah dekat denganku sekalipun."
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Jangan lupa Vote dan Like