
Bryan, Nando, dan Darwin duduk di gazebo yang terletak tepat disamping rumah milik Valencia. Bryan enggan untuk pergi dari sana. Rasa cemas nya kepada kekasihnya semakin menjadi. ia berfikir jika nantinya kalau Valen tiba-tiba pulang ia tidak lagi kepikiran akan kekasihnya itu. ia juga sudah meminta izin kepada bi Ema untuk menunggu Valen sembari bersantai sejenak bersama kedua sahabatnya. bi Ema pun mengiyakan.
15 menit mereka duduk disana menantikan kepulangan Valencia namun Valen tak kunjung datang.
Dering ponsel milik Bryan terdengar sedikit keras ditelinga ketiganya. bahkan membuat manik mereka memperhatikan ponsel tersebut yang berada tepat disamping Bryan.
Manik Bryan membulat sangat mengetahui yang meneloponnya adalah Alesya, is segera mengangkatnya, menaruh ponsel tersebut ke arah daun telinganya.
Bryan menanyakan keberadaan Valencia apakah Valen sedang bersama Alesya saat ini. Alesya pun mengiyakan. demi apapun Bryan sangat lega mendengarnya, rasa kekhawatirannya hilang seketika. ia segera meminta alamat rumah Alesya. Alesya pun mengirimkan alamat rumahnya melalui pesan.
Saat Bryan sudah menerima alamat rumah Alesya ia segera beranjak untuk pergi ke rumah sahabat kekasihnya tersebut. "Ayo kita pergi ke rumah Nona Alesya." Ajaknya kepada Nando dan Darwin.
"Memangnya Nona Alesya sudah memberitahu alamat rumahnya kepadamu?" Tanya Darwin.
"Sudah, Nona Alesya sudah mengirimkan lewat pesan." Jawab Bryan.
"Baiklah." Ucap Darwin.
"Bryan tunggu." Panggil Nando saat Bryan hendak berjalan ke arah mobil miliknya.
Bryan membalikan badannya melihat ke arah Nando. "Apa?"
"Lebih baik kita kesana menggunakan mobilku saja." Ucap Nando. Yang mana Langsung diangguki oleh Bryan.
"yasudah biar mobilku disini saja."
"Kau ini tidak sabaran sekali. jangan terburu-buru! santailah sedikit." Seru Darwin yang melihat Bryan mempercepat langkahnya tidak sabaran.
"Banyak bicara! cepatkan langkah mu sedikit, seperti siput saja." perintah Bryan menatap Darwin yang berjalan dengan santainya.
"Nando biar aku saja yang menyetir, berikan kunci mobilnya." Perintah Bryan, saat Nando hendak memberikan kunci Mobil miliknya kepada Bryan, tangan Darwin dengan cepat menyahutnya.
"Tidak! Biarkan Nando saja yang menyetir, bisa-bisa kau membunuhku dan Nando jika kau yang menyetir." Ujar Nando ia tidak ingin jika Bryan yang mengemudikan Mobil, ia tidak mau jika Bryan mengemudi dengan kecepatan tinggi, ia paham jika Bryan sudah bertingkah tidak sabaran karna sesuatu, sahabatnya itu jika sedang berkendara akan mengemudikan mobil dengan kecepatan yang sangat tinggi. karena Ia pernah beberapa Kali mengalaminya.
Bryan menajamkan kedua maniknya kepada Darwin, namun Darwin tak menghiraukannya ia memberikan kembali kunci mobil Nando kepada pemiliknya. "Sudahlah Nando kau saja yang menyetir. Aku tidak mau mati konyol jika dia yang menyetir dengan kecepatan tinggi." Ujar Darwin, ia segera masuk ke dalam mobil milik Nando tanpa memperdulikan Manik Bryan yang semakin menajam menatap ke arahnya.
"Ayo Bryan masuklah, biar aku yang menyetir." Perintah Nando. Bryan segera masuk kedalam mobil milik Nando. Nando pun segera melajukan mobil miliknya dengan kecepatan sedang untuk pergi ke rumah Alesya.
*****
Alesya masuk ke dalam perpustakaan, Valen dan Yara sedang duduk di Sofa yang sedikit panjang tepat berada di tengah diantara rak-rak buku. Alesya menghampiri mereka berdua yang sedang fokus membaca buku yang mereka pegang masing-masing. Alesya mendudukkan tubuhnya disamping Valen.
"Valen..." Panggil Alesya seraya menepuk pelan bahu Valen.
"Hmm." Valen hanya berdehem menjawab panggilan Alesya, manik matanya masih terfokus pada buku yang ia baca.
"Tunanganmu tadi meneleponku, Dia menanyakan keberadaanmu. dia juga meminta alamat rumahku." Ucap Alesya menjelaskan. yang mana membuat Yara menghentikan aktivitas membacanya lalu mengarahkan Pandangannya kepada Alesya yang sedang berbicara kepada Valen. "mungkin saja dia akan kemari untuk menemuimu."
Valen menutup buku yang ia baca, ia meletakkan buku tersebut diatas paha kakinya. "Apa? Bryan maksutmu?" Tanya Valen memastikan, ia menautkan kedua alisnya.
"memangnya tunanganmu ada yang lain selain yang bernama Bryan?" Tanya Alesya.
"kau memberitahunya jika aku Ada disini?" Tanya Valen.
Alesya menganggukan kepalanya cepat. "Iya."
Alesya memukulkan buku yang ada diatas paha Valen kepada Valen dengan sedikit keras. "kau ini bagaimana, Aku tadi kan sudah bilang aku sudah memberitahunya bahwa kau ada disini." Seru Alesya sedikit mengeraskan nada suaranya.
"Aku sedang tidak ingin bertemu dengannya." Ucapnya, raut Wajah Valen menampakkan kekesalan sembari meletakkan kedua tangannya diatas perutnya.
"Memangnya kenapa kau tidak ingin menemuinya?" Tanya Yara yang sedari tadi berdiam Hanya memperhatikan kedua sahabatnya itu berbicara, akhirnya membuka suara.
"iya memangnya kenapa?" Sahut Alesya menautkan kedua Alisnya.
"Aku sedang kesal dengannya, tadi sore Aku sempat berdebat Dengannya." Jawab Valen mengerucutkan bibirnya.
"ken-- "
Belum sempat Alesya bertanya lagi kepada Valen, Ucapan Alesya terhenti ketika Bi Ana masuk kedalam perpustakan untuk memberitahukan kedatangan Bryan, Nando, dan Darwin.
"permisi Nona Alesya, Ada 3 pemuda seusia Nona sedang mencari Nona Valencia." Ucap Bi Ana
"Astaga itu pasti Bryan, Nando dan Darwin." Ucap Valen, Alesya pun menganggukan kepalanya menatap ke arah Bi Ana.
"mereka cepat sekali sampai kemarai. rasanya baru 10 menit yang lalu aku berbicara ditelepon dengannya." Gumam Alesya dalam hati.
"Suruh mereka menunggu diruang tamu Bi, dan tolong buatkan minuman untuk mereka." perintah Alesya, Bi Ana Menganggukan kepalanya segera beranjak pergi ke dapur untuk membuatkan minuman.
"Ayo Valen temui tunanganmu." Perintah Yara.
Valen menggelengkan kepalanya. "Tidak mau! aku sedang malas bertemu dengan Bryan, aku masih kesal dengannya."
"Sudahlah jangan seperti anak kecil, cepat temui dia." perintah Alesya sedikit mengeraskan nada suaranya.
Valen merasa takut akan bentakan Alesya, ia pun mengiyakan. Ia beranjak berdiri dari duduknya. Namun saat ia hendak melangkahkan kakinya, ia menoleh ke arah Alesya dan Yara.
Yara dan Alesya menaikkan kedua alisnya. "Apa?" Tanya Yara dan Alesya bersamaan.
"Lesya kau kan yang punya rumah, ayo temani aku menemui Bryan. aku tidak enak jika menemuinya sendiri." Ucap Valen dengan suara manjanya.
Alesya menghela nafasnya kasar. "Baiklah." Ia beranjak berdiri, lalu tangannya menarik tangan Yara sontak Yara pun ikut beranjak dari duduknya. "Kau juga ikut." ucap Alesya.
Yara tak menjawab, hanya pasrah menuruti kemauan dari kedua sahabatnya tersebut.
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Jangan lupa Vote dan Like