
Setelah selesai dengan ritual mandinya, Nando melangkahkan kakinya keluar dari dalam gedung Apartement tersebut. menuju tempat parkir dimana mobilnya terparkir disana.
ia bergegas membuka bagasi mobil miliknya. "Utung saja aku selalu membawa baju ganti." gumamnya. sedikit cepat Nando memilih pakaiannya yang akan dikenakannya untuk berangkat kuliah, tidak lupa sepatu dan tas ia bawa, kini kedua tangannya sudah dipenuhi oleh barang-barang. setelah dirasa sudah lengkap, ia segera menutup kembali bagasi tersebut. sedikit cepat melangkahkan kakinya masuk kembali ke dalam Apartement.
***
Dengan tergesa Yara mempersiapkan semuanya, ia memasukan buku-buku dan barang lainnya yang selalu ia bawa ke kampus ke dalam tas miliknya. setelahnya ia berganti baju dan sedikit memoles wajahnya agar terlihat lebih segar dan cantik.
ia melangkahkan kakinya dengan cepat keluar dari dalam kamar, untung saja pergelangan kakinya sudah tidak sakit lagi, bisa bisa akan benar-benar terlambat jika ia berjalan saja masih tertatih. lalu ia melangkah menuju ke arah dapur.
Brukkkkk...
Yara dan Nando saling bertubrukan hingga keduanya jatuh tersungkur, dengan posisi Nando yang tertimpah tubuh Yara.
"Aww..." Nando mendesis, punggungnya sedikit keras berbenturan dengan lantai. maniknya menatap Yara yang sangat dekat ddihadapannya, Yara pun demikian.
bertatap muka dengan Yara membuat pikiran usil terlintas begitu saja di dalam kepala Nando, ia melingkarkan tangannya ke tubuh Yara. "Dua kali." ucapnya, dengan sadar ia mengecup bibir Yara dengan lembut.
Yara terkesiap, kesadarannya terjaga. Ia segera beranjak berdiri. diikuti dengan Nando.
"Selalu saja tidak berhati-hati." Nando menggeleng-gelengkan kepalanya seraya memegangi punggungnya yang terasa sedikit ngilu.
"Untung saja aku yang dibawah." Lanjutnya.
Yara hanya terdiam mendengar ucapan dari Nando. ia menundukan pandangannya. wajahnya bersemu merah tatkala Nando yang lagi-lagi mencium bibirnya.
"Kenapa selalu terburu-buru?" Ujar Nando.
Yara mendongak. tatapannya tajam seketika. "bagaimana tidak terburu-buru, waktunya hanya tinggal beberapa menit saja!" Ucap Yara dengan ketusnya.
"Tapi berhati-hati sedikit kan bisa, untung aku yang kau tabrak. jika tembok bagaimana?"
"Tidak akan, kecuali tembok mempunyai kaki dan bisa berjalan!"
"kau-- "
"jangan banyak bicara. aku sudah terlambat!"
"Biar saja.
"Apa?"
"Hei, bukan hanya kau yang terlambat. aku juga, tidak usah cemas seperti itu."
"Aku tidak suka terlambat dan aku tidak mau dihukum!" Yara setengah berteriak. sejak pertama kali masuk kuliah hingga sampai detik ini Yara memang tidak pernah dan tidak mau jika harus terlambat. lebih baik datang lebih awal ketimbang terlambat, sangat memalukan jika harus dihukum oleh dosen. tapi hari ini? Yara benar-benar kesal dengan Nando.
"Aku suka." Nando tersenyum usil. Yara mengernyit.
"Jika kita berdua terlambat, tentu saja kita akan dihukum bersama. menyenangkan bukan?"
"Menyenangkan apanya? yang ada memalukan!" Ucap Yara, melirik tajam ke arah Nando.
"Dengan begitu kita kan bisa menghabiskan waktu berdua." Ucap Nando melebarkan senyumnya seraya menaik turunkan kedua alisnya.
Seketika Yara terdiam, Ucapan Nando membuatnya menahan malu.
"Terserah kau mau bicara apa." Yara melangkahkan kakinya keluar dari dalam sana, Nando terkekeh. ia pun mengikuti Yara segera melangkah keluar.
***
Didalam mobil, Yara dan Nando saling terdiam. Yara mengalihkan pandangan ke arah jendela mobil, sedang Nando fokus pada kemudinya.
Setelah menempuh perjalanan hampir 25 menit, akhirnya mereka berdua pun sampai dihalaman kampus tersebut.
Yara dan Nando segera turun dari dalam mobil. Mata Nando mengarah ke sekeliling, kenapa tidak ada satu pun mobil terparkir di sana? satu-satu nya mobil hanya miliknya yang terlihat, Nando mengernyit heran. maniknya menatap jam yang melingkar ditangannya
Yara yang sudah merasa was-was dugaannya benar bahwa dia sudah terlambat. halaman kampus sudah terlihat sangat sepi, tidak ada mahasiswa lalu lalang ke sana kemari. Yara hendak melangkahkan kakinya namun Nando segera menghentikan.
"Astaga apa lagi, kita sudah terlambat. lihatlah halaman kampus sudah sangat sepi." Yara berucap dengan kesalnya.
"lihatlah disekeliling." perintah Nando.
"Memangnya kenapa?" Tanya Yara mengernyitkan dahinya.
"Tidak ada satu mobil pun yang terparkir." Ujar Nando.
Yara melihat disekeliling area parkir, hingga badannya memutar memperhatikan dengan seksama.
"apa tempat parkirnya pindah?" Tanya Yara dengan polosnya.
"satu-satunya tempat parkir di kampus ini ya disini. memangnya mau pindah kemana? ke atap?"
"Bisa jadi, mungkin saja tempat parkirnya pindah di lantai paling atas."
"Astaga Yara... Kemarikan ponselmu."
"Untuk apa?"
"Kemarikan."
Yara mengambil ponsel miliknya dari dalam tas, lalu memberikannya kepada Nando.
"Kau tidak merubah jam yang tertera diponselmu ini kan?" Tanya Nando, Yara menggelengkan kepalanya.
"Seharusnya kita tidak terlambat, tapi kenapa sudah sepi seperti ini." lanjutnya.
"Maksutmu?" Tanya Yara heran.
"Kita masih mempunyai waktu 7 menit."
Yara menyahut ponselnya dari tangan Nando, ia melihat jam yang tertera di layar ponsel tersebut. "Iya ini masih 7 menit lagi." gerutunya.
"apa mungkin jam masuk nya di majukan lebih awal?" Yara mengalihkan pandangannya kepada Nando.
"Jangan bodoh." Nando melangkahkan kakinya menuju ke pos Satpam.
Yara pun mengikuti langkah Nando.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
jangan lupa Vote dan Likeπ