
setelah selesai membersihkan diri dan makan malam bersama Bryan, Nando dan juga Darwin memutuskan untuk bersantai dihalaman belakang rumah Bryan. Nando dan Darwin berniat menginap dirumah Bryan sembari menemani Byan karna orang tuanya sedang berada di New York. saat ini mereka bertiga berbincang sembari menikmati hangat nya teh yang telah dibuatkan oleh pembatu Bryan. mereka merasakan sejuk menyelimuti tubuhnya saat angin malam berhembus dengan kencang.
"Kau tidak mengajak Valen kemari?" Tanya Darwin. yang mana membuat Bryan mengernyit bingung.
"Untuk apa?" Tanya Bryan kembali.
"menyuruhnya memijat badanku! aku sungguh Capek sekali" Sahut Darwin dengan Santainya. manik Bryan menajam ke arahnya.
"sialan! kalau badanmu capek minta pijat tukang pijat Sana. jangan meminta pijat kepada kekasihku." Ucapnya dengan kesal. Darwin Dan Nando pun terkekeh bersamaan.
"Kau ini bagaimana, Darwin menyuruhmu mengajak Valen supaya Valen bisa menemanimu. kau dan Valen tadi kan sedang bertengkar." Sahut Nando.
"sudahlah sebaiknya kau minta maaf kepadanya." Perintah Darwin.
Bryan Seketika diam. ia berfikir bahwa memang dialah yang salah sudah memicu perdebatan diantara dirinya dan Valen. Dengan cepat ia mengambil ponsel miliknya yang berada didalam saku celananya. Ia mengecek apakah ada pesan dari Valen, namun ia tak mendapati satu pesan pun dari kekasihnya itu. "Sepertinya dia benar-benar marah." Ucapnya dalam hati.
Sayang. ~Bryan
tidak ada balasan dari Valen.
Bryan mencoba mengirimkan pesan lagi, dugaan nya benar bahwa Valen benar-benar marah Padanya.
Sayang maaf sudah membuatmu marah. ~Bryan.
Sayang apa kau sedang berada dirumah? aku ingin mengajakmu berkumpul dengan Nando dan Darwin. ~Bryan.
15 menit ia menunggu balasan pesan dari Valen, Namun kekasihnya itu tak membalas satu pun pesan kepadanya.
Seketika ia mencoba menelepon Valen, namun ponsel Valen tidak bisa dihubungi. Bryan mengumpat kesal. "Shit!"
Tingkah kesal Bryan menarik perhatian Nando dan juga Darwin pasalnya Nando dan Darwin sedari tadi sedang asyik bersenda gurau.
"kenapa?" Tanya Nando dan Darwin bersamaan.
"Ponsel Valen tidak bisa dihubungi." Sahut Bryan raut wajahnya terlihat cemas.
"mungkin saja Valen sengaja mematikan ponselnya, dia marah padamu karna tadi sore." Ucapan Darwin terlontar begitu saja.
Seketika Bryan beranjak berdiri dari duduknya saat ia hendak berjalan untuk pergi kerumah Valen langkahnya terhenti tatkala Nando bertanya kepadanya.
"Kau mau kemana?" Tanya Nando.
"Ke rumah Valen." Ucapnya dengan cepat, ia pun bergegas berjalan, mengambil mobilnya yang berada di dalam garasi lalu melajukannya dengan kecepatan sedang.
Nando dan Darwin pun mengikuti Bryan, mereka berdua menggunakan mobil milik Nando.
*****
Beberapa menit kemudian Bryan, Nando, dan juga Darwin datang secara bersamaan mereka menyuruh satpam yang sedang berjaga segera membukakan pintu gerbang, satpam pun mengiyakan dan segera melaksanakan perintah dari Darwin.
mereka bertiga turun dari mobil. Manik Bryan melihat ke arah mobil milik Valen yang sedang terparkir didalam garasi rumah tersebut. "Mobil Valen ada disana, itu artinya Valen sedang berada didalam." gumamnya dalam hati.
Bryan segera berjalan menuju pintu rumah Valen yang mana Nando dan Darwin mengikutinya dari belakang. Bryan mengetuk pintu dengan tidak sabaran.
Tak butuh waktu lama pintu terbuka dengan adanya Bi Ema berdiri tepat dihadapan mereka bertiga.
Darwin dan Nando membalas sapaan dari Bi Ema dengan senyuman ramah. Namun tidak dengan Bryan raut wajahnya terlihat datar.
"Eh Bi, apa Valen ada didalam?" tanya Bryan tanpa basa-basi. Bi Ema mengernyit bingung akan pertanyaan Bryan.
"Tidak Tuan." Bi Ema menggeleng. "Semenjak Nona Valen pergi dengan Tuan Bryan, Nona Valen belum kembali kerumah sampai saat ini." Ucap Bi Ema.
Bryan mengernyitkan dahinya, ia diam. Rasa cemasnya semakin menambah. ia merasa bersalah telah membuat Valen marah.
"Memangnya Nona Valen dan Tuan Bryan tidak pulang bersama?" Tanya Bi Ema.
"Eh... tadi Valen pulang terlebih dahulu Bi. Tapi kenapa sampai sekarang ia belum datang?"
"Maaf Tuan bibi tidak tau." jawab Bi Ema menundukan pandangannya. "Apa Tuan Bryan sudah menghubungi ponsel Nona Valen?" Tanya nya.
"Sudah Bi, tapi ponsel Valen tidak bisa dihubungi." Sahut Nando.
Bryan semakin cemas, ia mengusap kasar wajahnya. "Sebenarnya kemana dia, Sungguh membuatku khawatir saja.
"Eh bi Ema tau tidak alamat atau nomor telepone teman dekat Valen?" Tanya Darwin.
"Ah iya siapa tau Valen sedang pergi ke ruamah salah satu temannya." Sahut Nando.
Bryan dan Darwin menganggukan kepalanya.
"sebentar Tuan, akan saya carikan." Ucap Bi Ema segera masuk kedalam untuk mencari nomor telepon atau alamat rumah salah satu teman dari Valencia.
Tak berselang lama Bi Ema membawa secarik kertas yang tertera dua nomor telepone Yara dan Alesya. Bi Ema memberikannya kepada Bryan.
"Di situ ada nomor telepon Nona Yara dan Nona Alesya. Bibi menemukannya di dalam laci meja Nona Valen. tapi Bibi tidak tau alamat rumah Nona Yara dan Nona Alesya."
"Tidak apa-apa Bi, kami akan mencoba menghubungi ponsel teman-teman Valen." Sahut Nando.
"Kalau begitu bibi masuk dulu Tuan." Pamit Bi Ema kepada 3 pria muda yang ada dihadapannya.
Mereka pun mengiyakan secara bersamaan.
"Iya Bi, terimakasih." Ucap Bryan. membuat wanita paruh baya itu menganggukan kepalanya.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan lupa Vote dan Likeπππ