My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #28



Yara tak hentinya menggerutu kesal. "Dasar laki-laki menyebalkan.


Yara berjalan cepat nenuju ke jalanan ia menoleh kesana kemari mencari taxi. saat ada taxi yang melintas ia segera memberhentikan taxi tersebut. Ia pun bergegas masuk kedalam taxi. Bahkan ia tak mendengar saat Nando memanggil-manggil namanya dari arah yang memang lumayan jauh.


"Yara tunggu... Yara..." Teriakan Nando.


"Astaga." Nando mengusap kasar wajahnya, ia bergegas menuju ke mobil miliknya yang terparkir disana. Nando masuk kedalam mobil miliknya dan segera melajukan mobilnya mengikuti taxi yang ditumpangi oleh Yara.


*****


Tak berselang lama taxi yang ditumpangi oleh Yara telah sampai didepan sebuah apartement mewah, Yara bergegas turun dari dalam taxi, ia memberikan Beberapa lembar uang kepada sopir taxi tersebut. Yara pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam apartement.


Nando yang melihat Yara masuk ke dalam Apartement, seketika dahinya mengernyit. "Kenapa Yara kemari? Apa dia tinggal di sini?" Nando menebak-nebak Apa yang Yara lakukan di apartement tersebut. "Ah sudahlah lebih baik aku mengikutinya."


Nando turun dari dalam mobil, lalu ia masuk ke dalam apartement tersebut.


Saat ia melihat Yara berhenti tepat didepan salah satu kamar, ia memperhatikan Yara. Yara membuka kamar tersebut menggunakan kunci yang telah ia pegang. Saat pintu terbuka, Yara hendak melangkah masuk kedalam sana, namun langkahnya terhenti tatkala ada yang menarik tangannya. Yara menoleh. Ia sangat kaget melihat keberadaan Nando dihadapannya.


"Kau!" Yara mengernyit. "Kenapa kau bisa ada disini?" Yara terlihat bingung. ia tidak tau jika Nando sedari tadi telah mengikutinya.


"Aku mengikutimu kemari." Jawab Nando dengan raut wajah yang datar.


"Bagaimana-- "


"Jangan salah paham, Tadinya aku hanya ingin meminta maaf kepadamu. Aku sempat memanggilmu saat kau hendak masuk kedalam taxi, tapi kau tidak mendengarku, ya sudah aku mengikutimu kemari." Ucap Nando menjelaskan.


"Ini Apartemenmu?" Tanya Nando.


Yara menggeleng. "Milik kakekku, tapi sebelum kakek meninggal, ia sempat berpesan untuk menyuruhku tinggal disini."


"kau tidak tinggal bersama orang tua mu?" Tanya Nando. Seketika Pikirian Yara teralihkan lagi kepada Rosalie dan Demian. Yara sudah berjanji pada dirinya sendiri ia tidak akan pernah kembali ke rumah Demian, apalagi Demian mengajak Samira untuk tinggal bersama disana. Yara juga ingin hidup mandiri tanpa bantuan sepeser pun uang dari Demian, sesulit apapun nantinya untuk bertahan hidup.


"Aku hanya tidak ingin terus bergantung dengan harta papaku." Yara menatap kesembarang arah. "aku ingin mandiri dan tidak menyusahkan kedua orangtua Ku." Ucapnya, seolah yakin akan keputusannya.


"ternyata dibalik sikap Garangnya, dia masih memiliki sisi yang bijak." Gumam Nando dalam hati.


"Kau tidak berniat mengajakku masuk?" Tanya Nando, Yang mana membuat raut wajah Yara berubah seketika. Yara mengernyit seraya memperhatikan manik Nando dengan tatapan penuh tanya.


"Kau masih berfikiran buruk tentangku?"


"Tentu saja, kau sampai sebegitunya mengikutiku kemari." Yara melirik ke arah Nando.


"Yara, tujuanku kemari karena aku benar-benar ingin meminta maaf padamu. percayalah."


"Tapi kenapa aku sangat sulit untuk percaya kepadamu."


"Astaga." Nando mengacak-ngacak rambutnya frustasi, harus dengan cara apalagi untuk meyakinkan Yara Bahwa ia benar-benar tidak ada niat buruk sedikitpun kepadanya. Lagipula Nando sudah menyukai Yara dari pertama kali bertemu dengan Yara, Nando tidak akan mungkin berbuat jahat kepada Yara.


"Yasudah terserah kau saja, jika masih berfikiran buruk tentang diriku." Nando menghela Nafasnya. "Maaf jika tadi aku sudah membuatmu marah." Ucapan Nando terdengar tulus, Yara melihat ketulusan dari raut wajah Nando.


Nando membalikan badannya, ia hendak melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana, Namun ucapan Yara membuatnya mengurungkan niatnya untuk beranjak.


Seketika Nando mengangkat salah satu sudut bibirnya, hingga membentuk senyuman disana.


Nando segera membalikan badannya. "Kenapa kau berubah pikiran?" Tanya Nando.


"Banyak bertanya! cepat masuklah!" Perintah Yara kembali.


"Baiklah." Nando melebarkan senyumnya kepada Yara, namun Yara Memalingkan wajahnya.


"Tapi..."


"Apa?"


"Kau benar-benar tidak mempu-- "


"Mempunyai niat buruk kepadamu?" Sahut Nando.


"Kemarilah aku ingin berbicara denganmu."


Nando menarik tangan Yara, membawanya masuk ke dalam Apartement tersebut.


"Hei lepaskan tanganmu!" Yara menepis kasar tangan Nando, Namun dengan cepat Nando meraihnya kembali, menyuruh Yara untuk duduk disofa yang terletak ditengah ruangan.


Yara mendudukan tubuhnya, dan diikuti oleh Nando, Ia duduk tepat disamping Yara.


"itu masih ada sofa yang kosong, kenapa kau duduk disini?" Ucap Yara seraya tangannya menunjuk ke sofa yang kosong.


"Karna aku suka duduk disampingmu." Jawab Nando menyunggingkan Senyumnya.


Seketika manik Yara membulat akan ucapan Nando, ia sedikit membuka Mulutnya.


"Tutup mulutmu itu." Perintah Nando, Yara dengan cepat menutup mulutnya yang secara tiba-tiba terbuka begitu saja.


Yara memalingkan wajahnya dari tatapan Nando.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Jangan lupa Vote dan LikeπŸ’š


.