
Matahari pagi telah datang, membuat cahaya yang dihasilkannya menyeruak masuk ke dalam celah-celah jendela kamar milik Yara. Membuat gadis itu menggeliat lalu mengerjap-ngerjapkan kedua maniknya. dengan setengah sadar Yara bangun terduduk dengan malasnya. matanya masih menyipit menyisahkan kantuk yang dirasakannya. bagaimana tidak, semalam dia baru bisa memejamkan matanya dini hari.
Yara segera Merenggangkan otot-otot tubuhnya, badannya masih terasa ngilu tapi sedikit lebih membaik. ia menyentuh pergelangan kakinya, masih terlihat sedikit bengkak tapi tidak separah kemarin. maniknya mengarah pada jam yang melekat di dinding kamar tersebut, ia menurunkan kakinya secara perlahan, ia beranjak berdiri, namun rasa sakit dipergelangan kakinya tidak dirasakannya lagi, menjaga keseimbangan. dengan perlahan ia menggerakkan kakinya mencoba untuk berjalan ditempat. Astaga ia benar-benar bisa melakukannya dengan sempurna, tanpa tertatih. seketika bibirnya menepiskan senyuman. "benar kata Nando, jika sudah dipijat tidak akan terasa sakit lagi." gumamnya dalam hati.
ia pun hendak melangkahkan kakinya kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. namun saat maniknya berpusat pada seseorang yang dengan pulasnya tertidur di atas sofa. Seseorang itu tak lain ialah Nando, Yara segera menghampiri. "Kenapa dia masih disini?" Ia mendudukan tubuhnya tepat disamping Nando. Yara menyangka bahwa semalam Nando sudah pulang, ia mendapati Nando keluar dari dalam kamar seusai berdebat Dengannya. ia berpikir bahwa Nando marah kepadanya dan berlalu pergi dari apartement tersebut. telinganya mendengar jelas saat Nando menutup pintu kamar dengan sedikit keras. Tapi, kenapa Nando malah tertidur disofa? apa dia baru saja datang, dan berniat mengajaknya berangkat berkuliah bersama? ahh entahlah.
Sebenarnya semalam Nando tidak benar-benar pergi dari sana. ia yang merasa kesal terhadap Yara karna sangat keras kepala menolak ajakannya pergi ke rumah sakit. Saat Yara tak Menghiraukannya, Nando semakin merasa kesal, ia keluar dari dalam kamar, lalu memberhentikan langkahnya saat berada di ruang tamu, Nando hanya duduk dan menonton televisi. satu jam berlalu Nando pun memutuskan untuk kembali ke dalam kamar, memastikan Yara. saat ia melihat Yara sudah memejamkan maniknya dengan pulas, ia segera melangkah menuju sofa yang ada didalam kamar tersebut, lalu membaringkan tubuhnya diatas sofa, tak butuh waktu lama Nando pun akhirnya tertidur.
Yara menatap wajah Nando dengan seksama, ada perasaan yang bercapur aduk didalam hatinya saat melihat paras laki-laki itu. Rasa trauma yang dulu Yara rasakan, pudar seketika saat ingatannya tertuju pada bagaimana sikap manis Nando dengan sangat sayang memperlakukannya. dengan tanpa disadari tangannya terangkat secara tiba-tiba membawanya pada wajah tampan nan teduh saat terpejam itu. Yara membelainya dengan sangat lembut, namun saat kesadarannya terjaga, dengan cepat ia menjauhkan tangannya dari wajah Nando, tapi tatapan manik Yara tak mengalih sedikitpun.
Hingga sepersekian detik tagan Nando menarik tubuhnya dengan sedikit keras, membuat Yara yang tentu saja memjatuhkan tubuhnya tepat di atas tubuh Nando, Nando memeluk Yara dengan eratnya, membuat manik Yara membulat dengan sempurna, ia menatap manik Nando yang masih terpejam.
"Beri aku morning kiss." Nando membuka sebelah matanya, Ucapannya membuat Yara terkesiap. jantung Yara berdetak tidak beraturan, wajahnya bersemu merah menahan malu. Kenapa Nando tiba-tiba berbicara seperti itu? apakah sedari tadi sebenarnya dia sudah bangun?
Astaga, bagaimana jika Nando mengetahui dia membelai wajahnya? sungguh sangat memalukan. wajah Yara semakin memerah mengingat apa yang telah ia lakukan tadi.
"Sebegitu tampan nya aku, hingga kau melihatku sampai seperti itu? hum?"
Yara tersadar akan lamunannya, ia berusaha untuk menjauh namun tangan kekar Nando sangat kuat mendekapnya. "Lepaskan.." Ucapan Yara terdengar pelan.
"Tidak akan aku lepaskan, sebelum memberiku ciuman." Ucapan Nando membuat Yara semakin menahan malu. Maniknya kini sudah terbuka, menatap wajah polos Yara yang Membuatnya candu.
"Tidak mau." tolak Yara.
"Yasudah." Nando kembali memejamkan matanya.
"Lepaskan." perintah Yara.
"Tidak mau." Tolak Nando.
"Aku bangun sedikit kesiangan, Nanti kita akan terlambat berangkat kuliah."
"salahmu."
"Lepaskan, aku ingin mandi."
"Tidak akan." Nando menggelengkan kepalanya.
"Nando!" Teriak Yara.
"Berikan ciumanmu dulu." Ucap Nando dengan santainya, tak memperdulikan Yara yang raut wajahnya sudah terlihat menahan kekesalan.
"Astaga..." Yara berdecak kesal, ia berulang kali menggerutu tidak jelas. Namun tak membuat Nando menghilangkan kemauannya.
Yara yang tidak mau jika terlambat berangkat kuliah, ia pun akhirnya menuruti kemauan Nando, Yara mengecup sesaat bibir laki-laki itu. Nando Yang merasa tidak puas ia pun mencium kembali bibir Yara lama, Nando melumatnya dengan pelan. bermain-main dengan lidahnya menelusuri semua rongga mulut Yara. Entahlah selain wajah Yara yang menenangkan, bibir Yara juga membuatnya candu. rasanya ingin terus mengecupnya jika melihatnya.
Yara hanya diam menerima semua yang dilakukan oleh Nando. "Hanya dia laki-laki yang berani menciumku seperti ini, hanya dia satu-satunya lelaki yang pernah menciumku." Yara bergumam dalam hati. Entah mengapa Yara tidak pernah menolak saat Nando melalukan hal itu kepadanya.
segera ia menjauh dari Nando. Yara menatap tajam manik Nando, rasa kesalnya memuncak.
"Kau setiap pagi harus memberiku ciuman." Ucap Nando menyunggingkan senyum.
"Tidak mau!" Seru Yara, mengeraskan Nada suaranya.
"Kalau begitu biar aku yang melakukannya."
"kau sengaja kan mengulur waktu? aku sungguh tidak suka jika terlambat!" Yara bersungut kesal menatap Nando dengan tajam.
Nando mengarahkan maniknya pada jam dinding tersebut. "Masih ada satu jam." Ucapnya santai.
"Satu jam waktu yang singkat!"
"Daripada tidak sama sekali."
"apa matamu tidak mlihat aku belum apa-apa?!" Yara menyolot.
"Aku pastikan kita tidak akan telat."
"Semua gara-gara kau!"
"kalau sampai aku terlambat, akan Kulemparkan bangku kampus ke wajahmu!"
"jika kau masih ingin melanjutkan perdebatan ini, itu malah semakin mengulur waktu."
Yara menghentak kan kakinya. "Menyebalkan!" teriaknya. ia segera melangkahkan kakinya masuk kedalam kamar mandi seraya bersungut kesal. membuat Nando yang memperhatikannya hanya terkekeh.
Nando keluar dari dalam kamar untuk membersihkan diri, ia memakai kamar mandi yang letaknya didekat dapur. sedangkan Yara memakai kamar mandi yang ada di dalam kamar.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan lupa Vote dan Likeπ