
Yara sedikit berlarian di halaman kampus, ia segera bergegas mencari kelasnya. Saat ,ssampai didepan kelas Yara pun masuk kedalam. "Untung saja dosen belum datang." Ucapnya dalam hati.
Yara mendudukan tubuhnya dibangku yang biasa ia tempati, ia mengatur nafasnya yang terasa ngos-ngosan saat sedikit berlari tadi.
"Yara kau darimana saja?" Tanya Alesya yang duduk tepat dibangku yang berada disamping kanan bangku Yara.
"Iya kau darimana saja?" Tanya Valen.
Ia seketika melihat ke arah Alesya dan Valen secara bergantian. Sebenarnya Yara masih kesal dengan kedua temannya tersebut, yang meninggalkannya dengan Nando. "Gara-gara laki-laki brengsek itu, aku jadi berlarian. Aku lelah sekali." Gumamnya dalam hati.
Yara berusaha tidak mempermasalahkan Alesya dan Valen yang sudah meninggalkannya. "ehm, aku tadi ke toilet sebentar." Jawab Yara sedikit terbata-bata, lebih baik berbohong pikir Yara, daripada harus menceritakan yang sebenarnya kepada kedua temannya tersebut kalau ia hampir terlambat hanya gara-gara berdebat dengan Nando, yang ada Alesya dan Valen akan menginterogasinya panjang lembar, dan itu membuat Yara sangat malas.
*****
Setelah proses pembelajaran selesai. Yara, Alesya dan Valen memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu sebelum pulang.
Mereka bertiga bergegas ke kantin, Sampai di kantin mereka memesan makanan masing-masing.
Saat dirasa makanan yang mereka pesan sudah sampai dan sudah berada di atas meja kantin. Mereka pun memakan makanan tersebut.
Saat Yara hendak Menyuapkan makanan kedalam mulutnya, seketika maniknya mengarah menatap seseorang wanita yang ia rasa ia menngenalnya. Yara pun megurungkan niatnya untuk makan, ia menaruh lagi sendok yang ia pegang ke atas piring.
Wanita itu tak lain ialah Samira, selingkuhan Demian. Yara sangat mengenali Wanita berambut pirang itu. Samira duduk dimeja makan yang letaknya tidak jauh dari arah Yara. Namun Samira tak mengetahui keberadaan Yara, matanya fokus kepada ponsel Miliknya.
Yara menatap tajam Samira, ia meremas-remas tangannya. "Sialan! kenapa bisa Wanita murahan itu berada disini." Yara mengumpat, ia memelankan nada suaranya. Namun suaranya masih terdengar ditelinga Alesya dan Valen.
"Perempuan murahan?" Ucap Valen mengernyitkan dahinya, ia sedari tadi memperhatikan Yara. maniknya menoleh ke arah Alesya, Alesya pun mendengar ucapan Yara. Ia hanya mengedikkan bahunya menatap Valen.
"Yara, siapa yang kau maksut wanita murahan?" Tanya Valen. ia semakin tidak mengerti siapa yang dimaksut oleh Yara.
Namun Yara hanya diam saja, tak menjawab pertanyaan Valen. Maniknya masih menatap tajam ke arah Samira.
Alesya dan Valen pun seketika mengikuti arah pandangan manik Yara, Maniknya mengarah ke arah Wanita cantik berambut pirang, wanita berpenampilan glamour Baju yang ia kenakan sedikit terbuka dibagian belahan dadanya, membuat penampilannya terlihat sexy.
"Yara... apa yang kau maksut wanita murahan itu dia?" Tanya Alesya sembari menunjuk ke arah Samira.
Yara pun menganggukan kepalanya. "Dia Samira, selingkuhan papa." Jawab Yara raut wajahnya menahan amarah.
"Apa?!" Ucap Alesya dan Valen bersamaan. Mereka berdua sangat terkejut dengan ucapan Yara. mulut mereka berdua pun seketika menganga.
"Lalu kenapa dia ada disini? Wanita itu sangat asing, aku tidak pernah melihatnya sebelumnya." Tanya Valen.
"aku juga, Apa mungkin dia juga berkuliah disini Yara?" Tanya Alesya.
"dulu sebelum dia menjadi selingkuhan papaku, dia wanita yang berasal dari keluarga yang jauh dari kata cukup, Bahkan dulu dia rela menjadi ******* hanya untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. aku tidak tau apa tujuan papa membawa wanita itu masuk kedalam keluargaku." Ucap Yara ia menundukkan kepalanya, rasa sakit dihatinya, kini muncul kembali saat ia melihat Samira.
"Aku juga melihat dari wajahnya, dia seperti nenek sihir yang jahat." Sahut Valen. ia juga menatap tajam ke arah Samira.
"Berarti bukan tidak mungkin jika Paman Demian juga lah yang Membiayainya untuk masuk ke Universitas ini." Ucap Alesya.
"mungkin papa juga sengaja melakukan ini semua, agar Samira bisa memantauku." Ucap Yara, ia mendongakan kepalanya, kembali menatap tajam ke arah Samira.
"Astaga, kenapa paman Demian seperti itu." Ucap Alesya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Hai sayang..." Ucap Bryan datang dengan tiba-tiba membuat ketiga gadis itu menatapnya secara bersamaan.
"Hai Yara, Alesya.." Sapanya kepada Yara dan Alesya. Yara hanya menganggukan kepalanya tersenyum.
"Hai Bryan.." Sapa Alesya kembali.
seketika manik Yara menoleh ke sana kemari seperti mencari keberadaan seseorang. Namun maniknya tak mendapati sosok yang ia cari, seseorang itu tak lain ialah Nando yang Yara maksut. Yara pun menghela nafasnya lega saat Bryan datang sendiri tanpa adanya Nando.
"Tumben sekali kau tidak bersama Nando dan Darwin?" Tanya Alesya.
"mereka masih ada urusan dengan dosen. nanti mereka akan menyusul kemari." Jawab Bryan.
"Oh..." Alesya membulatkan bibirnya.
"Astaga!" gerutu Yara dalam hati seraya memejamkan kedua matanya.
Bryan mendudukan tubuhnya tepat disamping Valen. "Kenapa wajahmu masih terlihat kesal seperti itu? kau masih marah padaku? aku kan sudah minta maaf." Ucap Bryan, ia memperhatikan raut wajah Valen yang ia rasa masih menampakkan kekesalan.
"Aku sudah tidak marah denganmu sayang." Jawab Valen.
"Benarkah?" Tanya Bryan. Valen mengangguk mengiyakan. "Lalu kenapa raut wajahmu masih terlihat kesal seperti itu?" lanjutnya seraya mencubit pipi Valen dengan gemas.
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Jangan lupa Vote dan Like