My Strange Wife

My Strange Wife
#MSPL 54



Nando terdiam, menoleh ke arah Yara yang sedang menunduk menyembunyikan raut wajahnya yang berubah seketika.


"Apa kau tau, aku sudah berkali-kali mengatakan bahwa aku sangat mencintainya." Nando menarik salah satu sudut bibirnya, namun pandangan laki-laki itu tak mengalih sedikitpun kepada Yara.


Yara masih terdiam dan tak merubah posisinya, namun telinganya masih terjaga mendengar setiap kalimat yang di ucapkan oleh Nando.


"ada hal yang tidak bisa dia katakan, bahkan dia sendiri tidak menyadari bahwa sesungguhnya dia juga memiliki rasa terhadapku, sekalipun itu hanya sedikit saja." Ucapan Nando kini membuat Yara dengan cepat mengangkat wajahnya, menatap manik laki-laki itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Bagaimana kau bisa menyimpulkannya?" Tanya Yara.


"Karna aku juga mencintainya." jawab Nando dengan yakin, tatapan nya kini semakin dalam kepada Yara. "kau harus percaya, jika kita terlibat cinta dengan orang lain. maka apapun yang mereka rasakan pasti kita juga bisa merasakannya. ikatan batin dengan orang yang kita cintai dan orang yang mencintai kita itu sangat kuat."


"Oh." Yara membulatkan bibirnya, entah hatinya tiba-tiba begitu sesak mendengar Nando mengatakan hal itu, pikirannya masih tertuju pada wanita lain yang di maksutkan oleh Nando. ia seketika mengalihkan pandangan ke sembarang arah.


"Yara." Panggil Nando, tatapan matanya masih tak teralihkan sedikitpun.


"Hem?" jawabnya tanpa menoleh kepada laki-laki yang berada di sampingnya.


"Benar kan?" Tanya Nando.


Seketika Yara menoleh. "mungkin, ehm... maksutku jika memang itu yang kau rasakan, maka yakinlah." Ia tersenyum dengan terpaksa.


"Kenapa?" Tanya Nando.


"Tidak, hanya saja aku tidak pernah sekalipun merasakan jatuh cinta. bahkan dari kedua orang tua ku saja aku tidak pernah merasakannya." Ucap Yara, mengingat kedua orang tuanya kembali membuatnya merasa bersedih. mungkin Yara pernah merasakan cinta dari kedua orang tuanya, namun sebelum keluarganya yang terbilang sudah hancur semenjak Samira datang di kehidupannya. mata Yara terlihat berkaca-kaca namun dengan sekuat tenaga ia berusaha menahannya karena tidak ingin Nando melihatnya.


"kenapa kau berbicara seperti itu?" Tanya Nando, namun Yara hanya diam dan menatapnya.


"Percayalah, meskipun kau bilang tidak pernah merasakan cinta dari kedua orangtua mu. tapi kau harus ingat bahwa mereka sudah pasti mencintaimu dengan tulus, anak adalah penyambung ikatan cinta kedua orang tua, anak adalah sumber kebahagiaan, dan segalanya."


"Aku menganggapnya itu hanyalah sebuah ekspetasi!"


"Kau tidak percaya?"


"Bagaimana bisa percaya, jika yang aku alami berbeda jauh dengan apa yang kau katakan." Yara tersenyum pelik.


"mengapa jadi kau hubungkan dengan dirimu?" Yara menautkan kedua alisnya.


"Astaga, kau tidak menyadarinya?" Tanya Nando.


"Kau tidak akan mengerti, bahkan kau tidak akan mau peduli!" Maniknya melirik ke arah Nando seraya tersenyum kecut.


"Bagaimana aku bisa mengerti jika kau tidak pernah bercerita kepadaku." Nando berucap dengan lembut.


"Sudahlah aku sungguh muak membicarakan hal ini!" Yara sedikit berteriak, maniknya menatap tajam ke arah Nando, Setiap kata yang Nando ucapkan semakin membuat Yara menahan emosinya. perasaannya kacau ketika harus membiarkan pikirannya tertuju pada kedua orang tuanya. "Jika tidak ada hal penting yang ingin kau bicarakan, lebih baik pulanglah!" Yara beranjak dari duduknya, tatapannya mengalih pada sembarang arah.


"Kenapa dia jadi marah seperti ini." gumam Nnado seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Seketika ia juga beranjak dari duduknya, berdiri tepat di belakang Yara.


"Yara..."


"kalau kau kemari hanya ingin mengajakku berdebat, pulanglah!" Yara mengeraskan nada bicaranya, raut wajahnya terlihat menahan emosi. entahlah semenjak memiliki trauma itu, Yara cenderung emosional jika perasaannya tidak bisa terkendalikan, apalagi jika berbicara dengan laki-laki yang menjadi penyebab ia memiliki rasa trauma.


"Astaga! jika tau seperti ini lebih baik aku tidak memberinya pendapat saat dia membicarakan orangtuanya."


.


.


.


.


.


Jangan lupa Vote, Like, dan Komen.


Terimakasih.