My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #41



"Pulanglah." perintah Yara, ia melihat beberapa kali Nando menguap menahan rasa Kantuknya.


Nando berdecak. "usaha sekali untuk mengusirku."


"kau lelah." ujar Yara, menatap manik Nando.


"Tidak, jika terus berada disampingmu."


"Aku sedang tidak bercanda."


"Aku juga." menepiskan senyuman kepada gadisnya.


"Astaga." Yara berdecak kesal.


"Tidurlah, aku temani." perintah Nando.


***


waktu menunjukan hampir tengah malam, namun manik Yara masih terjaga. entah rasanya ia sangat susah untuk memejamkan matanya. ia kembali mendudukan tubuhnya dan menyenderkan punggungnya.


Nando yang duduk di sofa yang berjarak hanya beberapa langkah dari ranjang tersebut, ia melirik gerak Yara. matanya terlihat mengecil, merasakan kantuk yang semakin tak bisa di tahannya lagi. berulang kali ia menguap membuat kedua matanya dipenuhi oleh cairan bening terlihat disana, tapi ia berusaha agar tidak memejamkan matanya sebelum melihat Yara benar-benar terlelap dalam tidurnya, ia khawatir jika Yara akan membutuhkan sesuatu nantinya, jika ia tidur maka Yara akan merasa tidak enak bila harus membangunkannya, Namun Yara malah mendudukan kembali tubuhnya.


Yara mengarahkan pandangannya kepada Nando, membuat laki-laki itu segera beranjak dari duduknya dan menghampirinya.


"kau membutuhkan sesuatu?" Tanya Nando seraya menyentuh kaki Yara yang terlihat sudah sedikit tidak bengkak.


Yara menggeleng pelan. "Entahlah aku tidak bisa tidur." Yara tak merasakan kantuk sedikitpun. Namun tiba-tiba dadanya merasa sesak, bukan sakit. tapi lebih seperti hatinya merasa berdenyut akan suatu rasa yang ia juga tidak paham dan tidak bisa untuk diungkapkan.


Yara menyentuh bagian dadanya yang terasa sesak. "kenapa tiba-tiba hatiku sakit." gumannya dalam hati.


"Kenapa?" Tanya Nando mengernyit heran.


"Kau sesak nafas?" lanjutnya, raut wajahnya berubah seketika.


Yara tak menghiraukan pertanyaan Nando, ia masih terpaku akan rasa sakit di hatinya yang menghampiri secara tiba-tiba. Ia tidak sedang marah, tidak sedang kecewa, bahkan tidak sedang patah hati. tapi kenapa rasanya sesak sekali? Yara mencoba berfikir kembali, kejadian apa yang menimpahnya hari ini, hingga mengakibatkan rasa sakit itu muncul dengan sendirinya. "Apa karena perkataan Samira pagi tadi?" Yara kembali mengingat saat Samira mengatakan bahwa Demian akan mengusir Rosalie dari rumah jika Rosalie melakukan kesalahan besar. Yara menerka-nerka akan hal itu, hingga membuatnya merasa Yakin bahwa rasa sakit hatinya saat ini tak lain ialah karena perkataan Samira yang telah mengancamnya.


"Tidak akan aku biarkan wanita itu menyentuh mamaku, walau seujung kuku sekalipun." gumamnya dalam hati. Demi apapun Yara tidak akan membiarkan Samira menyentuh Mamanya. ia berjanji kepada dirinya sendiri, akan membuat Samira membayar semua rasa sakit dan penderitaan yang Rosalie rasakan selama ini. penghiatan dan kehancuran membuat Yara tak bisa merasakan akan ketulusan kasih sayang dan cinta dari kedua orang tuanya, Yara memang sangat membenci Demian, tapi Rosalie sangat mencintai suaminya itu. suatu saat Yara akan membuat Demian bertekuk lutut Dihadapan Rosalie, Yara bersumpah akan hal itu.


"Maafkan Yara ma..." Gumamnya dalam hati.


"Yara..." panggilan dan genggaman tangan Nando kepadanya Membuyarkan lamunan Yara seketika.


"Kau sakit?"


"Ayo kita ke rumah sakit." Nando terlihat cemas akan diamnya Yara, bahkan gadis itu menatap ke sembarang arah seraya memukul-mukul dadanya dengan sedikit keras. Entah Nando sangat tidak mengerti dengan Yara.


Yara menatap manik Nando, ia berusaha terlihat baik-baik saja. jangan sampai Nando mengetahui alasan diamnya ia, Senyuman manis terlihat dibibir gadis itu. "Aku tidak apa-apa."


"Lalu kenapa kau memukuli dadamu?" Tanya Nando.


"Benarkah?" Yara mengernyit, ia tidak sadar dengan perbuatannya, seperti apa yang telah Nando katakan kepadanya. bahkan ia berkali-kali melakukannya.


"Ehm, Dadaku hanya sedikit sesak." Yara menggeleng. "tapi sudah tidak apa-apa."


"Astaga!" Nando mengusap wajahnya kasar, rasa kantuk yang tadinya menyerang hingga membuatnya tak bisa menahan diri ingin segera memejamkan kedua matanya, kini menghilang begitu saja, tatkala rasa kekhawatirannya terhadap Yara.


"kalau kau sakit bilang! jangan malah berkata tidak apa-apa." Nando sedikit mengeraskan nada suaranya.


"Aku memang tidak apa-apa." Yara memelankan nada suaranya.


"Kita ke rumah sakit Sekarang!" Ucap Nando penuh penekanan seraya mengambil jaket miliknya yang tadi ia letakkan diatas punggung sofa, lalu mengenakannya.


Nando melangkahkan kakinya mendekati lemari segera ia membuka lemari tersebut, untuk mencari jaket yang akan Yara kenakan. setelah ia menemukan apa yang ia cari, ia hendak memakaikan jaket tersebut pada Yara. Namun Yara menolaknya.


"Angin malam tidak bagus untukmu." Nando hendak melanjutkan niatnya, namun lagi-lagi Yara menolak dan malah menepis tangan Nando yang masih memegang jaket miliknya, hingga membuat benda tersebut terjatuh tergeletak di atas lantai.


"Aku tidak mau ke rumah sakit." Seru Yara.


"Sekali ini saja, aku mohon kau tidak keras kepala."


"Tidak mau. kau selalu saja berlebihan!" bentak Yara.


"Yara..." panggil Nando


"Tidak mau, aku tidak sakit!"


"Kau bilang dadamu sesak."


"Hanya sedikit sesak, Tapi tidak sakit!"


"Yasudah ayo kita ke rumah sakit, untuk memeriksa." Nando berusaha membujuk Yara, tanpa ia tau rasa Sesak yang dimaksut oleh Yara bukan Karena sakit, Tapi karena hal lain.


"tidak mau ya tidak mau! jangan memaksaku lagi." dengan segera ia membaringkan tubuhnya, lalu menutupnya dengan selimut hingga batas kepala.


membuat Nando yang melihat mengacak rambutnya frustasi. "jika melihatnya keras kepala seperti ini, ingin sekali ku injak kakinya yang sakit itu." gerutunya dalam hati.


"Terserah kau saja! terserah." Umpat Nando dalam hatinya. ia menghela nafasnya dengan kasar. ia kembali menghampiri sofa, lalu mendaratkan tubuhnya di atas sofa tersebut dengan kasarnya.


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Jangan lupa Vote dan LikeπŸ’š