My Strange Wife

My Strange Wife
Benar-benar Menyesal #07



Nando yang terlihat keluar dari dalam kamar mandi, menggosok-gosok rambutnya yang terlihat basah dengan hanya menggunakan satu lembar handuk membalut tubuh bagian bawahnya.


langkah kaki laki-laki itu membawanya menuju ke lemari besar yang berada dekat dengan jangkauannya, ia membuka lemari dan tanpa pikir panjang ia mengambil kaos polos berwarna putih dan celana jeans pendek yang sekiranya cocok untuk ia kenakan saat bersantai. rasa lapar yang sedari tadi sudah menyerang perutnya untuk segera diisi, setelah mengenakan pakaian tersebut Nando segera bergegas melangkah menuju ke dapur untuk membuat makanan.


Laki-laki itu membuat makanan yang sekiranya mudah dan tak membutuhkan waktu yang lama untuk dibuat, pasta dengan telur setengah matang membuat rasa laparnya semakin bertambah. hingga membutuhkan waktu kurang lebih 15 menit akhirnya makanan itu pun sudah siap untuk dihidangkan dan segera ia makan.


waktu hampir menjelang sore, namun Nando baru bisa mengisi perutnya saat itu juga. mengingat kejadian tadi malam yang membuatnya harus bangun menjelang siang, di tambah lagi akibat kekacauan dan perdebatan antara dirinya dengan gadis yang sempat ia tolong namun gadis tersebut malah marah kepadanya dan memfitnahnya berbuat hal buruk.


beruntung hari ini ia tidak sedang ada kelas pembelajaran, itu artinya ia bisa bersantai sejenak di dalam Apartement yang ia dapatkan dari kedua orang tuanya. Pria itu ingin mandiri, ia lebih memilih tinggal di apartemen dibanding tinggal di rumah kedua orangtuanya, ia bisa bebas melakukan sesuatu hal, dan bersenang senang bersama teman-temannya pikirnya.


Nando sangat kesal jika mengingat berdebatan siang tadi dengan gadis yang ia belum sempat tau namanya itu, rupanya gadis yang pertama kalinya membuat hati dan jantungnya merasa tak menentu ternyata memiliki sikap yang galak dan sedikit tidak waras pikirnya. bagaimana bisa gadis itu dengan tidak sopannya menuduh dirinya dengan sengaja memberi obat tidur supaya bisa tidur bersama. Nando bukan laki-laki brengsek yang suka berkelakuan bejat kepada banyak wanita. "Sungguh aku sangat menyesal menolongnya tadi malam! jika tau dia seperti ini, aku biarkan saja dia tidak sadarkan diri di dalam toilet. jika pria lain yang menemukannya, aku tidak yakin pria itu akan berbuat baik seperti diriku." Nando menyuapkan makanan kedalam mulutnya dengan tak hentinya menggerutu, bahkan raut wajahnya pun menampakan rasa kesal.


"Dasar gadis liar."


*****


setelah selesai mengisi perutnya dengan makanan Nando kembali ke dalam kamar, ia hendak merebahkan tubuhnya namun suara dering ponsel yang berada di atas nakas di samping tempat tidur, mengurungkan niatnya.


Di lihatnya ada panggilan masuk dari Darwin, Nando pun segera menekan ikon berwarna hijau dan mendekatkan benda pipih itu ke dekat daun telinganya.


"Hallo? ada apa?" tanya Nando


'kau darimana saja? pergi begitu saja meninggalkan ku dan Bryan.' sahut Darwin di sebrang Sana. tanpa basa-basi mengutarakan pertanyaan ingin tahunya.


"Maaf semalam aku lupa memberitahu kalian. aku terburu-buru." Ujar Nando.


'memangnya kemarin malam kau pergi kemana?' tanya Darwin.


"Aku pulang ke apartment ku." Jawab Nando.


'apa kau sudah gila, aku dan Bryan menunggumu di sana hampir dua jam.' sahut Darwin dengan nada suara yang kesal.


"Benarkah?" Nando terkekeh. "maaf, aku kemaren sungguh terburu-buru."


'Memangnya kenapa? tidak biasanya sekali.' Darwin semakin penasaran dengan ucapan Nando.


Nando seketika terdiam, pikirannya kembali pada perdebatan pagi tadi dengan gadis itu. "lebih baik aku tidak menceritakan yang sebenarnya kepada Darwin, bisa-bisa dia dan Bryan akan menertawaiku habis-habisan. ah sungguh sial sekali nasib ku ini."


'Hallo Nando? kenapa kau diam?'


'Hallo? Nando kau mendengarku?'


"iya aku mendengarmu."


'Kau belum menjawab pertanyaanku, kenapa malah diam?'


"Sudahlah lupakan, tidak penting."


Darwin berdecak saat tak mebdapatkan jawaban dari Nando. 'kau ini aneh sekali.'


'aku sangat mencemaskanmu semalam, aku kira kau-- '


"Apa?" Nando menukasnya sebelum Darwin melanjutkan ucapannya.


"Baiklah aku akan ke sana nanti."


Nando dan Darwin saling memutuskan sabungan telepon.


Maniknya melihat ke arah jam dinding yang melekat disana, setelah itu ia segera melanjutkan niatnya yang tertunda akibat bertukar suara dengan sahabatnya itu. Nando merebahkan tubuhnya yang masih terasa pegal di atas ranjang, maniknya menyorot ke atas langit-langit kamar tersebut, pikirannya mengalih kembali pada kejadian tadi pagi yang membutnya berdebat dengan Gadis yang sempat mengacaukan pikirannya, entah mengapa saat mengingat wajah Yara yang sangat galak malah membuatnya semakin terlihat menggemaskan. Namun Nando menyangkalnya


*****


Yara, Ron, dan beberapa Anak buah dari Demian baru saja tiba di halaman rumah laki-laki paruh baya itu. Ron dan lainnya bergegas turun dari dalam mobil kecuali Yara.


Gadis itu masih terdiam dan tak mengubah posisinya sedikitpun, menatap kosong ke sembarang arah, rasanya ia enggan jika harus bertemu dan bertatap muka dengan Demian.


"Cepat turun Nona!" perintah Ron.


Yara masih terdiam di tempatnya, ia sama sekali tak menyahuti ucapan Ron. ia mengalihkan pandangan kepada laki-laki bertubuh tegap yang masih berdiri tepat di hadapannya. cukup lama tatapan mereka bertemu, Yara yang menatap Ron dengan raut wajah yang di penuhi akan kebencian, berbeda dengan Ron yang menatap di balik kacamata hitamnya, kedua bola matanya itu menatap dalam manik Yara.


Ron terlebih dahulu melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah majikannya, dan di ikuti oleh Yara dari belakang. laki-laki itu mengetahui jika Tuan besarnya sedang berada di dalam kamar Istrinya tersebut.


Hingga langkah kakinya terhenti tepat didepan pintu kayu yang cukup lebar dengan cat berwarna putih, pintu tersebut tak lain ialah pintu kamar milik Rosalie.


Ron mengetuknya dengan perlahan. Hingga ketukan ketiga akhirnya pintu terbuka, menampakan Tuan besarnya berdiri tepat dihadapannya. pandangannya dengan Demian bertemu sesaat setelahnya Demian mengalihkan pandangannya kepada Putri semata wayangnya yang berdiri tepat di samping Ron.


Yara yang masih merasa kecewa akibat melihat kejadian dimana Demian dengan sangat kejam melempar tubuh Rosalie hingga terkapar, ia menatap Demian dengan penuh kemarahan. Yara tau mamanya ada di balik sana sedang tak berdaya menahan kesakitan.


"Kau percaya, aku tidak pernah meragukanmu Ron." Demian menepuk pelan bahu laki-laki tersebut, senyumnya mengembang merasa lega karna Ron tidak pernah mengingkari janjinya, Ron berhasil menemukan putrinya.


"Yara, papa ingin berbicara denganmu." ucapan Demian tak mendapat balasan dari Yara, gadis itu masih menatap Demian dengan raut wajah yang sama, bahkan maniknya terlihat memerah dan berkaca-kaca.


***


Seperti apa yang Demian ucapkan. kini Yara sedang berada di ruang keluarga bersama Papa dan juga salah satu anak buah kepercayaannya.


Demian dan Yara duduk saling berhadapan. sedangkan Ron, Demian nemerintah agar Ron duduk di samping putrinya tersebut.


"Maafkan Papa Yara." Ucap Demian, entah kali ini raut wajahnya terlihat sedikit ada rasa penyesalan. "Tidak seharusnya kau melihat kejadian ini. Papa benar-benar menyesal." Seketika Demian menundukan pandangannya. Yara melihat ada rasa sesal yang mendalam di raut wajah papa nya tersebut, hingga ia mendapati mata Demian yang terlihat berkaca-kaca.


Namun, Yara hanya terdiam tak menanggapi ucapan Ayahnya tersebut. Perasaannya sedikit ragu, pikirnya entah itu Demian hanya berpura-pura saja agar supaya Ia tidak lagi pergi meninggalkan rumah.


.


.


.


.


.


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻