
Pertikaian di antara kedua orang tuanya tidak pernah mereda, bahkan hampir setiap hari Yara harus melihat adegan yang melukakan hati dan perasaannya.
Yara Fabricia Wesley adalah anak dari Demian Wesley dan Rosalie Ezme. Demian ialah pemilik perusahan terbesar di kota Prancis dan sangat berpengaruh. Wesley Group's suskes ia bangun menjadi perusahan yang sangat di minati oleh beberapa pengusaha untuk bekerja sama, bahkan Wesley Group's sudah memiliki beberapa cabang di kota tersebut.
***
Demian selalu memicu perdebatan di antara ia dan istrinya, di balik sikap berwibawa dan sangat terpandang, Demian bukanlah sosok yang baik di hadapan Rosalie. Bayangkan saja, pria paruh baya itu terang-terangan membawa selingkuhannya keluar masuk ke dalam rumah mereka. Bahkan hampir setiap pulang dari kantor, Demian pergi ke Club malam miliknya lalu berpesta dengan rekannya hingga mabuk. Dan saat pulang ke rumah pun ia selalu membawa selingkuhannya, Rosalie memang sudah terbiasa menghadapi Suaminya yang setiap hari bersikap seperti itu. Rosalie seringkali menangis dalam diam, dalam hatinya ia mengatakan tak kuasa jika harus selalu dalam keadaan seperti itu, namun bukanlah sosok ibu jika ia menyerah harus begitu saja.
Rosalie hanya mampu berdiam diri saat suaminya itu dengan sengaja bercinta di depan matanya dengan gadis seusia anak kandungnya. Rosalie tak bisa berbuat lebih selain diam, ingin memberontak pun rasanya percuma. jika bukan karena sebuah alasan sudah pasti Rosalie akan meninggalkan suaminya tersebut. "Ya Tuhan, beri aku kesabaran lebih. aku hanya tidak ingin mengecewakan mereka." Ucapnya getir dalam hati, seketika ia mengusap air matanya dengan kasar. seringai di balik bibir Demian sangat menyakitkan bagi Rosalie. Rosalie pun segera pergi dari sana.
Seusai puas akan birahinya, Demian seketika mengusir Samira. gadis kecil itu hanya mampu mengiyakan apa perkataan laki-laki yang baru saja menikmati tubuhnya itu.
"Pulang! jangan berani datang kesini jika tidak aku minta!" Manik Demian menatap tajam Samira. gadis itu hanya mengangguk dan segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu
Di dalam kamar mandi Samira menggerutu kesal, gadis cantik nan sexy itu sangat muak akan perlakuan Demian. "Aku akan berusaha lebih keras, agar tua bangka itu bisa tunduk terhadapku." Samira menarik salah satu sudut bibirnya, hingga membentuk senyuman licik di sana.
Setelah di rasa selesai Samira keluar dari dalam kamar mandi. Manik Demian menatap jam yang setia melekat pada dinding kamar miliknya. Jam menunjukkan pukul 2 dini hari.
Laki-laki itu mengambil lumayan banyak uang dari dalam brankas miliknya, ia melemparkan uang itu ke atas ranjang, Mata Samira berbinar menatap lembaran uang yang Demian lemparkan. "Ambil!" Perintah Demian, tanpa basa-basi bahkan sangat cepat uang tersebut berpindah ke tangan Samira.
"Joy, antar gadis ini pulang. dan pastikan dia masuk ke dalam rumahnya!" Demian menutup panggilan yang ia tujukan kepada salah satu anak buahnya.
Tokk...
Tokk...
Tokk...
Tokk...
Tanpa bertanya, Samira pun sudah tau apa maksut dari ketukan pintu tersebut. gadis itu segera mengambil tas yang berada di atas meja di samping ranjang, tidak lupa ia memasukkan uang yang ke dalam tas yang tadi sempat Demian berikan kepadanya.
"Terimakasih banyak Tuan, jangan sungkan untuk mengajakku jika kau menginginkannya." Samira menundukan pandangannya, Demian tak bergeming menatap ke sembarang arah.
Samira membuka pintu, Sudah ada Joy laki-laki bertubuh kekar nan tampan dengan rambut gondrong yang selalu ia ikat. "Mari saya antar anda Nona." Ucapnya menundukan kepala.
Samira sedikit terkesiap, batinnya tidak biasanya yang mengantar dirinya pulang pria setampan yang ada di hadapannya tersebut, biasanya laki-laki berkepala plontos, bersikap dingin, dan menakutan. dia adalah Jack.
Samira melambaikan tangan kepada Demian yang maniknya menyorot tajam ke arahny, sebelum akhirnya gadis itu menutup pintu kamar tersebut.
***
Demian berjalan Santai ke arah kamar Rosalie, tanpa mengetuk pintu langkah kakinya semakin membawanya masuk ke dalam sana.
"Aku tau kau hanya berpura-pura tidur!" Ucap Demian. seringai menakutkan nampak di bibirnya.
"Bangun!" Demian menjambak rambut Rosalie, Wanita paruh baya itu tak bergeming, maniknya masih tertutup.
"Kau ingin bermain-main denganku Rosalie!" Seketika Demian menyeret Rosalie dengan tangan kekarnya yang masih menarik rambut istrinya tersebut, Rosali jatuh tersungkur dengan kepala yang sedikit keras berbenturan dengan lantai.
Rosalie menangis, ia menahan rasa sakit di kepalanya, bahkan rasa sakit di kepalanya tidak bisa mengalahkan rasa sakit dalam hatinya, hatinya hancur melihat, menerima perlakuan Suaminya yang setiap hari bersikap layaknya binatang buas di hadapannya.
Demian kembali menjambak rambut istrinya, kali ini lebih menyakitkan. laki-laki itu dengan kuat menjambak sampai Rosalie benar-benar berdiri di hadapannya, melihat ke arahnya.
"Sudah pernah ku katakan, Sambut aku dengan baik jika aku pulang!" Ucap Demian penuh amarah.
Rosalie tersenyum getir. "Aku tidak akan sudi menyambutmu dengan ****** murahan itu!" Rosalie terbata tatkala tangan Demian sudah berpindah posisi melingkar kuat di lehernya.
"Wanita tidak tau diri!" Demian melempar tubuh Rosalie ke arah lemari berpintu kaca, hingga wanita itu terkapar di lantai, setelah lemari tersebut pecah dan serpihannya mengenai tubuh Rosalie. Darah mengalir di beberapa bagian tubuh wanita paruh baya itu.
Hingga tanpa Demian ketahui, ada Yara yang berdiri di balik pintu melihat kejadian tersebut. Yara membungkam mulutnya sekuat tenaga, air matanya semakin menderas saat mendapati Rosalie terkapar tak berdaya.
Sebelum Ron datang, Yara segera pergi dari sana. ia kembali ke kamar miliknya.
"Aku muak dengan ini semua!" Yara berteriak dengan sangat keras. bahkan suaranya terdengar menggema di dalam kamarnya.
"Aku benci Papa! aku benci Papa!" tangisnya semakin tersedu-sedu. Bahkan ia tidak segan memukulkan genggaman tangannya ke dinding kamarnya tersebut. Yara merasa sesak melihat kedua orang tuanya tidak pernah berdamai. "Ini semua karna Wanita ****** itu! wanita murahan! wanita penggoda! *******! aku bersumpah akan membuatmu membayar ini semua!" Ucapan Yara penuh penekanan, bahkan ia menggenggam tangannya dengan kuat.
Hingga pada akhirnya keputusan yang selalu ia pikirkan setiap hari, tak mengubahnya.
"Mama maafkan aku harus meninggalkan mu di rumah yang bagaikan Neraka ini sendiri, Aku harap Mama selalu kuat menghadapi ini semua." Yara berucap dalam hati sembari membereskan beberapa pakaiannya, memasukannya ke dalam tas miliknya. Ia tidak bisa lagi tinggal di rumah itu. Semua perlengkapan yang ia butuhkan ia bawa semuanya tidak terkecuali buku tabungan miliknya, kartu ATM, uang cash yang berjumlah lumayan banyak, serta kunci apartement yang dulu ia dapatkan dari kakeknya. Semua uang cash serta tabungan akan cukup untuk biaya hidupnya beberapa minggu kedepan. Beruntung Yara bukan gadis yang suka berfoya-foya. Lebih baik uang yang ia dapatkan dari orangtuanya ditabung untuk keperluan yang lebih penting seperti ini.
"Bahkan sudah berkali-kali Yara meminta mama agar meninggalkan laki-laki kejam itu, tapi kenapa sangat berat sekali untuk mama memutuskannya." Yara mengusap potret dirinya bersama Rosalie yang ada pada bingkai kecil yang ia letakkan pada meja di samping ranjangnya.
"Yara tau mama sangat mencintai papa sekalipun papa hampir setiap hari memperlakukan mama dengan buruk, Percayalah ma, Yara sangat terluka." Yara semakin terisak, ia mendekap potret dirinya bersama Rosalie.
Sebuah mobil terdengar datang masuk ke dalam rumahnya. Yara beranjak dari duduknya, melangkahkan kakinya menjangkau jendela, Yara membuka tirai jendela sebagian, Terlihat ada Dokter dan beberapa suster berjalan dengan terburu masuk ke dalam rumah tersebut.
Seketika Yara, mengambil barang-barang miliknya yang tadi sempat ia bereskan.
Yara membuka jendela kamarnya, ia melompat keluar dari dalam sana, sedikit mengendap berjalan ke arah garasi. Tas yang melingkar di kedua bahu nya ia pindahkan ke dalam bagasi.
Yara segera masuk ke dalam mobil, dengan perlahan melajukan mobilnya ke arah gerbang. "Sial!" Umpat Yara saat mendapati Ron tengah menghalangi mobilnya.
Gadis itu segera membuka kaca jendela. "Biarkan aku pergi!"
Ron tersenyum. "Nona, Sebaiknya anda kembali ke kamar. Rasanya tidak mungkin Tuan besar mengizinkan Nona keluar. Apalagi masih dini hari seperti ini!"
"Aku tidak peduli, aku tidak butuh ocehanmu. tugasmu membuka gerbangnya, Cepat buka!" Perintah Yara.
"Nona sudah dewasa, tidak seharusnya Nona Yara masih bersikap layaknya anak kecil." Tukas Ron, ia masih tak mengikuti kemauan Yara yang menyuruhnya membuka gerabang, bagi Ron hanya perintah Demian lah yang ia patuhi.
"Hei..." Teriak Yara. "Tugasmu di sini hanyalah menjalankan perintah! Tau apa dirimu?"
"Sudahlah Nona, jangan membuat semua orang di sini repot hanya karena tingkahmu."
"Bagus jika kau berfikir seperti itu! kalau kau tidak mau membuka gerbangnya, biar aku yang membuka!"
Yara segera membuka pintu gerbang hingga lebar, setelah itu ia kembali masuk ke dalam mobil miliknya. Dengan cepat Yara melajukan mobilnya dengan kecepatan yang maximal.
Ron hanya menatap kepergian Yara yang semakin jauh dari jangkauannya. Laki-laki itu mengusap kasar wajahnya, bagaimanapun juga Ron sudah paham akan sikap Yara. Ron paham bahwa Yara meninggalkan rumah tak lain karena pertikaian antara kedua orang tuanya. Ron membiarkan Yara pergi, raut wajahnya mungkin terlihat kejam namun dalam hatinya ia juga merasa iba terhadap Yara yang selalu memilih pergi dari rumah jika kedua orangtuanya sedang berdebat.
.
.
.
.
Yara Fabricia Wesley
Valencia Lukyanova
Alesya Angelina Barack