My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #27



tak berselang lama, Nando dan Darwin datang menghampiri mereka berempat.


Yara yang melihat kedatangan Nando hanya memutar bola malas. Nando menatap Yara dengan raut wajah yang datar.


"Urusan kalian dengan dosen sudah selesai?" Tanya Bryan seraya mengunyah makanan yang ada didalam mulutnya, yang baru saja ia suapkan.


Nando dan Darwin hanya menganggukan kepala secara bersamaan.


"Memangnya ada urusan--"


"Kalau makan jangan sambil berbicara! habiskan dulu makanan yang ada dimulutmu itu nanti kau tersedak bagaimana." Sahut Valen yang melihat kekasihnya itu berbicara sedikit tidak jelas karena didalam mulutnya masih mengunyah makanan.


Bryan pun tidak melanjutkan ucapannya, ia memilih untuk menuruti perkataan Valen, Dan segera menghabiskan sisa makanan yang ia kunyah didalam mulutnya. Bryan juga melahap habis makanan yang masih ada didalam piring tersebut dengan sedikit cepat.


Darwin mendudukan tubuhnya tepat disamping Alesya, Nando pun juga mendudukan tubuhnya disamping Yara, kini Yara dan Alesya berada di antara Darwin dan Nando. Tubuh mereka saling berdempetan. "Sialan kenapa dia duduk disampingku." Gumam Yara dalam hati.


Yara mencoba menggeser sedikit tubuhnya ke samping Alesya, Namun rasanya sulit sekali karna sudah tidak ada lagi celah diantara mereka, hingga membuat Yara merasa risih karena tubuh Nando saling bersentuhan dengannya. Yara berulang kali mengumpat kesal dalam hatinya.


"Kenapa kau duduk disini? Carilah bangku yang lain." Ujar Yara berbisik Kepada Nando, ia memelankan nada Suaranya agar yang lainnya tidak mendengar.


Nando merasa Aneh saat Yara berbisik tepat didaun telinganya, Nada suara Yara terdengar sangat lembut ditelinganya, tidak seperti biasanya yang suka sekali berbicara ketus bahkan berbicara kasar dengannya. Nando mengangkat salah satu sudut bibirnya. "Astaga kenapa Suaranya terdengar sexy sekali saat dia berbicara dengan pelan seperti ini." Gumam Nando dalam hatinya.


Nando menoleh ke arah Yara, membuat Yara terkesiap. Namun tak membuat Yara memalingkan wajahnya malah Yara seperti terhipnotis akan sorotan manik Nando. mereka saling beradu pandang dengan jarak begitu dekat dan hanya menyisahkan beberapa centi saja. Nando menatap manik Yara dengan tatapan dalam, lalu ia memalingkannya tepat di bibir Yara. ia memperhatikan bibir Yara dengan seksama, menatap bibir Yara membuat perasaan Nando menjadi kacau, Jantung Nando berdetak sangat kencang seperti hendak terlepas dari tempatnya. Namun dengan cepat ia memalingkan Tatapannya.


Nando Mengarahkan bibirnya didekat daun telinga Yara. "Apa kau tidak melihat jika tidak ada satu pun bangku yang kosong?" Ucap Nando. Yara pun tersadar akan ucapan Nando, ia segera memalingkan Wajahnya, menatap ke semua arah, memang tidak ada satu pun bangku yang kosong, semua sudah terisi penuh oleh banyaknya mahasiswa yang sedang makan siang disana.


Raut wajah Yara terlihat menahan kesal, ia mengerucutkan bibirnya. "Menyebalkan!" Gumamnya dalam hati.


"Yara kenapa kau cemberut seperti itu?" Tanya Valen seraya memperhatikan bibir Yara.


"Tidak, aku tidak cemberut." seru Yara menepiskan senyumnya.


"Jelas-jelas kau cemberut tadi."


"Tidak Valen, Aku tidak cemberut!"


"jangan cemberut, nanti jelek seperti bebek." Ucap Valen.


"Kau mengataiku?" Tanya Yara. ia menajamkan maniknya kepada Valen.


"Tidak!" Valen menggelengkan kepalanya. "Aku hanya membenarkan perkataan Bryan. benar Kata Bryan jika cemberut seperti ini, nanti sama seperti bebek." jawab Valen seraya menirukan mengerucutkan bibirnya.


Bryan yang melihat tingkah Valen hanya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Kau ini ada-ada saja." Yara menggeleng-gelengkan kepalanya.


Nando, Darwin, dan Alesya seketika menahan tawanya saat melihat Valen menirukan Yara mengerucutkan bibirnya.


"Aww... Sakit!" Nando sedikit berteriak, ia meringis kesakitan, saat Yara menginjak kakinya dengan kesengajaan dan sedikit keras.


"kenapa kau suka sekali membuatku kesakitan." seru Nando, ia menatap ke arah Yara.


"Siapa suruh kau tertawa." sahut Yara Dengan ketus. ia melirik tajam ke arah Nando.


"memangnya kenapa? lagipula tidak ada yang melarang, terserah aku." Seru Nando.


"Memang benar apa yang Dikatakan Valen." Nando terkekeh. "Kau jelek jika cemberut seperti itu." imbuhnya.


Yara seketika menajamkan maniknya melirik Nando.


"Banyak bicara!" Yara beranjak berdiri, ia bergegas melangkahkan kakinya pergi dari sana.


"Yara kau mau kemana?" Teriak Alesya.


"Pulang!" Jawab Yara tanpa menoleh.


"Kau sih, Yara pasti marah gara-gara Kau meledeknya." Ucap Valen kepada Nando. maniknya menatap tajam ke arah Nando


"Kenapa jadi aku, jelas-jelas dia yang menginjak kakiku tadi, seharusnya aku yang marah." Sahut Nando.


"Tapi kau tadi meledeknya. Aku tidak mau tau, kau harus meminta maaf kepada Yara, cepat kejarlah!" Perintah Valen.


"Kau juga! kau sama saja seperti Nando." Ucap Alesya menajamkan matanya kepada Valen.


"Aku kan hanya bercanda." Valen menundukkan kepalanya. Alesya berdecak.


"Nando!" Teriak Alesya.


"Apa? aku kan-- "


"Sudahlah Nando, kau juga salah. cepat meminta maaflah kepada Yara." Perintah Darwin


Nando menghela nafasnya kasar. "Baiklah." Ia beranjak bergegas menyusul Yara yang sudah semakin menjauh dari sana.


.


.


.


.


.


🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Jangan lupa Vote dan Like