
Setelahnya Yara dan Nando memutuskan untuk makan bersama.
Nando yang sedari tadi sudah menguras tenaga nya berbolak-balik kesana kemari dan menggendong Yara, ia sudah tak bisa menahan rasa laparnya. ia juga mengira bahwa Yara juga merasa lapar, maka dari itu ia mengajak Yara untuk makan bersama.
Nando membantu Yara beranjak, ia melingkarkan tangannya ke pinggang Yara, untuk memudahkan Yara berjalan lalu segera mengajaknya untuk ke meja makan. Nando juga menyiapkan semua makanan yang telah ia beli tadi ke atas meja makan tersebut.
Setelah mengambilkan makanan untuk Yara dan untuknya, Nando mendudukan tubuhnya tepat Disamping Yara.
"mau Ku suapi?" Tanya Nando.
Yara menggelengkan Kepalanya. "Tidak usah, aku bisa sendiri." Jawab Yara.
"Yasudah makanlah." perintah Nando.
Namun saat Yara hendak menyuapkan makanan kedalam mulutnya, Nando seketika menghentikan tangan Yara.
"Sini biar aku menyuapimu, tanganmu kan masih sakit." Nando mengambil alih sendok tersebut.
"Tidak usah, aku bisa sendiri! ini hanya luka kecil kenapa kau berlebihan sekali." Seru Yara, Nada suaranya sedikit mengeras. ia menyahut kembali sendok yang telah Nando ambil Darinya.
"Aku kan ingin sekali menyuapinya." Gerutu Nando dalam hati, maksut hati ingin bersikap manis terhadap Yara, tapi Yara malah menolaknya. Nando pun akhirnya memilih mengalah membiarkan Yara memakan makanannya sediri, Namun raut wajahnya terlihat kesal akan penolakan Yara.
Nando yang merasa sudah tidak bernafsu makan, ia hanya melihat ke arah Yara, yang sangat lahap memakan makanannya, Entah rasanya selera makannya hilang begitu saja.
Yara sesekali melirik ke arah Nando seraya tidak luput menyuapkan makanan tersebut kedalam mulutnya, Seketika ia menghentikan aktivitasnya. "Kau tidak makan?" Tanya Yara, ia mengarahkan pandangannya kepada Nando.
"Sudah tidak berselera." Jawab Nando, ia mengalihkan pandangannya dari manik Yara.
Yara menghela nafasnya kasar, ia tau jika sikap Nando yang secata tiba-tiba berubah begitu saja, tak lain karena ia menolak permintaan dari Nando untuk Menyuapinya.
"Nando." Panggil Yara.
Namun Nando tak menghiraukan panggilannya, ia hanya melirik lalu mengalihkan pandangannya kembali.
"Kau marah padaku?" Tanya Yara.
"Tidak." jawab Nando singkat
"lalu kenapa tidak makan? ayo makanlah." Ucap Yara, Nando hanya menggelengkan kepalanya.
"Kau benar-benar marah padaku?" Tanya Yara kembali.
Nando bungkam tak Menjawab pertanyaan Yara, Yara pun membenarkan pertanyaannya.
"Kau marah gara-gara aku menolak untuk kau suapi, iya kan?"
"Tidak."
"Kau ini begitu saja marah, seperti anak kecil saja."
"Aku hanya ingin bersikap manis kepadamu! tapi kau selalu saja menolaknya." Nando menyilangkan kedua tangannya, ia kesal seraya menautkan kedua alisnya.
Yara yang mendengar ucapan dari Nando, seketika terdiam. lalu menepiskan senyumnya, pipinya terlihat merona menahan malu akan ucapan Nando.
"Ti-tidak siapa yang tersenyum." Ucap Yara dengan terbata-bata. ia mengelak pertanyaan dari Nando, membuatnya semakin malu. Yara pun menundukan pandangannya.
Nando mengusap kepala Yara dengan pelan. Ia sedikit mengangkat kepala Yara agar bisa berhadapan dengannya. manik Mereka berdua saling menatap. begitu banyak makna yang terlihat diraut wajah mereka berdua.
Nando mencium kening Yara lama. tak ada penolakan dari gadis itu, Yara yang merasa detak jantungnya berdegup kencang. "kenapa kau bersikap seperti ini." Gumam Yara dalam hati, ia merasa perasaannya kacau seketika.
"lain kali kau tidak boleh menolak sikap manisku kepadamu." Ucap Nando. ia memeluk gadis yang dicintainya itu dengan erat.
"Lepaskan!" perintah Yara.
"sudah Ku katakan jangan menolak sikap ku yang manis seperti ini, kau seharusnya senang dengan sikapku yang seperti ini, Bahkan perempuan diluar sana berlomba-lomba ingin mendapat kan simpati dari ku." Ucap Nando.
Seketika Yara menjauhkan tubuhnya dari Nando, Ia kesal akan ucapan Nando yang terdengar sangat menyebalkan.
"Yasudah peluklah perempuan-perempuan yang ingin mendapatkan simpati darimu sana!" Yara mengalihkan pandangannya. Seketika senyuman usil terlintas diraut wajah Nando.
"Kau cemburu?" Tanya Nando menggoda.
"Tidak! untuk apa aku cemburu." Sahut Yara.
"Yakin kau tidak cemburu? lalu kenapa raut wajahmu seperti itu." Ucap Nando, ia tau Yara sudah mulai bersikap berbeda, Bahkan Saat Nando sengaja membicarakan soal wanita lain didepannya. Raut wajah Yara menampakkan kekesalan.
"Memangnya kenapa dengan raut wajahku?" Yara menajamkan maniknya kepada Nando, Nando yang gemas akan tingkah Yara seketika memeluk kembali tubuh Yara dengan sangat erat, Namun saat Yara mencoba melepaskan pelukan tersebut, Nando malah semakin mengeratkannya membuat Yara sulit untuk bergerak.
Tokk..
Tokk..
Tokk..
Suara ketukan pintu Terdengar, membuat Yara kembali berontak ingin Nando segera melepaskan pelukan darinya.
"Nando lepaskan. ada yang mengetuk pintu." Ucap Yara.
"Biarkan Saja." Jawab Nando, ia sudah mengerti bahwa yang datang tidak lain ialah Alesya dan Valen, mengingat tadi saat Nando menghubungi Alesya, Alesya memberitahunya kalau sepulang kuliah ia dan Valen akan datang ke apartment untuk menemui dan memastikan keadaan Yara.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan lupa Vote dan Likeπ