My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #45



Nando mengusap lembut air mata Yara yang terus menerus terjun bebas dari maniknya. Seketika ia mendekap tubuh Yara dengan sangat erat. "Maafkan aku..."


Yara bungkam, rasa sakit di dalam hatinya masih terasa, Namun rasa nyaman karena pelukan Nando membuatnya merasa sedikit tenang.


Nando yang sangat merasa bersalah semakin mengeratkan dekapannya kepada Yara, ia juga merasa sesak akan sikapnya yang membuat Yara meenangis. ia sangat menyesal Dengan perbuatannya.


Nando sedikit merenggangkan pelukannya, menatap paras Yara Dengan rasa menyesal, ibu jarinya mengusap sisa air Mata Yara yang masih membekas diwajahnya.


"tidak seharusnya aku bersikap seperti itu kepadamu... maafkan aku." Ucap Nando Lirih.


"Kau jahat." Air Mata Yara yang tadinya sudah terhenti kini terjatuh kembali, Ia segera mengusapnya.


"Aku mencintaimu sayang." Ucap Nando, Raut wajahnya berubah seketika, senyuman manis terlintas di bibirnya. Entah mengapa ia suka sekali mengucapkan hal itu kepada Yara.


"Jangan memanggilku seperti itu." Yara menundukan kepalanya, wajahnya bersemu merah akan ucapan Nando.


"Kenapa?" Nando pun ikut menundukan pandangan menatap Wajah Yara yang tertutupi oleh rambut miliknya.


"Kita kan tidak Ada hubungan apa-apa, tidak seharusnya Kau memanggilku seperti itu." Ucap Yara Dengan pelan.


"Coba lihat aku." Perintah Nando, Yara menggelengkan kepalanya, wajahnya masih tertunduk malu.


"Kemari lihat wajahku." Nando berusaha meraih dagu Yara, menyuruh gadisnya itu memamandang ke arahnya.


"memangnya harus menjalin sebuah hubungan terlebih dahulu jika Ingin memanggilmu seperti itu?" Nando mengangkat kedua alis matanya.


"Ti-tidak seperti itu." Ucap Yara terbata-bata.


"memangnya salah jika aku memanggil seperti itu kepada wanita yang sangat aku cintai?" Tanya Nando, Yara kembali menggelengkan kepalanya.


"Lalu?"


Yara terdiam, ia tidak mempunyai jawaban atas pertanyaan Dari Nando.


"Kau menyayangiku?" Tanya Nando.


Seketika Mata Yara membulat sempurna. jantungnya berdetak tidak karuan, perasaannya tidak bisa diungkapkan. mungkinkah Yara Sudah mulai merasa sayang terhadap Nando atau bahkan Cinta? ia mencoba menyangkalnya. Namun mengapa sangat sulit sekali mengatakan kata tidak.


Ia menggigit bibir bawahnya, hatinya bergejolak akan ucapan Nando, perasaan macam apa yang terlintas begitu saja. namun secara tiba-tiba ingatannya kembali kepada Demian, semua perlakuan buruk Demian kepada Rosalie, rasa sakit hati Rosalie, penderitaan Rosalie menyerang pikirannya. Ingin sekali rasanya ia menghilangkan ingatan sementara, agar ia tak lagi mengingat hal yang membuat perasaannya menjadi ragu. Namun semua itu terlihat sangat nyata. Ya, lagi-lagi Yara harus mengorbankan perasaan yang bertolak belakang Dengan rasa trauma yang di deritanya.


Diamnya Yara mengingatkan Nando akan suatu hal. "apakah Rasa trauma mu masih ada?" Tanya Nando.


Nando menghela nafas lalu membuangnya perlahan, kecewa itulah yang ia rasakan, Namun ia tidak mau memaksa Yara untuk menjawab pertanyaannya. biarkan saja waktu Yang mengubah semuanya, bagaimanapun juga Ia Sudah berjanji kepada dirinya sendiri dan juga Yara untuk menghilangkan rasa trauma Yara. ia juga masih mengingat jelas ucapannya kepada Yara. kalau Kau masih Belum siap untuk menerimaku, aku tidak akan memaksamu.


"Yasudah, ayo aku antarkan Kau pulang." Ajak Nando, ia memggenggam erat tangan Yara. hendak menggiring Yara menuju Mobil miliknya yang masih terparkir dihalaman sana.


Namun langkah kaki Nando terhenti tatkala Yara yang menahannya. "Aku tau Kau kecewa." Yara menatap manik Nando Dengan tatapan dalam. ia tau bahwa Pria yang sangat menyayanginya itu kecewa akan sikapnya.


Seketika Nando mengalihkan pandangannya ke sembarang arah. "Aku Sudah pernah mengatakannya." menatap manik Yara kembali. "Kalau Kau memang Belum siap menerimaku, aku tidak akan memaksamu." Raut wajah Nando berubah datar.


"aku mematahkan hatimu." Ucap Yara Dengan pelan.


"belum benar-benar patah, hanya saja Kau yang memang belum siap menerimanya. aku mengerti." Nando menepiskan senyuman.


"Bagaimana jika suatu Saat kau yang mematahkan hatiku?" Pertanyaan Yara keluar begitu saja Dari dalam mulutnya. Bagaimana jika itu benar-benar terjadi? sanggupkah Yara menerima semua itu.


"Aku berjanji tidak akan melalukannya." Nando semakin mengeratkan genggamannya kepada Yara.


"itu janji yang berat Nando."


"Aku sangat mencintaimu Yara, bagaimana bisa aku melakukannya?"


"jika aku sering membuatmu kecewa, apa itu masih tidak merubah apapun?"


"Tidak akan!"


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Jangan lupa vote dan likeπŸ’š