
"Yara kalau aku mencintaimu bagaimana?"
"Astaga... Apa?" Yara sangat terkejut dengan ucapan Nando. ia mengernyitkan dahinya bingung.
"kau ini bicara apa, aku sungguh tidak mengerti." Yara memalingkan wajahnya, Namun tiba-tiba detak jantungnya terasa begitu kencang, pikirannya kacau seketika.
Nando meraih dagu Yara. Namun dengan cepat Yara menepis tangan Nando. "Lepaskan!" Perintah Yara.
"Nando, lebih baik kau tunggulah di sofa depan. aku akan menyelesaikan ini semua. kau lapar bukan?" Ucap Yara menyuruh Nando untuk menunggu didepan saja, Entah rasanya begitu aneh saat ia mendengar ucapan dari Nando. Namun Yara berbicara seolah-olah tak mau memandang ke arah Nando.
"Jangan mengalihkan pembicaraan." Sahut Nando. Namun Yara hanya diam tak menyahuti perkataan dari laki-laki itu.
"Aku tidak lapar." Jawab Nando sedikit menjauhkan tubuhnya dari Yara, Melihat Yara bersikap seperti itu terhadapnya membuat Nando berfikir bahwa Yara benar-benar membencinya. Yara terus saja mengelak ucapan darinya.
"Tapi aku yang lapar." Sahut Yara seraya mengerucutkan bibirnya.
"Kau dari tadi banyak bicara! lihatlah masakanku belum selesai sampai sekarang." Yara memelototkan kedua bola matanya kepada Nando, Namun Nando segera memalingkan Wajahnya, raut wajahnya seketika berubah begitu saja. ia sangat kecewa akan sikap Yara.
Nando pun berlalu pergi dari sana, ia bergegas kembali kedepan.
"Kenapa dia berbicara seperti itu." gumam Yara dalam hati seraya memperhatikan Nando yang yang berjalan menjauh darinya.
*****
Nando menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke atas Sofa serta menyenderkan punggungnya. Raut wajahnya terlihat menahan kekesalan.
Dengan Nando mengatakan hal itu mungkin saja Yara bisa merubah sikapnya sedikit lebih manis kepadanya, pikirnya. Namun ternyata tidak demikian. Yara bahkan seperti tidak menyukai perkataannya. Nando merasa perasaan nya sangat kacau antara kecewa, marah dan sedih.
Manik Nando memperhatikan Yara yang Sedang fokus memasak dari arah kejauhan. Ruangan Apartement itu antara ruang tamu dan Dapur tidak ada sekat sama sekali, hingga memudahkannya untuk lebih lama memperhatikan Yara. Saat Yara menoleh ke arah Nando. Nando segera memalingkan wajahnya. "Menyebalkan." gerutu Nando.
Nando mengubah posisi tubuhnya, ia membaringkan badanya di atas sofa tersebut, ia merasa tubuhnya sangat lelah. bahkan maniknya terus berkaca-kaca karena menguap berkali-kali, tidak membutuhkan waktu lama akhirnya Nando memejamkan kedua matanya yang ia rasa sudah mengantuk.
*****
beberapa menit kemudian Yara telah menyelesaikan semua makanan yang ia masak, lalu ia memindahkan makanan-makanan tersebut ke atas meja makan.
Yara segera bergegas menghampiri Nando untuk mengajaknya makan bersama.
Terlihat Nando sudah tertidur pulas diatas sofa, Yara mendudukan tubuhnya sedikit ke samping Nando. Ia memperhatikan raut wajah tampan Nando dengan seksama. Seketika Yara menyunggingkan senyum dibibirnya. "Aku tau pada saat itu kau memang tidak melakukan apapun kepadaku." Yara mengingat kembali perbincangan nya dengan Alesya.
Yara memang tidak bisa mengingat semua apa yang telah terjadi kepadanya pada malam itu. Ia hanya merasa syok saat mendapati Nando tidur disampingnya. wajar saja jika Yara menuduh Nando sudah berbuat macam-macam kepadanya. Di satu sisi Yara mempunyai trauma berat kepada laki-laki, mengingat Demian yang selalu memperlakukan Rosalie dengan tidak baik. Yara sering kali mendapati Demian melukai istrinya itu didepan matanya. Demian jugalah yang membuat kehancuran kepada Keluarganya sendiri. maka dari itu Yara selalu berhati-hati kepada laki-laki bahkan menghindar, bukan tidak mungkin beberapa laki-laki lainnya mempunyai sifat yang sama seperti Papanya tersebut, Itu yang ada difikiran Yara.
Nando menggeliat pelan, membuat Yara tersadar akan lamunannya. Yara mencoba untuk membangunkan Nando. "Nando, bangunlah." Yara mengoyang-Goyangkan tubuh Nando.
Nando hanya sedikit membuka maniknya, lalu memejamkannya kembali. "Aku mengantuk, jangan menggangguku." Ucap Nando.
"Tapi kau belum makan, Nanti kau lapar." Sahut Yara.
"Memangnya apa pedulimu." Seru Nando dengan ketus.
Yara seketika membulatkan bola matanya. "Aku hanya tidak mau kau mati kelaparan disini! Yasudahlah terserah kau saja." Yara bersungut kesal akan ucapan Nando.
Yara beranjak berdiri kembali hendak bergegas pergi, Namun langkahnya terhenti saat Nando sedikit menarik tangannya. "Kau mau kemana?" Nando membuka maniknya penuh. lalu ia bangun dari Berbaringnya.
"Lepaskan!" perintah Yara berusaha melepaskan pegangan tangan Nando, Namun Nando semakin mengeratkannya.
"Duduklah." perintah Nando.
"Tidak mau, aku lapar Ingin makan."
mendengar penolakan dari Yara, ia seketika sedikit menarik tubuh Yara, membuat tubuh gadis itu seketika mendarat di atas sofa.
Yara berdecak kesal, ia mengerucutkan bibirnya.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan lupa Vote dan Likeπ