
"lalu kau sendiri bagaimana?" Tanya Darwin.
"Kenapa denganku?" Tanya Nando.
"memangnya kau benar-benar sudah melupakannya?"
Seketika Nando bungkam akan pertanyaan temannya tersebut, Entah rasanya ia malas jika harus membahas pembicaraan yang mengarah ke masalalunya. "Ehm bagaimana kelas pembelajaran tadi?"
"baik. seperti biasa." Darwin tau apa yang membuat Nando bungkam, ia melihat raut wajah Nando berubah seketika, Nando enggan membahas tentang masa lalunya, maka dari itu ia tak akan mengulang pertanyaannya kembali, biar saja Nando tak menjawab atau lebih baik mengalihkan Pembicaraan.
"Bagus." raut wajah Nando terlihat datar.
"ada kejadin lucu saat kau tidak ada tadi." Sahut Bryan terkekeh.
"jangan bilang kalian membuat ulah lagi?" Tanya Nando.
"jelas." Sahut Darwin ikut terkekeh.
"apa yang kalian lakukan?" Tanya Nando.
"tidak terlalu parah."
"Katakan."
"hanya memasukan satu sendok garam kedalam mulutnya." Bryan dan Darwin terbahak secara bersamaan, mengingat saat jiwa keusilan mereka tiba-tiba terlintas begitu saja, untuk mengerjai salah satu Dosen saat pembelajaran berlangsung.
"Kalian ini sungguh keterlaluan." Ujar Nando berdecak.
"Dia lebih menyebalkan." Sahut Darwin masih tertawa terbahak, membuat Nando yang menatapnya hanya menggelengkan kepalanya.
"berani sekali kalian memasukan garam ke dalam mulutnya?" Nando menahan tawanya, ia sungguh tak habis fikir dengan kedua temannya yang sangat usil hingga mengerjai dosen tersebut.
"bagaimana tidak berani, saat kau tertidur dikelas dia memakimu lalu menyuruhmu untuk mencuci muka, tapi dia sendiri malah tertidur pulas." Ujar Bryan.
"Bahkan mendengkur dengan sangat keras." Sahut Darwin.
seketika Nando pun ikut tertawa dengan sangat keras. membuat Yara, Alesya, dan Valen yang sedang membicarakan hal serius mengarahkan pandangannya pada ketiga pria tersebut.
"Bryan!" Teriak Valen. seketika Bryan menutup rapat mulutnya dengan telapak tangannya.
Valen menghampiri. "Kenapa kau tertawa sekeras itu?"
Bryan hanya menggeleng, namun menahan tawanya. "Tidak apa-apa."
namun Nando dan Darwin semakin keras tertawa, Yara dan Alesya ikut menghampiri mereka.
"ini bukan hutan!" Sahut Valen menajamkan maniknya kepada Bryan.
"ini apartement." Darwin menimpali.
Valen mengarahkan pandangannya kepada Darwin, Menatap kesal pria itu.
"jangan banyak berjalan." Ucap Nando saat Yara mendudukan tubuhnya tepat disampingnya.
"kakiku sudah tidak sakit." Ucap Yara.
"benarkah?" Tanya Nando, Yara mengangguk mengiyakan.
Nando hendak menyentuh pergelangan kaki Yara, Namun Yara menepisnya. "Aku hanya ingin memastikan." Nando menatap tajam manik Yara.
"Masih bengkak." Ujar Nando.
"tidak apa-apa." Ucap Yara.
"ayo aku antar ke kamar." Ajak Nando.
"Untuk apa?" Tanya Yara.
"Istirahatlah..." Ucap Nando.
"tidak mau! aku masih ingin disini." Tolak Yara.
"Tapi kaki mu masih bengkak!" Bentak Nando, membuat semua temannya mengalihkan pandangannya kepadanya.
"Apa pendengaranmu sudah tidak berfungsi! kakiku sudah tidak sakit." Yara pun mengeraskan Nada suaranya.
"Kenapa kau keras kepala sekali." Nando berdecak kesal.
"Kau yang keras kepala!" Ucap Yara, ia mengalihkan pandangannya kepada teman-temannya, yang sedang memperhatikannya dan Nando berdebat. Seketika Yara menundukan pandangan, merasa tidak enak kepada mereka.
Nando yang kesal akan sikap Yara, seketika menjauhkan tangannya dari Yara. lalu mengalihkan pandangannya.
"Lebih baik kau istirahat." Ucap Alesya menepiskan senyumnya.
"Iya, benar kata Nando kakimu masih terlihat bengkak." Valen menimpali, mengarahkan pandangannya pada kaki Yara.
"Aku masih ingin mengobrol dengan kalian." Ucap Yara, raut wajahnya berubah seketika.
"kalau kau tidak istirahat, bagaimana besok kau bisa kuliah lagi." Ucap Alesya.
Yara terdiam, sebenarnya ia juga masih merasakan sakit pada tubuhnya karena berbenturan sedikit keras dengan lantai saat terjatuh, Namun ia merasa tidak enak jika harus meninggalkan teman-temannya untuk beristirahat. seketika Yara melirik ke arah Nando yang sedang menatap ke sembarang arah. raut wajah Nando menahan kesal.
"Besok pagi aku dan Valen akan menjemputmu terlebih dahulu. kita berangkat bersama." Ucap Alesya. Valen pun menganggukan kepalanya.
"Ayo aku antar ke kamar." Ajak Alesya.
"Tidak usah, aku bisa sendiri." Yara beranjak dari duduknya, ia melangkahkan kakinya dengan perhalan menuju ke kamar.
"Baiklah." Ucap Alesya.
"Jika aku yang berbicara, dia tidak pernah menuruti." Gumam Nando dalam hati, ia tak menoleh sedikitpun ke arah Yara.
"Yara memang sedikit keras kepala, Kau harus lebih sabar lagi menghadapinya." Ucap Alesya, seraya maniknya memperhatikan Yara yang barusaja menghilang dari balik pintu kamar tersebut. Alesya menepuk pelan bahu Nando.
"Apanya yang sedikit? bahkan dia selalu menolak sikap baikku kepadanya." gerutu Nando dalam hati.
*****
2 jam berlalu, obrolan mereka terhenti tatkala Valen yang sudah merasakan kantuk dan tak bisa menahannya lagi, mengajak mereka semua untuk pulang. Mereka semua pun akhirnya berpamitan pulang, kecuali Nando. Ia memutuskan untuk menginap di apartemen Yara dan menemaninya, ia enggan untuk pulang takut jika sewaktu-waktu Yara membutuhkan apapun dan tidak ada siapapun disana membantunya, mengingaseYara yang masih sedikit susah untuk berjalan.
Setelahnya Nando berniat untuk menemui Yara terlebih dahulu sebelum ia mengistirahatkan tubuhnya, memastikan apakah gadis itu sudah benar-benar terlelap atau sebaliknya.
Nando membuka pintu kamar Yara dengan perlahan. Yara yang sedari tadi maniknya masih terjaga, ia duduk diatas ranjang menselonjorkan kakinya seraya memainkan ponsel miliknya.
"Kenapa belum tidur?" Nando menghampiri Yara.
Yara hanya melirik ke arah pria itu, lalu mengalihkan pandangannya kembali pada ponsel tersebut.
Nando mendudukan tubuhnya disamping Yara. ia menyahut ponsel tersebut dari tangan Yara. "Istirahat lah... ini sudah malam."
Yara hanya diam tak menjawab ucapan Nando, maniknya menatap ke sembarang arah.
"Kau marah padaku?" Tanya Nando. Yara masih enggan menjawab pertanyaannya.
"Mau Ku temani tidur?" Tanya Nando kembali.
Yara menajamkan maniknya menatap Nando.
"Kenapa kau tidak pulang?" Tanya Yara, Nada suaranya terdengar sedikit menyolot.
"Kau mengusirku?" Tanya Nando.
"Terserah kalau kau menganggapnya begitu." Jawab Yara.
Nando mengela nafasnya panjang. "Aku masih merindukanmu."
Ucapan Nando membuat raut wajah Yara berubah seketika. ia segera menundukan pandangannya.
"Maaf kan aku..." Ucap Nando.
Yara mendongakan kepalanya. "Untuk apa?"
Nando menepiskan senyuman, maniknya menatap Yara dengan tatapan yang begitu dalam. ia sedikit mendekatkan wajahnya kepada Yara. Yara yang merasa detak jantungnya berdegup tidak beraturan, ia seketika menundukan pandangannya kembali, Namun Nando dengan cepat meraih dagu Yara membuat Yara menatap kembali kepadanya.
Nando mendaratkan ciuman lembut ke bibir Yara, membuat gadis itu menejamkan maniknya, entah perasaan apa yang lewat begitu saja membuatnya tak menolak akan ciuman dari Nando.
Nando melepaskan ciumannya, ia mengusap pipi Yara yang terlihat bersemu merah, setelahnya ia merengkuh tubuh Yara memeluknya dengan sangat erat seakan tak mau melepaskannya.
.
.
.
.
.
ππ»ππ»ππ»ππ»ππ»
Jangan Lula Vote dan Likeπ