
"Nona..." Ucap Nando sembari menggoyang-goyangkan tubuh Yara.
Namun Yara tidak ada respon sama sekali, Nando berusaha untuk membangunkan Yara lagi, ia menepuk pelan pipi gadis berwajah polos itu. "Nona bangunlah."
Namun usahanya sia-sia, Yara tetap tak mengubah posisi dan maniknya masih memejam sempurna.
Pandangan Nando menyorot ke segala sisi ruangan tersebut, tidak Ada makhluk Satu pun terlihat di Sana, kecuali dirinya dan Yara. "Aku tidak mungkin meninggalkannya sendiri disini."
Tanpa pikir panjang Nando segera menggendong tubuh Yara, Nando bergegas melangkahkan kakinya keluar dari dalam toilet, lalu menuju ke arah pintu awal untuk mengajak gadis itu keluar dari Club tersebut.
Ia berjalan menuju ke mobil miliknya yang telah terparkir di halaman Club. Nando membuka pintu mobil bagian tengah, dengan pelan Ia menggeletakkan tubuh Yara di atas kursi mobil itu. lalu ia pun juga ikut masuk di bagian kursi pengemudi, Nando melajukan mobilnya dengan kecepatan maximal.
beberapa menit kemudian Nando memberhentikan mobilnya tepat di depan sebuah apartement mewah. Nando turun dari mobil. ia kembali menggendong Yara, Nando bergegas masuk ke dalam gedung tersebut. saat dirasa ia telah sampai didepan pintu unit miliknya jari tangannya segera memencet tombol pin yang telah ia buat. saat pintu terbuka Nando bergegas masuk ke dalam. ia membaringkan tubuh Yara di atas ranjang miliknya, menyelimuti tubuh gadis itu dengan selimut.
Apartment milik Nando begitu mewah dengan design modern. tapi sayangnya hanya ada 1 kamar saja didalam apartement miliknya tersebut.
tubuhnya membawanya untuk duduk tepat di samping Yara, maniknya memperhatikan Yara dengan seksama. "kenapa aku merasa tidak asing dengan gadis ini." Nando menggerutu pelan, jemari tangan nya mengelus pipi Yara dengan lembut. entah rasanya Nando seakan terbius akan wajah Yara yang sangat polos namun terkesan cantik
jemarinya tangan Nando kini telah merangkak kebawah tepat di atas bibir Yara, Nando mengusap bibir sexy Yara dengan pelan. "Kau sungguh manis sekali." ucapnya sangat pelan.
Laki-laki itu mencoba untuk membangunkan Yara kembali, tangannya tergerak untuk mengambil minyak angin yang berada diatas meja di samping ranjang, Nando sedikit menempelkan benda itu dihidung Yara. Yara pun seketika menggeliat pelan, maniknya sedikit terbuka.
"Kau sudah sadar Nona?" tanya Nando.
Namun Yara tidak menjawab pertanyaan dari Nando, Yara merasa pandangannya masih buram. Seketika ia memejamkan matanya kembali dan memposisikan tubuhnya dengan senyaman mungkin.
"Astaga." Laki-laki itu menggelengkan kepalanya seakan gemas dengan tinggah Yara yang ia rasa konyol, bagaimana bisa gadis itu dengan sangat nyaman memposisikan tubuhnya, Nando tersenyum. "sepertinya dia masih mabuk."
"Istirahatlah dengan nyaman." Nando membalutkan selimut tersebut hingga batas bahu gadis itu
*****
Nando terlihat mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, bahkan tak sekali ia menguap. Rasa kantuk semakin menyerangnya, apalagi pengaruh alkohol membuatnya merasakan sedikit pusing di kepalanya, maniknya melirik ke arah jam yang melekat pada dinding kamar tersebut, waktu menunjukkan pukul 4 pagi.
"Aku lelah sekali." Nando melepaskan sepatu, kemeja dan juga celana yang ia kenakan, hanya menyisahkan boxer yang masih melekat pada tubuhnya. Ia melemparkan benda-benda itu kesembarang arah.
Sebenar nya Nando tidak ingin tidur satu ranjang dengan Yara, ia takut jika terbangun akan salah paham nantinya, tapi rasa kantuknya mengalahkan apapun, rasanya ia malas beranjak dari ranjang tersebut.
laki-laki itu membaringkan tubuhnya. sesekali maniknya melirik ke arah Yara. hingga akhirnya maniknya terpejam sempurna membawnya dalam mimpi.
*****
"Apa Nando sudah gila! kita menunggu nya sudah lebih dari satu jam. sedang apa dia berada didalam toilet selama itu." Ucap Bryan kepada Darwin.
"mungkin saja dia masih ada yang harus diselesaikan." sahut Darwin.
"apa yang harus di selesaikan?" Tanya Bryan.
"Kau tidak mengerti maksutku? Dasar bodoh! apalagi jika tidak sedang buang air besar."
"Kau yang benar saja, mana mungkin hanya buang air besar sampai lebih dari satu jam." Seru Bryan.
"Bisa saja, kalau buang air besar sambil tertidur." Darwin tertawa keras, ia senang sekali menggoda Bryan yang sifatnya memang tidak sabaran jika menunggu sesuatu.
Bryan dan Darwin masih berada di dalam Club milik keluarga Morell. Mereka berdua sedang menunggu Nando yang tak kunjung kembali.
Bryan tak henti-hentinya menggerutu kesal, membuat Darwin yang mendengarnya merasa risih.
"Kau ini sungguh banyak bicara seperti perempuan saja! kalau kau tidak mau menunggu lihatlah sana ke dalam toilet!" Ucap Darwin yang mana membuat Bryan langsung melangkahkan kakinya menuju ke toilet untuk mencari sahabatnya tersebut.
saat langkah kaki Bryan telah berhenti didalam toilet tersebut, matanya menyorot ke sekeliling, tidak ada orang satu pun di sana kecuali dirinya, Bryan mencoba mendobrak semua pintu yang ada di dalam sana, namun hasilnya tetap sama. "Kemana Nando?" gumamnya dalam hati.
Bryan bergegas keluar dari toilet tersebut untuk kembali menemui Darwin yang masih menunggunya disana. "Nando tidak ada di toilet." Ucap Bryan yang mana membuat Darwin mengernyitkan dahinya bingung.
"yang benar saja! kau jangan bercanda!"
"Aku tidak bercanda! toilet kosong tidak Ada siapa pun disana."
"Kemana dia?" Tanya Darwin.
"Mana ku tau, daritadi aku disini bersama mu!" Bryan menggedikkan bahunya. "Coba kau hubungi ponsel Nando." perintah Bryan.
Darwin pun segera mengambil ponsel miliknya yang terselip didalam saku celana, Ia mencari kontak nomor Nando, segera ia melakukan panggilan kepada sahabatnya yang tiba-tiba pergi meninggalkan mereka berdua.
"Bagaimana?" tanya Bryan.
"Tidak ada jawaban." Ucap Darwin
Darwin mencoba menghubungi Nando berkali-kali, namun sia-sia Nando tidak menjawab panggilan darinya.
"Sebenarnya kemana Nando? apa dia pulang terlebih dahulu?!" Darwin mencemaskan Sahabatnya itu, ia takut hal buruk terjadi kepada Nando, apalagi Nando sedang dalam pengaruh alkohol.
"Entahlah." ucap Bryan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Lebih baik kita pulang saja Darwin, mungkin saja Nando memang sudah pulang."
"Tapi... bagaimana jika sesuatu terjadi kepadanya? Kau tau seperti apa dia jika sedang mabuk." Raut Wajah Darwin semakin menampakkan kecemasan.
"Nando bisa menjaga dirinya sendiri! sudahlah ayo kita pulang."
Bryan dan Darwin pun bergegas keluar meninggalkan Club tersebut. beruntung saat itu Darwin juga membawa mobil miliknya. jadi tidak yang perlu di khawatirkan.
"apa kau berminat menginap di apartement ku?" tanya Darwin kepada Bryan.
"Tentu saja."
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻