My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #29



Manik Nando tidak lepas memperhatikan Yara. "Kenapa kau melihatku seperti itu?" Tanya Yara seketika membuang wajahnya.


"Tidak apa-apa." Nando menggelengkan kepalanya seraya menepiskan Senyumnya.


"aku Haus sekali." Ucap Yara seraya memegangi lehernya.


"Kau haus?" Tanya Nando, Yara pun mengangguk mengiyakan.


"Kalau begitu buatlah minuman, sekalian untukku." Perintah Nando, ia juga merasa harus, mengingat ia tadi berlarian mengejar Yara dan saat dikantin kampus pun ia tidak sempat membeli minuman.


"Apa?" Yara mengernyit.


"Kau tidak dengar? cepat buatlah minuman katanya kau haus, sekalian buatkan juga untukku." sahut Nando seraya melebarkan senyumnya.


Yara mendengus kesal. "Aku kira dia akan membelikanku minuman, menyebalkan." gumamnya dalan hati.


"Tidak mau, buatlah saja sendiri." Tolak Yara.


"Kau ini bagaimana, aku kan tamu disini. kenapa kau malah menyuruhku." Ujar Nando. "Sudah cepat sana buatlah, aku sangat haus. gara-gara tadi aku berlarian mengejarmu."


"Siapa suruh kau berlarian, Aku-- "


"Ayolah Yara. kau tega sekali, nanti kalau aku mati kehausan bagaimana?" Nando mengatupkan kedua telapak tangannya.


"Bukan urusanku!" Ucap Yara dengan ketusnya.


"Yasudah biarkan saja aku mati di dalam apartement mu ini."


"Astaga. baiklah aku buatkan minuman untukmu, Sekalian akan aku campurkan racun ke dalam minumanmu, biar kau benar-benar mati." Yara beranjak dari duduknya ia segera melangkah kan kakinya menuju ke dapur.


Nando yang mendengar ucapan Yara hanya terkekeh, rasanya ia senang sekali bisa menggoda Yara. "sikapmu yang seperti itu, membuatku semakin menyukaimu."


Tak berselang lama Yara kembali tanpa membawa apapun ditangannya.


"Mana minumannya?" Tanya Nando seraya melihat tangan Yara yang masih kosong tak membawa apapun.


"Bagaimana bisa membuat minuman, aku saja lupa jika lemari es nya masih kosong." Ucap Yara, ia mendudukan kembali tubuhnya diatas sofa disamping Nando.


Nando hanya menghela nafasnya panjang, tenggorokanya semakin terasa kering.


"Beruntung kau tidak jadi mati hari ini." Ucap Yara.


"Aku jadi tidak bisa mencampurkan racun ke dalam minumanmu." Imbuhnya.


Yara beranjak berdiri kembali. "Tunggu lah disini aku akan membeli minuman sebentar." Ucapnya Tanpa melihat ke arah Nando. Meskipun Yara membenci Nando, tapi yara tetap memperlakukan sebagaimana yang harus ia lakukan, bagaimanpun juga Nando adalah tamu pikirnya.


Yara hendak melangkahkan kakinya keluar, Namun dengan cepat Nando menarik tangan Yara. membuatnya menoleh ke arah Nando. "Apa?"


"Aku ikut." Jawab Nando.


"Terserah."


*****


Setelah lumayan lama Yara dan Nando berkeliling supermarket untuk membeli beberapa bahan makanan minuman. Mereka pun segera kembali ke apartement milik Yara.


Saat telah sampai di apartement, Yara bergegas pergi ke dapur untuk membuat makanan. Nando yang merasa sedikit kelelahan segera mendudukan tubuhnya di atas Sofa.


Yara mulai menyiapkan bahan-bahan makanan yang akan ia masak, Beruntung Yara gadis yang sudah terbiasa dengan pekerjaan rumah. saat masih tinggal dirumah Demian ia kerap seringkali membantu beberapa pekerjaan asisten rumah Tangganya. Demian dan Rosalie pun tak pernah melarang Yara, jadi tidak ada yang perlu di khawatirkan meskipun Yara hanya tinggal seorang diri di apartement, ia bisa mengurus semua kebutuhannya.


Nando Yang sedari tadi tidak bisa berdiam diri ditempat, akhirnya memutuskan untuk menghampiri Yara di dapur.


"Kau membuat masakan apa?" Suara Nando mengagetkan Yara, membuat Yara yang sedang memotong beberapa bahan makanan, tangannya teroges pisau.


Nando segera meraih tangan Yara, yang terlihat mengeluarkan sedikit darah. "tangan mu berdarah, kenapa kau ceroboh sekali."


"Kau megagetkanku!" Seru Yara, ia mendesis. beruntung luka dijari Yara tidak terlalu dalam. sehingga darah yang keluar tidak terlalu banyak.


Seketika Nando menatap manik Yara, ia merasa bersalah. "Maaf..." Ucapnya lirih. "Tunggu disini aku akan mengambil sesuatu untuk mebgobati lukamu."


"Tidak usah Nando, ini hanya luka kecil jangan berlebiha." Ucap Yara.


"Kau ini." Nando bergegas mencari sesuatu untuk mengobati luka Yara.


Tak lama Nando pun kembali menghampiri Yara, ia meraih tangan Yara dan segera mengobati luka tersebut. Manik Yara memperhatikan Nando yang sedang fokus smengobati lukanya.


"Sudah." Ucap Nando.


"Maafkan aku..." Imbuhnya seraya menatap manik Yara.


"tidak apa-apa. kau duduk saja, aku akan menyelesaikan semuanya." Ucap Yara.


Yara hendak kembali Melanjutkan Aktivitas memasaknya, Namun dengan cepat Nando menarik tangan Yara.


"Ada apa?" Tanya Yara.


"Kau membenciku?" Tanya Nando dengan raut wajah yang sulit diartikan.


Yara mengernyitkan dahinya. "Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" Tanya Yara


"Jawab Saja." perintah Nando.


"kau ini sungguh tidak jelas." Yara menggeleng-gelengkan Kepalanya. ia kembali melanjutkan aktivitasnya untuk memasak.


"Yara jawab pertanyaanku." Ucap Nando. Namun Yara hanya diam saja.


"Yara..."


merasa tak mendapatkan jawaban dari Yara, Nando pun seketika membalikan tubuh Yara menghadap ke arahnya. "Jawab aku."


Yara memalingkan Wajahnya dari tatapan manik Nando. "Aku membencimu atau tidak, itu bukan urusanmu!"


"Sudahlah lebih baik kau kembali duduk ditempatmu, jangan mengangguku memasak." Ucap Yara menajamkan maniknya ke arah Nando.


Nando menggelengkan kepalanya. "Tidak mau. kau jawab dulu pertanyaanku."


"Aku sudah Menjawabnya, itu bukan urusanmu!" Ucap Yara penuh penekanan.


"Yara kalau aku mencintaimu bagaimana?"


"Astaga... Apa?"


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Jangan lupa Vote dan LikeπŸ’š