
Jullian Fernando Morell.
Elroy Bryan Assegaf.
Darwin Raymundo Moses.
Nando tengah mengadakan pesta ulang tahunnya di sebuah Club malam yang terbilang sudah populer di kota itu, dan Club malam tersebut tentu saja adalah milik kakak tertuanya.
Di sana terlihat Darwin dan Bryan menemani Nando, laki-laki tersebut memang sengaja hanya mengajak kedua sahabatnya itu, karena Nando tidak suka jika pesta ulang tahunnya di hadiri banyak orang. maka dari itu ia hanya mengajak kedua sahabatnya saja.
laki-laki itu baru saja pulang dari Amsterdam untuk menemui kakeknya yang tiba-tiba memintanya ke sana, Nando sangat menyayangi kakeknya tersebut hingga kapanpun kakeknya merindukan cucu kesayangannya dan memintanya untuk datang, Nando tidak akan keberatan dan langsung terjun ke sana.
"Bagaimana keadaan kakekmu Nando? beliau baik-baik saja kan?" Tanya Darwin.
"Aku kira kakekku sedang sakit maka dari itu aku sangat mengkhawatirkannya, ternyata saat aku sampai disana, beliau bilang hanya merindukanku saja." Nando berdecak, namun bibirnya menampakkan senyuman.
"Benarkah? kakekmu itu sungguh menyayangi dirimu." sahut Bryan.
"Hei kau sangat tau bagaimana kakekku yang menggemaskan itu." Nando tertawa, mengingat kakeknya yang berusia hampir 80 tahun tapi tetap awet muda, dan suka sekali berpenampilan layaknya laki-laki yang barusaja beranjak dewasa.
"Iya, kakek Julio memang keren. bagaimana bisa wajahnya tidak berubah keriput sedikitpun." Tawa Darwin meledak, ia juga masih ingat betul orang tua itu tak berubah menua sedikitpun. bahkan wajahnya masih terlihat kencang dan tampan.
"Apalagi melihat tubuhnya yang masih saja gagah, bugar, dan sangat berotot itu." Seru Bryan.
"Kalian ini suka sekali meledek kakek ku, awas saja jika aku kembali ke Amsterdam, akan ku adukan mulut kalian yang bar-bar ini." Tawa Darwin dan Bryan semakin memecah saat mendengar penuturan dari sahabatnya tersebut, namun tak membuat Nando marah. Mereka memang sering membicarakan kakek Jullio di sela-sela obrolan mereka, orang tua itu selalu membuat para pemuda tersebut kagum akan keawetan muda nya.
"Ayo bersulang." Ucap Nando, seketika tawa Darwin dan Bryan terhenti, mereka mengangguk nengiyakan ucapan sahabatnya tersebut.
Saat Nando hendak meneguk minuman yang ada dalam gelas yang ia pegang, tiba-tiba...
Bukkk....
Pyaarrrr....
Suara gelas yang pacah bersamaan dengan Seorang gadis yang tiba-tiba menabrak tubuh Nando.
Gadis itu tergeletak dibawah lantai, rasa pusing menghantam kepalanya. matanya terasa sangat buram tidak dapat melihat di sekitar dengan jelas.
"Hei, kau tidak apa-apa Nona?" Nando membantu gadis itu beranjak berdiri, Gadis itu tak bisa menopang tubuhnya hingga membuatnya akan kembali terjatuh, tapi kedua tangan Nando menahannya, Bahkan rambut gadis itu terlihat acak-acakan menutupi seluruh wajahnya.
"Maaf Tuan aku tidak sengaja. Maafkan aku!" Gadis tersebut mencoba untuk menahan tubuhnya sendiri, ia menjauhkan kedua tangan Nando dari tubuhnya.
Nando pun segera menjauhkan tangannya, Gadis tersebut merapikan rambut yang menutupi wajahnya, hingga kini Nando bisa melihat dengan jelas wajah cantik nan polos dari gadis itu. Ya gadis tersebut tak lain ialah Yara.
Yara mengatup kan kedua telapak tangannya. "Maaf Tuan, maaf, aku benar-benar tidak sengaja. aku akan mengganti minumanmu yang sudah ku tumpahkan."
Nando tak bergeming, wajah polos itu berhasil membuat jantung nya berdetak tidak beraturan, Nando menatap lekat wajah Yara sesaat seperti menghipnotisnya. sungguh mahakarya yang menyejukkan hati.
Darwin dan Bryan lebih mendekat ke arah sahabat dan gadis yang telah membuat kekacauan disana, hingga membuat seluruh orang yang berada di sana mengalihkan pandangan kepada mereka.
"kau punya mata tidak!" Bentak Bryan yang seketika mendorong bahu Yara sedikit keras hingga membuat tubuh Yara sedikit oleng, namun dengan cepat kedua tangan Nando menopangnya kembali
"Sudahlah Bryan! dia sedang mabuk!" Bentak Nando kepada Bryan. namun Bryan tak menggubris ucapan Nando, ia malah menatap Yara dengan tatapan tajam.
"Kau baik-baik saja Nona?" Tanya Nando, Yara kembali menjauhkan tubuhnya dari laki-laki itu.
Manik Nando menyorot penampilan Yara dari ujung kaki hingga kepala. "Sungguh gadis yang sederhana." Gumamnya dalam hati. Dari cara berpenampilan Yara membuat Nando sangat kagum, bayangkan gadis itu datang ke Club namun tak mengenakan pakaian yang bisa di bilang minim bahan. Seketika Nando menarik sudut bibirnya.
"Nona sebaiknya kau bersihkan bajumu." Nando melirik baju yang Yara kenakan terkena tumpahan dari minuman miliknya.
Yara mengangguk. "Sekali lagi maafkan aku Tuan." Ia bergegas berjalan menjauh dari jangkauan Nando, tanpa mendengar apa yang akan Nando ucapkan lagi. dengan langkah gontai ia berjalan menjangkau toilet yang berjarak tidak jauh dari jangkauannya.
Manik Nando tak lepas memperhatikan langkah Gadis yang membuat jantung dan hatinya berpacu secara bersamaan tersebut.
"Kau kenapa?" Darwin menepuk pelan bahu Nando.
"tidak apa-apa. Ayo kita lanjutkan lagi." Ajak Nando kepada Bryan dan Darwin, ia memanggil salah satu pelayan agar segera membersihkan serpihan gelas yang masih berserakan di lantai, pelayan itu segera menjalankan perintah dari adik pemilik Club malam tersebut.
"Ada apa denganmu?" Bryan menatap Nando seolah tak percaya, pikirnya tidak biasanya sahabatnya itu bersikap baik kepada wanita.
"ada apa memangnya?" Tanya Nando kembali.
"Tidak biasa nya kau bersikap lembut kepada wanita, kau mengenal gadis itu?"
Nando menggelengkan kepalanya.
"Hah! Aneh sekali." Bryan mendengus, namun tak mengubah pandangannya kepada Nando.
Nando tak menggubris ucapan dari Bryan, pikirannya masih di sibukan akan gadis yang membuat hatinya merasakan keanehan, apalagi jika mengingat wajah Yara yang sangat polos namun cantik itu
"Kau mau kemana?" tanya Darwin, Saat melihat Nando yang tiba-tiba beranjak dari duduknya
"Ke toilet, kenapa? kau mau ikut?"
Darwin menggelengkan kepalanya dengan cepat, ia menangkap ke anehan di raut wajah Nando. sahabatnya itu seperti sedang ada yang pikirkan, Darwin hendak bertanya namun ia urungkan tatkala Nando yang sudah sedikit menjauh dari jangkauannya.
*****
Sebelum Yara ke Apartement milik kakeknya, Yara menghentikan laju nya tepat di depan sebuah Club malam. sebenarnya hatinya menolak untuk kesana, namun entah mengapa di saat keaadan yang membuat pikirannya kacau membawanya kesana.
Ia mengingat bagaimana pertikaian antara kedua orang tuanya selalu terjadi, bahkan hal yang menakutkan selalu terlihat jelas di matanya. setiap siksaan yang diberikan oleh Demian kepada Rosalie memenuhi pikirannya, hingga akhirnya ia bertekad untuk masuk ke dalam Club tersebut. di saat hanya tersisa beberapa langkah saja ia sudah bisa menjangkau pintu Club itu, tiba-tiba rasa ketakutan menyelimuti dirinya. ia takut sewaktu-waktu ada pria jahat yang bisa saja menggodanya. Namun di sisi lain perasaan kalut akan kedua orang tua nya selalu terbayang.
"Aku tidak peduli, bahkan aku sudah hancur saat ini." Gumamnya dalam hati. langkahnya semakin mendekat ke arah pintu tersebut, Yara membukanya dengan perlahan. ia masuk tanpa memperdulikan beberapa pria yang mencoba menggoda dirinya.
***
Kini Yara sedang duduk dibangku yang Ada didalam toilet tersebut. Yara menatap kosong ke sembarang arah. Ia merasa tubuhnya lemas. Yara mencoba menyenderkan bahunya ke dinding toilet. ia melihat ke semua arah, merasa semua yang ia lihat menjadi berputar-putar. Yara merasa sakit pada kepalanya. Hingga sepersekian detik Yara sudah terbaring tidak sadarkan diri di atas bangku tersebut.
Sepasang mata memperhatikan gerak gerik Yara, saat melihat Yara menjatuhkan bahunya tepat di bangku tersebut Nando setengah berlari menuju ke arah Yara.
"Nona..." Ucap Nando sembari mengoyang-goyangkan tubuh Yara.
.
.
.
.
.
🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻