My Strange Wife

My Strange Wife
MSPL #48



Nando Menatap Yara yang menghilang dibalik pintu dengan Mata yang berkaca-kaca, ia menjatuhkan tubuhnya begitu saja dilantai.


"kenapa kau harus berbohong." Ucapnya dalam hati, Nando bangkit dari duduknya, ia mengepalkan kedua tangannya, hingga sepersekian detik kedua punggung telapak tangannya terluka lumayan parah, bahkan sampai mengeluarkan darah. Ia menghantamkan kedua tangannya ke tembok dengan sangat keras.


Rasa sakit akibat luka yang ada di kedua tangannya tidak sebanding dengan rasa sakit yang ada di dalam hatinya, menerima kenyataan bahwa gadis yang sangat ia cintai membohongi dirinya sendiri, menyangkal rasa cinta yang yang ia rasakan.


Nando memutuskan untuk pergi dari sana, ia tidak ingin melihat wajah Yara, yang nantinya akan membuat hatinya lebih sakit daripada ini.


Nando mempercepat langkah kakinya keluar dari dalam gedung tersebut, ia menuju ke arah mobil miliknya yang terparkir di sana, segera ia masuk ke dalam mobil tersebut lalu mengemudikannya dengan kecepatan tinggi. ia bahkan tak memperdulikan nyawanya sendiri, beberapa kendaraan yang ada di depannya ia salip begitu saja, membuat pengendara lain geram akan tingkah Nando yang sangat ugal-ugalan.


***


Yara menghampiri teman-temannya yang berada di ruang tamu apartement miliknya, terlihat teman-temannya sedang asyik menonton televisi sembari bercanda tertawa bersama. Yara mendudukan tubuhnya di atas Sofa tepat di samping Alesya.


ia tak menghiraukan teman yang lain bergurau, pikirannya masih di penuhi oleh Nando. sesekali ia melirik ke arah pintu, namun yang di maksudkannya tidak juga masuk ke dalam.


Rasa menyesal terlintas dalam benaknya, Yara merasa bahwa dirinya mungkin sudah keterlaluan kepada Nando. Hanya masalah seperti itu saja ia membuat keputusan yang sangat tidak adil untuk Nando.


Yara terlalu egois mementingkan dirinya sendiri, ia membohongi perasaannya sendiri mengorbankan dua hati untuk saling menyakiti. Terlalu takut karena rasa trauma yang menimpahnya. membuat ia terlalu overprotektif kepada dirinya sendiri. bahkan meragukan Nando yang benar-benar tulus mencintainya.


"Yara..." Panggil Alesya seraya menggoyang-goyangkan bahu Yara.


"iya?" jawab Yara.


"kenapa kau melamun? dan kemana Nando? kenapa tidak ikut masuk bersamamu?" Pertanyaan beruntun terlontar dari mulut Alesya.


"Ehm... ti-tidak apa-apa."


"Na-Nando, mungkin sepertinya dia sedang Ada urusan maka dari itu dia tidak ikut masuk." Ucapnya terbata.


Membuat Alesya mengernyitkan dahinya, ia tau betul jika Yara sudah bersikap seperti ini. itu artinya temannya itu sedang menyembunyikan sesuatu atau mungkin sedang mempunyai masalah yang enggan untuk ia ceritakan.


"Kau tidak sedang bertengkar dengannya kan?" Tanya Alesya, menatap manik Yara dengan seksama.


Seketika Yara mengarahkan pandangannya kepada Darwin dan Bryan yang kebetulan juga menatap ke arahnya. pikir Yara Darwin dan Bryan sempat melihat perdebatan antara dirinya dan Nando, mengingat kedua pria itu berada di sana. Namun tidak demikian, Darwin dan Bryan tidak mendengar perdebatan mereka berdua.


Yara mengalihkan pandangannya kembali kepada Alesya. "Tidak." Ucapnya menggelengkan kepalanya, lalu menepiskan senyuman.


"Benar?" Tanya Alesya ingin meyakinkan kembali, Yara hanya menganggukan kepalanya.


***


Taman tersebut terlihat sangat sepi, tidak ada satu pun pengunjung di sana.


Nando turun dari dalam mobil, ia melangkahkan kakinya ke arah kursi besi yang terlihat sudah berkarat, warna cat pada kursi tersebut sudah pudar.


Taman tersebut adalah tempat yang sangat Nando sukai walaupun tidak seperti dulu yang masih ada beberapa pengunjung mendatangi tempat tersebut, namun sekarang sudah berbeda taman itu sudah tidak di operasikan kembali. Entah apa yang membuat taman itu menjadi mati seperti ini.


Manik Nando menatap sekeliling, tidak ada yang berubah dari tempat itu, hanya saja banyak rumput-rumput liar yang tumbuh begitu saja, pohon di sekeliling sudah tampak sangat rimbun, bunga yang dulunya tumbuh dengan indahnya kini menjadi layu dan kering seperti hati nya Saat ini. meskipun tempat tersebut terlihat buruk di mata orang lain, namun tidak di mata Nando, entah rasanya malah semakin Nyaman dan tenang berada disana tanpa ada manusia satu pun yang terlihat kecuali dirinya.


"Dulu aku kemari dengan orang yang aku cintai."


"Dulu juga, aku kemari Saat seseorang yang sangat aku cintai itu telah mematahkan hati ku dan pergi Dari ku begitu saja."


"Sekarang aku kemari lagi. Dengan suasana dan waktu yang berbeda, rasa cinta yang sama, namun berbeda seseorang, tapi patah hati kembali."


"belum sempat aku membawanya kemari tapi dia mematahkan hati ku terlebih dahulu."


Nando memejamkan maniknya, ia menyender pada punggung kursi tersebut.


Pikiran akan gadis masa lalunya dan Yara kini menyerang begitu saja, sungguh pahit takdir yang menimpahnya, rasa cinta yang tulus ia berikan kepada orang terkasihnya tidak pernah terbalaskan.


Saat ia telah patah hati kepada gadis masa lalunya, saat itu juga ia tidak pernah menoleh sedikit pun kepada gadis lain. bahkan sudah banyak wanita yang mencoba mendekatinya, tapi tak pernah sedikit pun hati Nando tersentuh. tapi saat bertemu dengan Yara, ia merasa bahwa hati yang dulunya sudah tertutup rapat untuk siapa pun, mati karena di tinggal oleh pemiliknya, kini merasa bangkit dan terbuka kembali. hanya dengan satu kali pertemuan, Yara mampu membuat Nando jatuh cinta kepadanya, membuat hati Nando terasa bergejolak.


.


.


.


.


.


πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»πŸ™πŸ»


Jangan lupa Vote dan LikeπŸ’š