My Strange Wife

My Strange Wife
Lama-lama Bisa Gila #13



Perbincangan yang terbilang serius melibatkan dua orang laki-laki paruh baya itu seketika terhenti. Demian menatap putri semata wayangnya itu berjalan semakin mendekat ke arahnya.


Yara menyunggingkan senyumnya dan sejenak menundukan kepalanya, ia menyapa hormat laki-laki paruh baya yang ada di hadapannya tersebut, laki-laki tersebut tak lain adalah Marc sahabat Demian semasa SMA dahulu.


Marc bangkit dari duduknya, ia menatap lekat-lekat wajah gadis yang ada di hadapannya itu, rasa teduh dalam hati Marc saat menatap kedua manik gadis tersebut.


"Selamat pagi paman." Yara menyapa Marc dengan nada suara yang lembut dan anggun.


"Selamat pagi." Marc membalas ucapan Yara dengan senyum yang tak kalah ramah.


pandangan Marc tak lepas akan raut wajah Yara, maniknya sedikit tergerak menjelajah setiap inci dari paras gadis itu. Bola mata Yara yang sedikit besar, bulu mata lentik, hingga bibirnya yang sedikit tebal mengingatkan dirinya pada Rosalie, raut wajah Yara memang sangat mirip dengan Rosalie saat masih berusia sama seperti Yara.


"Aku sudah menduganya Demian, putrimu ini akan tumbuh menjadi gadis yang sangat Cantik. dia tidak ada bedanya dengan Rosalie " pujian itu lolos dari mulut Marc sesaat sebelum dirinya mengalihkan pandangan ke pada Demian. tentu ucapan itu membuat Yara tertunduk malu.


Demian menyunggingkan senyumnya. "Tentu saja, putriku tidak hanya Cantik. Dia juga sangat berprestasi." Ucapnya dengan Bangga. Ya tentu saja Kecerdasan Demian lah yang menurun pada anak gadisnya tersebut.


"Benarkah?" Tanya Marc sedikit terkejut namun bersikap seadanya, ia juga harus mengakui bahwa itu tidak lain adalah salah satu kelebihan Demian yang menurun kepada putrinya.


Marc mengajak Yara untuk duduk di sampingnya. obrolan Yara dengan dua laki-laki paruh baya itu tak berlangsung lama di karenakan Yara yang harus berpamitan untuk pergi berkuliah.


***


Yara terlihat baru saja sampai di depan Kampus tempat dirinya berkuliah, mobil yang ia kendarai ia lajukan ke halaman parkir. setelah memarkirkan mobilnya, gadis itu turun dan bergegas melangkah masuk ke dalam kampus tersebut, manik Yara mengarah pada dua gadis yang duduk saling bersampingan, seperti biasa Kedua sahabatnya itu terlihat sudah menunggu kedatangannya.


Alesya mengarahkan pandangannya pada seseorang yang baru saja terhenti di hadapan mereka. namun tidak dengan Vallencia, gadis itu masih memfokuskan pandangannya ke depan.


manik Alesya melirik jarum jam yang melingkar sempurna pada pergelangan tangannya. "Tidak biasanya sekali kau datang hampir terlambat." Ucap Alesya yang beranjak dari duduknya.


"Maaf tadi ada sahabat papa yang berkunjung di rumah, aku mengobrol sebentar dengannya." Ucap Yara yang langsung mendapat anggukan dari Alesya.


"Oh..."


"Yasudah, ayo kita masuk jangan sampai terlambat." Ajak Yara ia melingkarkan salah satu tangannya pada lengan Alesya, jika menyangkut tetang pendidikan semangat Yara selalu meluap-luap. Ya, tentu saja karena dia adalah salah satu Mahasiswi yang sangat cerdas dan berprestasi di Kampus tersebut.


Alesya tak kalah semangat, kedua gadis itu hendak melangkahkan kakinya bermaksut untuk segera masuk ke dalam kelas pembelajaran, namun sesuatu mengurungkan niatnya.


Manik mata Yara dan Alesya berpusat pada salah satu sahabatnya yang sedari tadi tak bergerak sedikitpun, tatapannya pun menghadap lurus kedepan sedang melamunkan sesuatu, entah apa yang membuatnya berdiam diri layaknya patung membuat Yara dan Alesya bersamaan mengerutkan keningnya.


"Vallen..." Yara sedikit mengguncang lengan tangan sahabatnya itu, seketika Vallen tersadar akan lamunannya.


"iya?"


"kau kenapa?" Tanya Yara keningnya semakin mengerut, pikirannya penuh dengan tanda tanya. begitupun dengan Alesya.


Vallencia hanya menggelengkan kepalanya. "tidak apa-apa. ayo." gadis itu segera beranjak dari duduknya.


"apa ada yang mengganggu pikiranmu?" Tanya Alesya berusaha membaca raut wajah dari sahabatnya tersebut.


ketiga gadis itupun segera melanjutkan langkahnya untuk masuk ke dalam kelas pembelajaran.


"Tidak."


Vallen menghembuskan nafasnya perlahan. bibirnya sedikit tergerak untuk mengucapkan sesuatu, namun seketika ia mengurungkan niatnya.


***


Nando tengah duduk di kursi sembari menikmati kopi yang baru saja ia sesap, laki-laki itu tengah berada di dalam Coffe Shop yang letaknya tak jauh dari Kampus tempat ia berkuliah.


tak berselang lama kedua sahabatnya datang dan menghampiri Nando yang duduk di sudut ruangan, Bryan dan Darwin segera mendudukan tubuhnya di kursi yang sudah tertata di sana.


Setengah jam yang lalu, Nando mengirimkan pesan singkat kepada Darwin memberitahukan bahwa hari ini ia sedang tidak berminat untuk masuk kuliah, Nando juga memberitahu bahwa ia sedang berada di Coffe shop yang dekat dengan kampus mereka. tentu saja itu membuat Darwin bertanya-tanya karena tidak biasanya sekali sahabatnya itu membolos seperti ini. Darwin yang kebetulan baru saja sampai di depan Kampus, seketika mengurungkan niatnya untuk melajukan mobil yang ia kendarai masuk ke halaman parkir kampus tersebut. sesaat setelah ia mengirimkan pesan singkat kepada Bryan, Darwin segera memutar arah kemudinya memilih untuk menghampiri Nando yang berada di coffe shop.


"Ada apa? tidak biasanya sekali kau membolos." sama halnya dengan Darwin, Bryan juga bertanya-tanya perihal Nando yang tiba-tiba saja memutuskan untuk tidak berkuliah hari ini.


"Entahlah pikiran ku sedang kacau hari ini." Ucap Nando, entah apa yang mengganggu pikiran laki-laki itu, dirinya sendiri saja juga tidak tau.


"Kau sedang ada masalah?" tanya Darwin.


Nando hanya menggelengkan kepalanya tanpa mengeluarkan satu kata pun dari dalam mulutnya. laki-laki itu membuang pandangan pada sembarang arah.


Darwin mengerutkan keningnya, masih merasakan keanehan, terlihat dari raut wajah Nando yang sedari tadi hanya datar tak mengubah ekspresinya. Darwin pun memilih diam dan segera mengurungkan niatnya untuk bertanya kembali kepada Nando.


Sejenak keheningan membungkam mulut masing-masing, Darwin dan Bryan menyesap kopi yang baru saja di antarkan oleh pelayan sesaat setelah keduanya memesan pesanan yang mereka inginkan.


"Bagaimana kalau nanti sore kita bermain basket?" Ucap Bryan maniknya bergantian menatap kedua sahabatnya yang duduk tepat di hadapannya.


"Biasanya juga seperti itu." Timpal Darwin, sedikit meninggikan nada suaranya, merasa sedikit kesal kepada sahabatnya itu, sungguh konyol pertanyaan macam apa yang baru saja Bryan ucapakan itu, pikir Darwin sahabatnya itu memang benar-benar bodoh.


"Nando..." panggil Bryan yang seketika membuat Nando mengarahkan pandangan kepadanya


"Terserah..." Ucapnya singkat. pikiran laki-laki itu masih melayang kemana-mana, seperti ada yang menganggunya. Tapi kedua telinganya masih berfungsi dengan baik, dirinya pun masih bisa menangkap pembicaraan kedua sahabatnya tersebut.


"tapi carilah tempat yang lain, lama-lama aku bisa gila jika setiap hari melihat mereka." lanjutnya kemudian dengan raut wajah yang menahan kesal. Ya, siapa lagi mereka jika bukan segerombolan gadis yang selalu hadir di bangku penonton dengan suara bisingnya berteriak memanggil namanya.


Bryan terkekeh. "Kau tenang saja, aku sudah menyewa lapangan basket di tempat lain." pikirannya mencerna apa yang di ucapkan oleh Nando.


"Baiklah."


"Oh iya, aku juga berniat mengajak Vallen menemaniku nanti. bagaimana menurut kalian?"


.


.


.


.


.


.